By Karina Langit Rinesti, Editor dan Penerjemah

08 September 2026 - 15:45

Berbagai pilihan buku, majalah, dan zine tersedia di Malaysia Design Archive. Karya yang tersedia di sini mencakup aneka topik, mulai dari studi tentang pangan hingga tentang solidaritas transnasional. Gedung Zhongshan, Kuala Lumpur, 4 Juli 2026. © 2026 Prihandini Nur Rahmah / Marjin Kiri / British Council

Menghadiri 35th International Publishers Congress pada 2–8 Juli 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, merupakan pengalaman transformatif bagi Prihandini Nur Rahmah, editor penerbit independen Indonesia, Marjin Kiri. 

Awalnya, ia datang dengan rasa penasaran yang telah lama terpendam mengenai industri penerbitan buku di negara tetangganya itu. Pada akhirnya, Prihandini pulang membawa segudang wawasan tentang keseluruhan ekosistem penerbitan independen.

Pencarian sudut pandang baru

Ketertarikan Prihandini pada industri buku Malaysia bermula saat ia mengunjungi Kuala Lumpur Alternative Bookfest. Sejak saat itu, ia kerap mempertanyakan mengapa begitu sedikit karya sastra Malaysia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, padahal kedua negara tetangga ini berbagi banyak kesamaan sosial, politik, dan budaya.

Program Publishing Futures 2026 menjadi gerbang yang sangat dinanti-nantikan oleh Prihandini untuk menjelajahi ekosistem penerbitan Malaysia secara langsung. Program ini memungkinkannya untuk terhubung dan menjajaki peluang kolaborasi dengan sesama penerbit di Negeri Jiran.

Program ini juga memberi Prihandini kesempatan untuk bertemu dengan para penerbit profesional lain dari Inggris dan negara asalnya, Indonesia. Jaringan profesional baru ini tidak hanya memperluas pemahaman Prihandini mengenai aspek bisnis dan sosial dalam industri penerbitan. Dedikasi kolektif mereka juga menjadi pengingat kuat mengapa penerbit independen harus tetap berpegang pada nilai-nilai inti dan suara editorial unik mereka.

Kekuatan—sekaligus tantangan—dalam menerbitkan suara kaum adat

Sepanjang 35th International Publishers Congress, diskusi seputar keberagaman dan kebebasan menerbitkan karya sangat tepat sasaran bagi Prihandini dan etos editorialnya. Momen penting terjadi pada hari pertama dalam sesi bertajuk Indigenous Languages: Great Languages Spoken by Few People (Bahasa Adat: Bahasa Besar yang Dituturkan oleh Sejumlah Kecil Orang).

Panel tersebut menekankan bahwa bahasa-bahasa adat menawarkan cara pandang yang unik dalam memahami dunia. Membagikan tradisi linguistik ini secara global melalui penerbitan memperkaya keragaman budaya, melindungi pengetahuan adat, serta memperkuat pengakuan atas hak asasi manusia yang mendasar.

Meski demikian, para pembicara juga memaparkan hambatan struktural yang serius dalam penerbitan bahasa adat: kelangkaan penerjemah spesialis yang kritis, minimnya dukungan institusional atau pemerintah, serta kekhawatiran terkait risiko komersial akibat rendahnya permintaan pasar. Bagi Prihandini, sesi tersebut menjadi pengingat bahwa pada akhirnya, menerbitkan literatur bahasa adat bukan sekadar mengejar keuntungan komersial, melainkan bentuk nyata pelestarian budaya untuk generasi mendatang.

 

Delegasi Inggris menjelaskan berbagai aspek industri penerbitan di Inggris dalam sesi tinjauan negara (country overview session). British Council Malaysia, 3 Juli 2026. © Prihandini Nur Rahmah / Marjin Kiri / British Council
Florence Lambert (British Council Malaysia) menyampaikan sambutan pada British Council Networking Dinner yang dihadiri oleh para seniman dan pegiat industri penerbitan Malaysia. Limapulo Terrace, Kuala Lumpur, 3 Juli 2026. © Prihandini Nur Rahmah / Marjin Kiri / British Council
Devina Sivagurunathan (Sivagurunathan & Chua Literary Agency) memimpin lokakarya tentang hak dan penerjemahan dalam salah satu sesi program Publishing Futures. British Council Malaysia, 3 Juli 2026. © 2026 Syarafina Vidyadhana / Marjin Kiri / British Council
Delegasi Malaysia berbagi data tentang lanskap penerbitan di negaranya selama sesi tinjauan negara pada program Publishing Futures. British Council Malaysia, 3 Juli 2026. © 2026 Prihandini Nur Rahmah / Marjin Kiri / British Council
Hari pertama International Publisher Congress, 6 Juli 2026. Eboni Waitere (Selandia Baru), Anna Mae Yu Lamentillo (Filipina), Kọ́lá Túbọ̀sún (Nigeria), dan Sandra Tamele (Mozambik) berbagi pentingnya melindungi dan mempromosikan bahasa asli. Grand Hyatt Kuala Lumpur. © 2026 Prihandini Nur Rahmah / Marjin Kiri / British Council

Membela buku dan hak pemikiran yang merdeka

Pelajaran lain datang lewat sesi Unbanning the Future: Defending Books, Building Partnerships, and Advancing the SDGs (Urbanisasi Masa Depan: Membela Buku, Membangun Kerja sama, dan Memajukan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan), yang membahas tentang kebebasan dalam berekspresi, menulis, dan menerbitkan.

Bagi Prihandini, membela buku pada dasarnya berarti membela hak masyarakat untuk belajar, mempertanyakan asumsi, dan berpikir kritis. Dalam konteks ketika pergeseran sosial-politik atau meningkatnya pengaruh institusional memengaruhi ruang publik, perlindungan atas keterbukaan akses terhadap gagasan yang beragam menjadi kebutuhan yang mendesak. Karena bagaimanapun, ketangguhan masyarakat hanya dapat tumbuh melalui dorongan untuk membaca secara kritis dan mendiskusikan isu-isu kompleks secara terbuka.

Yang tak kalah penting, sesi tersebut menyoroti bahwa membela buku bukanlah upaya yang bisa dilakukan sendirian. Semua ini menuntut kolaborasi aktif lintas sektor di antara para penulis, penerbit, pustakawan, pendidik, pembaca, dan komunitas lokal.

Kolektif kultural dan akar masa depan

Di luar ruang kongres formal dan lokakarya, rangkaian acara Publishing Futures 2026 menawarkan imersi kultural yang mendalam. Kunjungan ke berbagai kolektif seni dan sejarah meninggalkan kesan mendalam bagi Prihandini, terutama tur ke ruang-ruang budaya seperti Malaysia Design Archive di dalam The Zhongshan Building yang dipandu oleh William Tham, di mana para delegasi menemukan ragam zine alternatif dan arsip sejarah.

Menjelang akhir program, Prihandini membawa pulang lebih dari sekadar segudang pengalaman baru dan pelajaran berharga. Di antaranya adalah pentingnya melindungi pengetahuan; bukan hanya sebagai seorang editor, melainkan sebagai bagian dari satu barisan utuh untuk menjaga beragam perspektif serta merawat dialog publik yang saling menghormati.