By Karina Langit Rinesti, Editor dan Penerjemah

14 September 2026 - 15:28

Syarafina Vidyadhana (kanan) bersama delegasi lainnya menjelajahi suasana di Kuala Lumpur dalam rangka mengikuti program Publishing Futures 2026. © 2026 Syarafina Vidyadhana / Cahyati Press / British Council

Pada 2–8 Juli 2026, perwakilan penerbit independen asal Indonesia, Syarafina Vidyadhana, bertolak ke Kuala Lumpur, Malaysia, dengan benak yang dipenuhi sejumlah pertanyaan.

Bagaimana cara penerbit independen tetap mandiri secara finansial tanpa mengorbankan idealisme? Bagaimana cara buku-buku menjangkau pembaca ketika jalur distribusi sedemikian rapuh? Dan yang terpenting, bagaimana mereka dapat mendukung para penulis marjinal sekaligus menjaga kapasitas diri untuk terus bertahan?

Bersama sembilan penerbit lain dari Indonesia, Malaysia, dan Inggris, Syarafina menggali berbagai keresahan bersama, bertukar sudut pandang, dan merenungkan hal-hal yang paling vital bagi industri penerbitan.

Jati diri penerbit indie

Syarafina hadir sebagai salah satu pendiri Cahyati Press, penerbit kecil berbasis seniman asal Bali. Berawal dari keinginan sederhana untuk menerbitkan buku secara perlahan, mendukung suara-suara yang kurang terwakili, serta mengembangkan diskursus sastra lokal, kerja-kerja Cahyati Press mencakup pula lokakarya, pemutaran film, pameran, hingga diskusi komunitas.

Bagi Syarafina, penerbit independen menjadi bagian aktif dari infrastruktur budaya yang lebih luas, bukan sekadar miniatur penerbit korporat. Dalam versi terbaiknya, penerbit independen menawarkan kebebasan editorial sejati—kebebasan untuk menerbitkan sebuah buku semata-mata karena buku tersebut layak untuk ada.

Kebebasan penerbit dapat terwujud dalam berbagai rupa, termasuk tulisan hibrida, esai eksperimental, buku seni, hingga terbitan karya terjemahan. Kebebasan ini juga membuka ruang bagi penulis pemula serta suara-suara baru yang belum masuk struktur arus utama komersial.

Ada satu prinsip yang dipegang oleh Syarafina dan peserta program Publishing Futures lainnya: Penerbit bertanggung jawab merilis karya-karya yang bermakna, bahkan ketika prospek komersialnya belum pasti.

Konteks berbeda, keresahan serupa

Meski terasa memerdekakan, kebebasan tidak serta-merta berarti kemudahan.

Sepuluh peserta Publishing Futures paham bahwa keputusan editorial selalu berakar erat pada persoalan tenaga kerja, pendanaan, akses fisik, dan kelangsungan hidup yang mendasar secara ekonomi. Terlepas dari perbedaan skala, struktur, pembaca, dan konteks penerbitan, seluruh peserta menghadapi keresahan yang serupa, termasuk kenaikan biaya cetak, sensor, kerapuhan distribusi, keterbatasan sumber daya, dan tantangan menjangkau pembaca di luar ruang sastra konvensional.

Program Publishing Futures menciptakan ruang aman yang unik bagi para penerbit profesional untuk berbagi keresahan—mulai dari ketidakpastian yang membayangi, kesalahan struktural, kekhawatiran financial, hingga sejumlah pertanyaan yang belum terjawab. Para partisipan bisa bicara blak-blakan tentang hal-hal yang belum berjalan lancar maupun kekurangan dalam pengetahuan yang dimiliki, dan yang terpenting, mengakui kapan mereka butuh bantuan.

