Partisipasinya dalam program Publishing Futures 2026, termasuk kesempatan menghadiri 35th International Publishers Congress di Kuala Lumpur, meninggalkan kesan mendalam bagi Vita Agustina, pendiri penerbit independen Bening Pustaka yang berbasis di Yogyakarta. Melalui diskusi intensif dan sesi berbagi, fellowship selama enam hari di Malaysia ini menghadirkan perspektif segar yang mengubah cara pandang Vita terhadap ekosistem penerbitan lokal maupun prospek global.
Penemuan ide lewat percakapan
Perjalanan Vita diawali dengan sharing session di mana sepuluh delegasi Publishing Futures 2026 dari Indonesia, Malaysia, dan Inggris mempresentasikan ekosistem penerbitan di negara masing-masing. Berlangsung di kantor British Council Malaysia, sesi ini berlanjut ke diskusi kelompok yang akrab dan mendalam antara para penerbit profesional dari tiga negara.
Presentasi dari salah satu pembicara, Amir Muhammad, menjadi sorotan tersendiri bagi Vita. Bertajuk Publishers: Balancing creative risk with commercial viability, sesi tersebut memberikan wawasan mendalam mengenai prospek masa depan penerbitan buku serta berbagai peluang baru yang muncul di industri.
Pelajaran berharga dari kongres
Momentum tersebut berlanjut ke International Publishers Congress yang membahas masa depan buku dan ekosistem penerbitan lebih lanjut. Di tengah persaingan dengan media digital yang kian berkembang pesat—seperti e-book, film, atau gim—posisi buku fisik terbukti tetap tak tergantikan.
Topik lain yang dikupas adalah seputar kebebasan menerbitkan buku. Meskipun kebebasan ini sudah banyak dibela dalam percakapan global, realitas di lapangan menunjukkan bahwa praktik-praktik pembatasan masih menjadi tantangan yang harus dihadapi para penerbit.
Vita sendiri merasa bahwa forum tentang penyelenggaraan pameran buku sangat relevan baginya. Berasal dari Yogyakarta yang terkenal dengan warisan budaya dan lingkungan akademisnya yang kuat, ia bersama para penerbit lokal lainnya sangat antusias untuk bisa mempelajari cara menyelenggarakan pameran buku, mengoordinasikan komunitas, serta menggagas acara sastra berskala besar.
Sementara itu, sesi tentang navigasi ASEAN Rights Fair menandai langkah perdana Vita terjun ke pasar hak cipta (rights market). Meski menghadirkan tantangan tersendiri yang menuntut keterampilan negosiasi dan komunikasi yang khas, obrolan dengan partisipan lain mengubah hambatan tadi menjadi peluang bertumbuh yang menarik. Vita menemukannya lewat perbincangan, antara lain, bersama penerbit internasional asal Uni Emirat Arab (UEA) terkait hak cipta, serta dengan delegasi Malaysia untuk menjajaki potensi adaptasi karya sastra.
Belajar dari model ekosistem
Pelajaran penting lain datang dari Adibah Omar, CEO Perbadanan Kota Buku, terkait dukungan kuat pemerintah Malaysia terhadap ekosistem perbukuan nasional mereka. Selain memaparkan berbagai kegiatan dan acara literasi yang sedang berjalan di Malaysia, ia juga menyoroti peran krusial dukungan negara dalam merawat kultur literasi yang sehat dan menyejahterakan para penulis.
Berefleksi dari sana, Vita merenungkan bagaimana inisiatif serupa dapat diadaptasi—bukan sekadar ditiru—dalam ekosistem penerbitan Indonesia yang unik, khususnya di kotanya, Yogyakarta:
- Acara berskala internasional: Memperbesar bazar buku lokal untuk mendorong kolaborasi internasional yang lebih luas.
- Peningkatan kualitas terjemahan: Memitigasi peredaran naskah terjemahan berkualitas rendah melalui program pelatihan terarah bagi penulis dan editor.
- Menjembatani akses global: Membangun jejaring internasional yang kokoh guna membantu penerbit regional menembus hambatan untuk tampil di ajang global.
- Menjaga kebebasan lokal: Memanfaatkan fondasi akademis Yogyakarta serta dukungan pendanaan pemerintah daerah yang kuat untuk kegiatan literasi, di mana para penerbit memiliki kebebasan menjalankan inisiatif berbasis komunitas tanpa hambatan birokrasi.
Menatap masa depan: Kolaborasi jangka panjang
Vita yakin bahwa sejalan dengan semangat pertukaran internasional, jejaring yang terjalin di Kuala Lumpur akan berkembang menjadi kemitraan jangka panjang yang berkelanjutan. Ia mengusulkan beberapa inisiatif konkret untuk kolaborasi selanjutnya bersama British Council:
- Residensi “Telusur Penerbitan”: Program pertukaran lintas batas yang memungkinkan para pelaku industri—mulai dari penulis dan editor, penata letak (layout artist), teknisi mesin, staf pemasaran, hingga pembaca—untuk merasakan langsung alur kerja penerbitan secara utuh di negara mitra.
- Kunjungan penjualan Hak Cipta terarah: Melangkah lebih jauh dari sekadar basa-basi di pameran buku, dengan mengagendakan kunjungan terstruktur ke penerbit asing yang aktif mencari akuisisi naskah, guna memberikan akses pasar langsung bagi penerbit regional.
- Program pelatihan penerjemahan: Membentuk program berbagi keahlian guna meningkatkan standar kualitas terjemahan dari bahasa asing ke bahasa Indonesia, maupun sebaliknya.
- Perluasan kolaborasi festival: Bermitra untuk meningkatkan skala bazar literasi lokal di Yogyakarta agar menjadi ajang internasional yang didukung oleh tata kelola pemerintahan yang suportif.
Pada akhirnya, pertukaran internasional membuktikan bahwa jejaring global hanyalah titik awal. Dengan menerjemahkan gagasan bersama ke dalam kolaborasi jangka panjang yang konkret sekembalinya ke tanah air, Vita berharap dapat menciptakan masa depan penerbitan yang lebih terhubung, tangguh, dan sejahtera, bermula dari Yogyakarta.