By Azhar Farizdaffa Risqullah, Editor dan Penerjemah

29 September 2026 - 15:33

Karel Doing (kanan) dan anggota kolektif Lab Laba Laba berdiskusi bersama peserta setelah sesi pemutaran dan diskusi film. © 2025 Rizki Lazuardi/ British Council

Kolaborasi antara sineas asal Inggris, Karel Doing (Garden Lab Oxford), dan kolektif dari Indonesia, Lab Laba Laba, Patterned Vegetation (Vegetasi Berpola) mempertemukan seniman dari kedua negara untuk mengeksplorasi pendekatan yang lebih ramah lingkungan dalam produksi film eksperimental.

Melalui lokakarya, pemutaran film, serta proses pembuatan film bersama di Bandung dan Jakarta, proyek ini meneliti kemungkinan penggunaan material berbasis tumbuhan sebagai alternatif dari proses kimia konvensional dalam film analog.

British Council (BC): Bagaimana proyek ini berjalan dan bagaimana kolaborasinya berkembang?

Lab Laba Laba (LLL): Kolaborasi ini berhasil menjalankan seluruh kegiatan yang telah direncanakan. Pada awalnya, kami menyadari bahwa satu bulan di Indonesia terasa terlalu singkat untuk melakukan riset, menyelenggarakan lokakarya, memproduksi film, sekaligus mengadakan pemutaran.

Namun seiring berjalannya waktu, proyek ini berkembang secara organik. Selama fase kegiatan di Indonesia, kami menyelenggarakan lokakarya dua hari, dua sesi pemutaran film di Bandung dan Jakarta, serta sesi pembacaan buku.

Di London, programnya berkembang lebih jauh dengan presentasi expanded cinema dan pemutaran film yang berlangsung dalam rangkaian perjalanan jejaring dan proses penyuntingan selama sepuluh hari.

Meski waktunya terbatas, proyek ini membuka ruang pertukaran pengetahuan, metode kerja, dan perspektif artistik antara kedua pihak.

BC: Apa pesan utama atau pemahaman baru yang Anda dapatkan dari proyek ini?

LLL: Salah satu pelajaran penting dari kolaborasi ini adalah bagaimana pertukaran lintas negara dapat mendorong pendekatan yang lebih sadar lingkungan dalam praktik film eksperimental.

Selama ini, proses film analog sangat bergantung pada bahan kimia fotokimia yang menghasilkan limbah berbahaya bagi lingkungan. Film seluloid harus diproses menggunakan larutan kimia tertentu yang tidak selalu ramah lingkungan.

Selama bertahun-tahun, Karel Doing meneliti metode alternatif dengan menggunakan larutan alami dari daun dan kelopak bunga sebagai pengganti sebagian proses kimia tersebut.

Bekerja bersama Lab Laba Laba yang berbasis di Indonesia membuka kemungkinan baru untuk mengeksplorasi vegetasi tropis, khususnya tanaman yang mudah ditemukan di Jawa Barat. Kolaborasi ini akhirnya tidak hanya menjadi pertukaran artistik, tetapi juga eksplorasi metode produksi film yang lebih berkelanjutan.

BC: Apakah ada tantangan selama proyek berlangsung?

LLL: Tantangan utama berkaitan dengan akses terhadap infrastruktur produksi. Di era digital saat ini, film analog sering dianggap sebagai teknologi yang sudah usang. Akibatnya, kamera dan peralatan pendukung semakin sulit ditemukan.

Saat proses pengambilan gambar, kami sempat mengalami masalah pada kamera milik Karel Doing. Satu-satunya kamera cadangan yang tersedia di Bandung berasal dari departemen film Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), namun kondisi viewfinder-nya tidak terlalu bagus.

Meskipun demikian, proses pengambilan gambar tetap dapat diselesaikan dengan baik.

Tantangan lain muncul pada proses pengurusan visa. Pengajuan visa seniman sempat ditolak, sehingga akhirnya Karel masuk ke Indonesia menggunakan visa on arrival agar proyek tetap dapat berjalan sesuai rencana.

