Tentang Program

Untuk periode program 2020-2021, kami akan memberi dukungan bagi proyek kolaborasi online antara Asia Tenggara dan Inggris. Dana hibah (grant) tersedia untuk lima negara di Asia Tenggara 2020: Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Connections Through Culture (CTC) adalah program hibah yang diselenggarakan oleh British Council di Inggris dan Asia Timur. Program ini pertama kali diselenggarakan pada bulan Agustus 2019 di Asia Tenggara dengan menyediakan dana hibah bagi penduduk Inggris, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand, dan Vietnam yang memenuhi kriteria berikut:

  • Seniman
  • Praktisi seni dan budaya
  • Perwakilan kolektif, jaringan, serta organisasi yang bergerak di bidang seni

Program ini awalnya dibuat untuk melanjutkan diskusi tatap muka yang diperlukan agar kolaborasi-kolaborasi yang berawal dari ekspresi minat, dapat berkembang lebih jauh. Program ini dibentuk sebagai perluasan program CTC yang sudah berjalan di Cina sejak tahun 2006. 

Pada bulan Oktober 2020, kami akan membuka kembali aplikasi Connections Through Culture Online Grants, untuk proyek yang akan diselenggarakan dan diselesaikan pada periode Januari sampai Juni 2021. 

Tujuan utama dari program ini adalah untuk mendukung pertukaran dan kolaborasi antara Inggris dan Asia Tenggara. Sebelum Covid-19, kemungkinan besar program ini akan melibatkan perjalanan internasional. Tetapi, dengan pembatasan dan ketidakpastian perjalanan, hibah CTC ini akan digunakan untuk mengembangkan dan memperkuat baik hubungan baru maupun yang sudah terjalin – antara Inggris dan Asia Tenggara, dengan menyediakan pendanaan yang dapat memfasilitasi percakapan dapat terjadi dan terus berlanjut, serta eksplorasi kolaborasi yang diakukan secara online. 

Dengan merayakan keragaman ekspresi budaya di kedua wilayah, program ini menawarkan dukungan, informasi, masukkan, dan kesempatan berjejaring untuk pengembangan profesional. Diharapkan para penerima hibah dari Inggris dan negara-negara di Asia Tenggara dapat menuai manfaat dari inspirasi yang diperoleh atas pertukaran ide serta bersama-sama memaknai sejarah kebudayaan. 

Kami secara khusus mengundang kolaborasi yang memiliki fokus pada gender, ras, etnis, disabilitas, inklusi, ageing, dan area lainnya yang berkaitan dengan keragaman. 

Kapan tenggat waktunya?

Aplikasi ditutup pada 8 November 2020.

Bagaimana cara mendaftar?

Dengan membaca petunjuk dan mendaftar melalui situs pendaftaran.

Berapa nominal untuk masing-masing dana hibah?

Untuk individu seniman atau praktisi atau, untuk organisasi kebudayaan atau kolektif yang tinggal di Inggris atau di lima negara (Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam) di Asia Tenggara yang dilibatkan dalam program ini: £2,500 sampai £7,500

Apa saja yang didukung oleh dana hibah ini?

  • Waktu. Waktu yang diperlukan oleh kandidat dari Inggris dan Asia Tenggara dalam inisiasi kerja sama untuk menjalankan proyek jejaring secara virtual baru serta proyek seni dan kebudayaan baru melalui perbincangan maupun platform
    - Residensi seni digital atau online
    - Pameran atau pertunjukan digital maupun online
    - Konferensi maupun webinar secara digital maupun online
    - Pengarsipan atau riset seni secara online maupun digital
    Toolkit online maupun digital
  •  Tatap muka, versi publik dari kegiatan yang disebutkan di atas untuk diselenggarakan di negara asal anda (dengan menerapkan ketentuan petunjuk kesehatan lokal yang berlaku).

  • 70% dari hibah merupakan biaya artistik, dan harus dibagi secara merata antara kandidat dari Asia Tenggara, baik organisasi maupun kolektif, dan kandidat dari Inggris, baik organisasi maupun kolektif. 
  • Sebanyak 30% dari keseluruhan dana dapat digunakan sebagai per diem bagi mereka yang akan mendukung proyek anda (contoh, apabila anda memerlukan desainer grafis), software (contoh, akun zoom), atau biaya perjalanan lokal dan biaya akomodasi yang mungkin diperlukan. Mengenai perjalanan lokal melalui udara, kami menganjurkan kolaborasi secara digital/online, jadi, apabila anda merencanakan adanya perjalanan udara lokal, mohon jelaskan mengapa hal ini sangat esensial bagi aplikasi anda. Pada aplikasi pendaftaran anda, sangat penting untuk memperjelas bagaimana dana 30% ini akan digunakan. 

