By Karina Langit Rinesti, Editor dan Penerjemah

27 July 2026 - 17:00

Peserta memetakan ide dan pengalaman melalui aktivitas workshop, mengubah refleksi personal tentang krisis iklim menjadi wawasan bersama. © 2025 British Council/MIWF/LAF

Darurat iklim sering digambarkan hanya dalam jargon dan statistik, seperti peningkatan suhu global atau angka emisi karbon. Namun bagi banyak orang, dampaknya bisa sangat personal. Untuk mengeksplorasi dimensi manusia dari krisis iklim, Makassar International Writers Festival (MIWF) dan Literature Across Frontiers (LAF) berkolaborasi dalam Voicing the Climate Emergency. Proyek ini bertujuan untuk mempertemukan beragam suara dalam rangka merayakan ketangguhan perempuan dalam menghadapi tantangan lingkungan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dampak krisis iklim justru banyak dirasakan oleh perempuan. Mulai dari kelangkaan air dan meningkatnya risiko keguguran, hingga perpindahan tempat tinggal akibat konflik keterbatasan sumber daya, perempuan sering menjadi saksi terjadinya perubahan lingkungan. Bukan hanya sekadar menjadi korban, perempuan juga memiliki pengetahuan, perspektif, dan solusi yang unik. Proyek ini menjembatani kearifan lokal masyarakat adat Kaluppini di Sulawesi Selatan dengan pengalaman para pengungsi wanita di Swansea, Wales melalui pendokumentasian.

Kisah dari Wales: Menemukan Suara di Tanah Baru

Di Wales, proyek ini berlangsung bersama Swansea Women’s Refugee and Asylum Support Group. Para peserta berasal dari berbagai negara, termasuk Sri Lanka, Kenya, Suriah, El Salvador, Arab Saudi, Mesir, Nigeria, Kurdistan Irak, dan Zambia.

Kegiatan ini difasilitasi oleh penyair dan performer Rufus Mufasa bersama pelatih penulisan kreatif Jeni Williams, dan didokumentasikan oleh fotografer Saba Humayun. Bersama-sama, mereka mengadakan serangkaian lokakarya hibrida membahas perubahan iklim sebagai salah satu pemicu utama penggusuran dan migrasi. Para peserta juga diajak terhubung kembali dengan teman dan keluarga di negara asal menggunakan cerita dan gambar untuk menjembatani masa lalu dan masa kini.

Mufasa lantas merangkai cerita-cerita para peserta menjadi sebuah puisi panjang yang mewakili suara kolektif mereka. Puisi ini kemudian diadaptasi menjadi video puisi yang menggabungkan gambar-gambar dari para perempuan dengan penampilan Mufasa, dan akhirnya diterjemahkan ke dalam bahasa Welsh.

Dalam puncak acara proyek di Waterfront Museum, Swansea, lima perempuan berbagi pengalaman mereka di depan publik tentang penggusuran yang dipicu oleh konflik dan perubahan iklim. Di tengah situasi dimana isu migrasi kerap menjadi topik perdebatan politik yang memecah belah, kisah-kisah ini menghadirkan perspektif yang berbeda. Selain menunjukkan kontribusi positif mereka, para migran turut meningkatkan kesadaran publik akan dampak krisis iklim global .

Apotek Hidup dari Kaluppini

Sementara di Indonesia, tim MIWF berkolaborasi dengan Komunitas Adat Kaluppini di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Fokus kegiatannya yaitu melihat langsung dampak perubahan iklim terhadap perempuan dan generasi muda di komunitas adat. Di sini, penulis Taufik Syahrandy menggandeng Komunitas Budaya Sapulo Tallu untuk mengidentifikasi isu paling relevan bagi desa kelahirannya tersebut.

Perjalanan rupanya membawa Taufik melihat kondisi halaman rumah. Pasalnya, krisis iklim di Kaluppini bukanlah konsep abstrak yang hanya dibahas dalam konferensi internasional. Krisis ini nyata pada tanaman tertentu yang tak lagi tumbuh, atau musim panen yang waktunya tak menentu.

