Pada 2–8 Juli 2026, perwakilan penerbit independen asal Indonesia, Syarafina Vidyadhana, bertolak ke Kuala Lumpur, Malaysia, dengan benak yang dipenuhi sejumlah pertanyaan.
Bagaimana cara penerbit independen tetap mandiri secara finansial tanpa mengorbankan idealisme? Bagaimana cara buku-buku menjangkau pembaca ketika jalur distribusi sedemikian rapuh? Dan yang terpenting, bagaimana mereka dapat mendukung para penulis marjinal sekaligus menjaga kapasitas diri untuk terus bertahan?
Bersama sembilan penerbit lain dari Indonesia, Malaysia, dan Inggris, Syarafina menggali berbagai keresahan bersama, bertukar sudut pandang, dan merenungkan hal-hal yang paling vital bagi industri penerbitan.
Jati diri penerbit indie
Syarafina hadir sebagai salah satu pendiri Cahyati Press, penerbit kecil berbasis seniman asal Bali. Berawal dari keinginan sederhana untuk menerbitkan buku secara perlahan, mendukung suara-suara yang kurang terwakili, serta mengembangkan diskursus sastra lokal, kerja-kerja Cahyati Press mencakup pula lokakarya, pemutaran film, pameran, hingga diskusi komunitas.
Bagi Syarafina, penerbit independen menjadi bagian aktif dari infrastruktur budaya yang lebih luas, bukan sekadar miniatur penerbit korporat. Dalam versi terbaiknya, penerbit independen menawarkan kebebasan editorial sejati—kebebasan untuk menerbitkan sebuah buku semata-mata karena buku tersebut layak untuk ada.
Kebebasan penerbit dapat terwujud dalam berbagai rupa, termasuk tulisan hibrida, esai eksperimental, buku seni, hingga terbitan karya terjemahan. Kebebasan ini juga membuka ruang bagi penulis pemula serta suara-suara baru yang belum masuk struktur arus utama komersial.
Ada satu prinsip yang dipegang oleh Syarafina dan peserta program Publishing Futures lainnya: Penerbit bertanggung jawab merilis karya-karya yang bermakna, bahkan ketika prospek komersialnya belum pasti.
Konteks berbeda, keresahan serupa
Meski terasa memerdekakan, kebebasan tidak serta-merta berarti kemudahan.
Sepuluh peserta Publishing Futures paham bahwa keputusan editorial selalu berakar erat pada persoalan tenaga kerja, pendanaan, akses fisik, dan kelangsungan hidup yang mendasar secara ekonomi. Terlepas dari perbedaan skala, struktur, pembaca, dan konteks penerbitan, seluruh peserta menghadapi keresahan yang serupa, termasuk kenaikan biaya cetak, sensor, kerapuhan distribusi, keterbatasan sumber daya, dan tantangan menjangkau pembaca di luar ruang sastra konvensional.
Program Publishing Futures menciptakan ruang aman yang unik bagi para penerbit profesional untuk berbagi keresahan—mulai dari ketidakpastian yang membayangi, kesalahan struktural, kekhawatiran financial, hingga sejumlah pertanyaan yang belum terjawab. Para partisipan bisa bicara blak-blakan tentang hal-hal yang belum berjalan lancar maupun kekurangan dalam pengetahuan yang dimiliki, dan yang terpenting, mengakui kapan mereka butuh bantuan.
Penerbit independen umumnya terbiasa dalam bekerja dengan sumber daya seadanya, menyelesaikan krisis logistik diam-diam, dan memaksimalkan anggaran seketat mungkin. Kendati kemampuan adaptasi ini bisa dibilang suatu kekuatan super, hal ini pula yang sering kali menghalangi mereka untuk mencari pertolongan. Oleh karena itu, salah satu pelajaran terbesar dari program ini adalah pentingnya menyuarakan kebutuhan akan dukungan yang memadai.