Darurat iklim sering digambarkan hanya dalam jargon dan statistik, seperti peningkatan suhu global atau angka emisi karbon. Namun bagi banyak orang, dampaknya bisa sangat personal. Untuk mengeksplorasi dimensi manusia dari krisis iklim, Makassar International Writers Festival (MIWF) dan Literature Across Frontiers (LAF) berkolaborasi dalam Voicing the Climate Emergency. Proyek ini bertujuan untuk mempertemukan beragam suara dalam rangka merayakan ketangguhan perempuan dalam menghadapi tantangan lingkungan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dampak krisis iklim justru banyak dirasakan oleh perempuan. Mulai dari kelangkaan air dan meningkatnya risiko keguguran, hingga perpindahan tempat tinggal akibat konflik keterbatasan sumber daya, perempuan sering menjadi saksi terjadinya perubahan lingkungan. Bukan hanya sekadar menjadi korban, perempuan juga memiliki pengetahuan, perspektif, dan solusi yang unik. Proyek ini menjembatani kearifan lokal masyarakat adat Kaluppini di Sulawesi Selatan dengan pengalaman para pengungsi wanita di Swansea, Wales melalui pendokumentasian.
Kisah dari Wales: Menemukan Suara di Tanah Baru
Di Wales, proyek ini berlangsung bersama Swansea Women’s Refugee and Asylum Support Group. Para peserta berasal dari berbagai negara, termasuk Sri Lanka, Kenya, Suriah, El Salvador, Arab Saudi, Mesir, Nigeria, Kurdistan Irak, dan Zambia.
Kegiatan ini difasilitasi oleh penyair dan performer Rufus Mufasa bersama pelatih penulisan kreatif Jeni Williams, dan didokumentasikan oleh fotografer Saba Humayun. Bersama-sama, mereka mengadakan serangkaian lokakarya hibrida membahas perubahan iklim sebagai salah satu pemicu utama penggusuran dan migrasi. Para peserta juga diajak terhubung kembali dengan teman dan keluarga di negara asal menggunakan cerita dan gambar untuk menjembatani masa lalu dan masa kini.
Mufasa lantas merangkai cerita-cerita para peserta menjadi sebuah puisi panjang yang mewakili suara kolektif mereka. Puisi ini kemudian diadaptasi menjadi video puisi yang menggabungkan gambar-gambar dari para perempuan dengan penampilan Mufasa, dan akhirnya diterjemahkan ke dalam bahasa Welsh.
Dalam puncak acara proyek di Waterfront Museum, Swansea, lima perempuan berbagi pengalaman mereka di depan publik tentang penggusuran yang dipicu oleh konflik dan perubahan iklim. Di tengah situasi dimana isu migrasi kerap menjadi topik perdebatan politik yang memecah belah, kisah-kisah ini menghadirkan perspektif yang berbeda. Selain menunjukkan kontribusi positif mereka, para migran turut meningkatkan kesadaran publik akan dampak krisis iklim global .
Apotek Hidup dari Kaluppini
Sementara di Indonesia, tim MIWF berkolaborasi dengan Komunitas Adat Kaluppini di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Fokus kegiatannya yaitu melihat langsung dampak perubahan iklim terhadap perempuan dan generasi muda di komunitas adat. Di sini, penulis Taufik Syahrandy menggandeng Komunitas Budaya Sapulo Tallu untuk mengidentifikasi isu paling relevan bagi desa kelahirannya tersebut.
Perjalanan rupanya membawa Taufik melihat kondisi halaman rumah. Pasalnya, krisis iklim di Kaluppini bukanlah konsep abstrak yang hanya dibahas dalam konferensi internasional. Krisis ini nyata pada tanaman tertentu yang tak lagi tumbuh, atau musim panen yang waktunya tak menentu.
Sementara itu, perempuan adat Kaluppini memiliki pengetahuan penting tentang makanan dan obat-obatan alami. Inilah “apotek hidup” pendukung kehidupan sehari-hari yang sayangnya kerap belum dianggap ilmiah. Untuk menjaga pengetahuan penting yang mulai memudar ini, proyek Voicing the Climate Emergency mengadakan kegiatan pemetaan lintas generasi yang dipimpin para tokoh perempuan setempat, Bu Hayati, Mama Maman, dan Mama Nabila.
Terbagi dalam tiga kelompok, para peserta mengamati berbagai tanaman yang tumbuh di sepanjang jalan desa serta di pekarangan rumah warga di dusun Palli dan Tana Doko. Anak-anak sangat antusias mencari tahu apakah tanaman tertentu dapat dimakan atau digunakan sebagai obat. Dalam satu hari saja, para lansia, pemuda, dan anak-anak berhasil mengumpulkan hampir lima puluh jenis daun yang dapat digunakan sebagai bahan makanan maupun obat tradisional beragam penyakit.