BC: Ceritakan satu momen atau pengalaman yang paling berkesan selama perjalanan proyek ini

LLL: Karel Doing sebenarnya pernah datang ke Indonesia pada tahun 2000 dan kembali lagi pada 2002 untuk memproduksi dan mempresentasikan film A Journey to Tarakan. Kunjungan tersebut kemudian berkembang menjadi kolaborasi jarak jauh dengan sejumlah seniman Indonesia hingga tahun 2005.

Proyek Patterned Vegetation menandai kunjungan pertamanya kembali ke Indonesia setelah 23 tahun.

Selama rangkaian pemutaran dan lokakarya, banyak sineas dan programmer festival film Indonesia yang hadir. Beberapa di antaranya berbagi cerita tentang bagaimana karya Karel Doing pernah mempengaruhi perkembangan film eksperimental di Indonesia.

Pertemuan tersebut menjadi momen refleksi yang menarik menghubungkan kolaborasi masa lalu dengan generasi baru pembuat film.

Karel Doing (kanan) mempresentasikan proses kerja film analog kepada peserta workshop di Bandung. © 2025 Rizki Lazuardi / British Council
Karel Doing mengoperasikan mesin pengolah film analog dalam proses eksperimen material film. © 2025 Rizki Lazuardi / British Council
Karel Doing (kiri) dan Rizki Lazuardi (kanan) di depan ruang pemutaran film Close-Up Cinema, London. © 2025 Rizki Lazuardi/ British Council

BC: Apa langkah selanjutnya? Apakah ada rencana kolaborasi lanjutan?

LLL: Film yang dihasilkan dari kolaborasi ini saat ini masih tersedia dalam format digital. Musik untuk film tersebut digubah oleh musisi elektronik Bandung–Taipei, Rama Putratantra.

Ke depannya, kami berencana untuk memproduksi cetakan positif film dalam format 16mm agar dapat dipresentasikan dalam format performatif. Film ini akan diproyeksikan secara manual menggunakan proyektor 16mm, sementara musiknya dimainkan secara langsung.

Pendekatan ini akan membuka kemungkinan presentasi yang lebih improvisasional dan interaktif—menciptakan pengalaman expanded cinema secara langsung.

BC: Bagaimana Anda pertama kali terhubung dengan kolaborator Anda?

LLL: Hubungan ini bermula ketika Rizki Lazuardi, anggota Lab Laba Laba, menonton salah satu film karya Karel Doing di Festival Film dan Video Indonesia pada tahun 2002.

Film tersebut sangat membekas karena direkam menggunakan format Super8 dan merekam potret pedesaan Indonesia pada masa pasca-reformasi, dengan pendekatan yang menggabungkan dokumentasi dengan arsip kolonial.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi titik awal yang membuka kemungkinan kolaborasi di masa depan.

BC: Bagaimana Anda membangun kepercayaan sepanjang proyek ini?

LLL: Praktik pembuatan film analog kini semakin jarang digunakan. Banyak teknologi yang dulu digunakan dalam industri film sudah tidak lagi diproduksi atau didukung. Karena itu, sebagian besar pengetahuan tentang teknik tersebut bergantung pada pengalaman, improvisasi, dan pertukaran pengetahuan antar praktisi.

Dalam konteks ini, para seniman sering kali menjadi penjaga terakhir dari praktik tersebut. Karena itu, menjaga profesionalitas, keterbukaan, dan keandalan selama kolaborasi menjadi hal yang sangat penting agar pengetahuan tersebut tetap dapat bertahan dan berkembang.

BC: Bagaimana proses Anda dalam mengembangkan proyek dan menyiapkan proposal hibah?

LLL: Saat menyusun proposal, kami terlebih dahulu memetakan sumber daya yang terbatas di masing-masing pihak. Keterbatasan tersebut bisa berupa akses teknologi, keterlibatan dalam acara dan platform, maupun pengetahuan akan teknis tertentu.

Dengan memahami apa yang dimiliki dan apa yang masih kurang dari masing-masing pihak, kami dapat merancang proyek kolaboratif yang saling melengkapi. Pendekatan ini memungkinkan terciptanya pertukaran pengetahuan yang lebih bermakna antara kedua pihak.