Penerbit independen umumnya terbiasa dalam bekerja dengan sumber daya seadanya, menyelesaikan krisis logistik diam-diam, dan memaksimalkan anggaran seketat mungkin. Kendati kemampuan adaptasi ini bisa dibilang suatu kekuatan super, hal ini pula yang sering kali menghalangi mereka untuk mencari pertolongan. Oleh karena itu, salah satu pelajaran terbesar dari program ini adalah pentingnya menyuarakan kebutuhan akan dukungan yang memadai.

Memperluas wawasan mengenai ekosistem penerbitan Inggris melalui sesi diskusi dan pertukaran pengetahuan. © 2026 Syarafina Vidyadhana / Cahyati Press / British Council
Mengeksplorasi bagaimana sebuah cerita dapat berkembang melampaui halaman buku dan hadir dalam bentuk film, game, maupun serial televisi. © 2026 Syarafina Vidyadhana / Cahyati Press / British Council
Mengeksplorasi bagaimana cerita dapat melampaui batas buku melalui proses penerjemahan, adaptasi, dan penciptaan ulang di berbagai media. © 2026 Syarafina Vidyadhana / Cahyati Press / British Council

Pelajaran berharga dari jejaring

Para peserta Publishing Futures datang ke Kuala Lumpur utamanya untuk menghadiri 35th International Publishers Congress. Namun, Syarafina menemukan bahwa sejumlah percakapan paling penting justru terjadi di luar acara formal, seperti di sela-sela makan siang dan obrolan santai. Dalam jeda singkat tersebut, para peserta bertukar pikir tentang pendekatan seputar sistem royalti, hak cipta, penentuan harga, distribusi, hingga relasi dengan penulis.

Setiap penerbit juga berkesempatan untuk membandingkan praktik kerja masing-masing. Di Indonesia, misalnya, penerbit independen kerap berpegang pada panduan yang menyatakan bahwa harga jual eceran sebuah buku setidaknya harus delapan kali lipat dari biaya produksi satuan. Namun, pendefinisian "biaya produksi" sendiri memunculkan rentetan pertanyaan:

  • Apakah biaya itu hanya mencakup pencetakan, atau sudah memperhitungkan penyuntingan, desain, penerjemahan, pemasaran, peluncuran, penyimpanan, dan jam kerja staf internal?
  • Seberapa sering penulis seharusnya menerima royalti?
  • Apakah sebuah usaha penerbitan mikro sebaiknya mengurus hak cipta asing secara mandiri, mempekerjakan staf khusus, atau bermitra dengan agen luar?

Pada akhirnya, memang tidak ada jawaban yang universal. Meski demikian, dengan saling membandingkan, para peserta dapat mengambil keputusan masa depan yang lebih tajam dan matang.

Langkah selanjutnya setelah Kuala Lumpur

Alih-alih membiarkan momentum ini hilang begitu program enam hari ini berakhir, para peserta berdiskusi untuk merancang sebuah dokumen kerja bersama (living document)—sebuah pusat data untuk menyimpan metode terbaik, bertukar saran, serta menjawab aneka pertanyaan. Dokumen ini dapat menjadi acuan saat peserta menghadapi kejenuhan atau keterasingan profesional, sekaligus ruang berkontribusi ketika inspirasi datang.

Hal yang paling berharga dari program Publishing Futures bisa dilihat dari apa yang muncul kemudian: jalinan relasi berkelanjutan, budaya kritis yang konsisten, dan pertukaran pengetahuan lintas batas. Syarafina, seperti halnya para peserta lain, meninggalkan Kuala Lumpur dengan membawa tidak hanya gagasan-gagasan praktis, tapi juga dengan keyakinan baru bahwa membangun masa depan dunia penerbitan adalah sebuah kerja kolektif.

“Mungkin masa depan tidak punya satu model sempurna yang menanti untuk ditemukan,” kenang Syarafina. “Masa depan bisa jadi adalah sebuah dokumen yang terus hidup, percakapan, dan infrastruktur dukungan timbal balik yang terus kita bangun bersama.”