- Date
- 14 March 2018 - 15:53
Anthony Evans dari Epic Fest: “Masa depan kesenian disabilitas di Indonesia sangatlah seru”
Blog
Berbasis di Kamboja dan tercatat sebagai yayasan di UK, Epic Arts memanfaatkan kesenian sebagai bentuk ekspresi dan pemberdayaan untuk membawa difabel dan non-difabel hidup berdamping
British Council bakal menggelar UK/Indonesia (UK/ID) Festival untuk ketiga kalinya pada 2018. Yang membuat istimewa, fokus utama acara kali ini diarahkan kepada kesenian dan disabilitas
Pada September 2017 lalu, British Council mengadakan diskusi meja bundar soal kesetaraan hidup difabel.
Dalam rangka menyambut Asian Para Games 2018 di Jakarta, British Council menggelar diskusi meja bundar soal peran seni, kreativitas, dan olah raga.
British Council berbincang dengan Annisa Rahmania, penari disabilitas (tuli), tentang pandangannya terhadap seni disabilitas di Indonesia.
Invisible Flock adalah studio seni interaktif dari Leeds dan berada di Indonesia untuk sebuah karya kolaborasi bersama Digital Nativ
Digital Nativ adalah studio fabrikasi digital dan penghasil prototipe yang cepat asal Jakarta. Digital Nativ menjelajahi Jawa dan Flores untuk sebuah karya kolaborasi bersama Invisible Flock
Salah satu prioritas program kesenian British Council adalah kesenian disabilitas: menghubungkan suara-suara yang tidak terdengar agar tercipta inklusi sosial melalui seni.
Abandon Normal Devices (AND) adalah katalisator bagi pendekatan-pendekatan baru dalam mencipta seni dan penemuan digital. Ikbal Simamora Lubys dari Yogyakarta turut pamerkan karyanya di sana