Siapa saja yang TIDAK didukung oleh hibah ini?

 

  • Perjalanan dan akomodasi internasional (lintas negara).
  • Bukan untuk institusi akademis
  • Bukan untuk badan pemberi dana
  • Bukan untuk warga negara Asia Tenggara yang tinggal di luar lima negara yang disebutkan di program ini.
  • Bukan untuk individu warga negara Inggris yang tinggal di luar Inggris, kecuali sedang tinggal sementara di luar Inggris tetapi masih berdomisili di Inggris dan merupakan bagian dari "penduduk Inggris" sebagaimana didefinisikan oleh Her Majesty's Revenue & Customs untuk perpajakan – lebih lanjut di sini.

Connections Through Culture UK-Southeast Asia Online Collaboration Grantees, 2020-2021:

Indonesia

Grantee Counterpart/s Project
Jogja Disability Arts: Butong Idar (Yogyakarta) Disability Murals (UK Disabled Peoples Council) (Bristol) Netas / Incubate' Disability Murals Project 2021: Collaborative murals (one in Indonesia and another in UK), with video and book to document conceptualisation, process and exchanges. 
Corali Dance Company: Sarah Archdeacon (Jakarta/Bandung) GIGI Art of Dance (Brighton) Digital Dance Toolkit Development: Design and test a digital dance toolkit based on Corali’s artistic methodologies to be made accessible publicly.
Edward Riman (UK) Ninda Felina (ID) & Prabumi (ID) Digital Music Collaboration: Recording sounds from sites threatened by climate change. 
Makassar Writers Festival: Lily Yulianti Farid (ID) Literature Across Frontiers (UK Storytelling project for d/Deaf writers, with support from Disability Arts Cymru (UK)
Flatpack Projects: Ian Francis (Birmingham) Sahabat Seni Nusantara (Jakarta) Urban Legends: Film festival exchange on the horror genre highlighting diverse voices of Islam and LGBTQ
Emma Frankland (Brighton) Tamarra (Yogyakarta) Trans Performance Exchange - From My Land to Your Land: Six month dialogue with six performance pieces created over digital platforms, links to land, river and oceans, and drawing on trans communities
Impermanence: Joshua Ben-Tovim and Roseanna Anderson (London) Studio Hanafi: Heru Joni Putra and Irfan Setiawan (Jakarta) Online art residency examining the theme of 'arrival' based on three epic poems/writings by historical Indonesian poets about Raffles. Geological links between UK-ID, highlighting impact of mining and extraction industry
Cryptic UK: Robbie Thomson (Scotland) WAFT Lab (Surabaya) Megalithic Transportation International - digital residency between four artists from Cryptic (UK) and WAFT Lab (ID) using megalithic sites to explore ideas of community, technology and communication
No Bounds Festival: Liam O'Shea (Sheffield) Yesnowave (ID) Online residencies and Ccllaboration between artists Nkisi (UK) and Gabber Modus Operandi (ID); decolonialisation of music / global south club movement
Zoo Co Creative Ltd: Florence O'Mahoney (London) Komunitas Sakatoya: Basundara Murba Anggana (Jakarta) CareCrisis enables two theatre companies to test a new digital performance format, with live performers from Sakatoya, and live, projected performances by Zoo Co. Explorating ecology, nature and care of older people. Short film of the digital rehearsal residency footage.
Bagong Kussudiardja Foundation: Jeannie Park (Yogyakarta) The Paper Birds (Leeds) The School of Hope': An online artistic global citizenship project led by UK theatre company The Paper Birds and hosted by PSBK art centre in Yogyakarta; using arts to engage Young Indonesians and artists in the concept of “empathy”.
Intersastra: Gaia Khairina (Jakarta) Khairani Barokka (London) Writing and performance workshops for transwomen in Indonesia and the UK, resulting in a digital library of short stories and filmed performances based on the storiesamplify and celebrate transwomen’s voices, and subvert tropes of representation by having transwomen define the creative bodymind in physical and digital spaces. We will hold 2 public Zoom discussions to nurture intersectional solidarity between the two countries.
Ballet ID: Mariska Febriyani (Jakarta) Marc Brew Company: Marc Robert Brew (London) DANCE DIALOGUE: Digital art residency between artists, exploring the concept of space and restrictions.