Menghadiri 35th International Publishers Congress pada 2–8 Juli 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, merupakan pengalaman transformatif bagi Prihandini Nur Rahmah, editor penerbit independen Indonesia, Marjin Kiri.
Awalnya, ia datang dengan rasa penasaran yang telah lama terpendam mengenai industri penerbitan buku di negara tetangganya itu. Pada akhirnya, Prihandini pulang membawa segudang wawasan tentang keseluruhan ekosistem penerbitan independen.
Pencarian sudut pandang baru
Ketertarikan Prihandini pada industri buku Malaysia bermula saat ia mengunjungi Kuala Lumpur Alternative Bookfest. Sejak saat itu, ia kerap mempertanyakan mengapa begitu sedikit karya sastra Malaysia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, padahal kedua negara tetangga ini berbagi banyak kesamaan sosial, politik, dan budaya.
Program Publishing Futures 2026 menjadi gerbang yang sangat dinanti-nantikan oleh Prihandini untuk menjelajahi ekosistem penerbitan Malaysia secara langsung. Program ini memungkinkannya untuk terhubung dan menjajaki peluang kolaborasi dengan sesama penerbit di Negeri Jiran.
Program ini juga memberi Prihandini kesempatan untuk bertemu dengan para penerbit profesional lain dari Inggris dan negara asalnya, Indonesia. Jaringan profesional baru ini tidak hanya memperluas pemahaman Prihandini mengenai aspek bisnis dan sosial dalam industri penerbitan. Dedikasi kolektif mereka juga menjadi pengingat kuat mengapa penerbit independen harus tetap berpegang pada nilai-nilai inti dan suara editorial unik mereka.
Kekuatan—sekaligus tantangan—dalam menerbitkan suara kaum adat
Sepanjang 35th International Publishers Congress, diskusi seputar keberagaman dan kebebasan menerbitkan karya sangat tepat sasaran bagi Prihandini dan etos editorialnya. Momen penting terjadi pada hari pertama dalam sesi bertajuk Indigenous Languages: Great Languages Spoken by Few People (Bahasa Adat: Bahasa Besar yang Dituturkan oleh Sejumlah Kecil Orang).
Panel tersebut menekankan bahwa bahasa-bahasa adat menawarkan cara pandang yang unik dalam memahami dunia. Membagikan tradisi linguistik ini secara global melalui penerbitan memperkaya keragaman budaya, melindungi pengetahuan adat, serta memperkuat pengakuan atas hak asasi manusia yang mendasar.
Meski demikian, para pembicara juga memaparkan hambatan struktural yang serius dalam penerbitan bahasa adat: kelangkaan penerjemah spesialis yang kritis, minimnya dukungan institusional atau pemerintah, serta kekhawatiran terkait risiko komersial akibat rendahnya permintaan pasar. Bagi Prihandini, sesi tersebut menjadi pengingat bahwa pada akhirnya, menerbitkan literatur bahasa adat bukan sekadar mengejar keuntungan komersial, melainkan bentuk nyata pelestarian budaya untuk generasi mendatang.