Sementara itu, perempuan adat Kaluppini memiliki pengetahuan penting tentang makanan dan obat-obatan alami. Inilah “apotek hidup” pendukung kehidupan sehari-hari yang sayangnya kerap belum dianggap ilmiah. Untuk menjaga pengetahuan penting yang mulai memudar ini, proyek Voicing the Climate Emergency mengadakan kegiatan pemetaan lintas generasi yang dipimpin para tokoh perempuan setempat, Bu Hayati, Mama Maman, dan Mama Nabila.

Terbagi dalam tiga kelompok, para peserta mengamati berbagai tanaman yang tumbuh di sepanjang jalan desa serta di pekarangan rumah warga di dusun Palli dan Tana Doko. Anak-anak sangat antusias mencari tahu apakah tanaman tertentu dapat dimakan atau digunakan sebagai obat. Dalam satu hari saja, para lansia, pemuda, dan anak-anak berhasil mengumpulkan hampir lima puluh jenis daun yang dapat digunakan sebagai bahan makanan maupun obat tradisional beragam penyakit.

Aktivitas workshop lintas generasi dalam mendokumentasikan tanaman lokal, di mana perempuan adat dan generasi muda memetakan pengetahuan tentang pangan dan pengobatan tradisional. © 2025 British Council/MIWF/LAF
Aktivitas workshop lintas generasi dalam mendokumentasikan tanaman lokal, di mana perempuan adat dan generasi muda memetakan pengetahuan tentang pangan dan pengobatan tradisional. © 2025 British Council/MIWF/LAF
Sesi workshop yang mempertemukan para peserta untuk berbagi cerita, bertukar perspektif, dan membangun suara kolektif tentang krisis iklim dan perpindahan. © 2025 British Council/MIWF/LAF

Memaknai Waktu dan Alam

Proyek ini juga menyoroti perbedaan cara pandang antara kehidupan urban dan pedesaan dalam memahami waktu dan krisis. Pada satu momen lokakarya di desa, seorang peserta tiba-tiba meninggalkan ruangan dan pergi mengendarai motornya. Ketika ditanya alasannya, peserta lain tertawa dan menjawab, “Sapinya harus diberi makan!”

Momen sederhana ini menjadi pengingat bahwa bagi masyarakat desa, waktu tidak selalu diatur oleh jam atau kalender digital. Waktu mengikuti kebutuhan makhluk hidup lainnya, seperti jadwal bertani, menanam jagung, atau merawat ternak. Kedekatan dengan alam ini menghadirkan perspektif yang sering kali hilang dalam kehidupan modern.

Menjembatani Dua Dunia

Meski berlangsung secara paralel di dua benua, Voicing the Climate Emergency menghasilkan temuan yang serupa. Di Wales, para perempuan menunjukkan bagaimana perubahan iklim memaksa orang untuk berpindah dan membangun kembali identitas mereka. Di Indonesia, mereka memperlihatkan bagaimana krisis iklim dapat mengancam keanekaragaman hayati yang menopang cara hidup tradisional.

Untuk memastikan pengetahuan mereka tidak hilang, hasil pemetaan di Sulawesi telah diarsipkan dalam sebuah zine digital berjudul Apotek Hidup (Living Medicine). Zine ini tidak hanya berisi katalog daun-daun yang telah dipindai, tapi juga refleksi Taufik Syahrandy tentang keterlibatan komunitas, serta tulisan Direktur Program MIWF, Aan Mansyur, yang menempatkan proyek ini dalam konteks pelestarian budaya dan advokasi lingkungan.

Jika dibaca bersama dengan e-book puisi dari Wales, publikasi ini menjadi arsip penting dari sebuah dialog lintas budaya. Kita ditantang untuk membicarakan darurat iklim dengan cara berbeda, dengan menggeser percakapan dari angka dan jargon internasional ke realitas sehari-hari: halaman rumah, dapur, dan ingatan mereka yang merawat alam.

Akhirnya, proyek ini menunjukkan bahwa perempuan adat dan perempuan migran adalah pemilik pengetahuan yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi perubahan dunia akibat krisis iklim. Melalui pelestarian tanaman obat maupun berbagi kisah migrasi, mereka membangun kembali hubungan antara manusia dan lingkungan.