By Azhar Farizdaffa Risqullah, Editor dan Penerjemah

27 July 2026 - 17:34

Pertunjukan PANJAGO yang menerjemahkan gerakan Silek Minangkabau menjadi suara elektronik imersif melalui sensor gerak dan teknologi audio spasial. © 2025 Rumah Gagas / British Council

Di awal 2025, sebuah kolaborasi lintas budaya terwujud di BEASTFEaST, Birmingham, ketika kolektif seni Indonesia Rumah Gagas menampilkan perdana karya mereka, PANJAGO. Pertunjukan ini merekam koreografi seni bela diri Minangkabau, Silek, melalui sensor gerak yang kemudian diolah menjadi lanskap suara elektronik yang imersif. Dari situ tercipta sebuah dialog yang unik antara pengetahuan tubuh yang diwariskan turun-temurun dengan teknologi modern. 

Sebagai bagian dari program Connection Through Culture (CTC) ke-7, proyek ini mempertemukan Rani Jambak dan Hario Efenur dari Rumah Gagas dengan Prof. Scott Wilson dari University of Birmingham. Dalam percakapan bersama British Council, Rumah Gagas berbagi cerita tentang tantangan berkolaborasi jarak jauh, keseruan mengeksplorasi audio spasial, hingga bagaimana kerja sama profesional ini perlahan berkembang menjadi persahabatan lintas benua.

BC (British Council): Bagaimana proyek ini berjalan, dan bagaimana kolaborasi ini berkembang?

Rumah Gagas (RG): Proyek ini dipresentasikan di BEASTFEaST 2025 di hadapan sekitar 150 penonton, dan tiketnya terjual habis. Bagi kami, itu jadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan kolaborasi ini.

Kami mulai bekerja bersama sejak Januari 2025, diawali dengan diskusi tentang perencanaan awal dan pra-komposisi. Kami mengobrol seputar ritme, sinkronisasi, hingga cara menggabungkan data gerak dan audio dari tiga disiplin artistik berbeda.

Untuk mendukung eksplorasi ini, saya juga sempat mengikuti kursus singkat untuk mempelajari TouchDesigner. Lewat software ini, kami bisa mengubah data gerakan dari koreografi Silek yang dibawakan Hario menjadi sinyal yang langsung terkonversi menjadi suara elektronik.

Sebagian besar prosesnya berlangsung lewat latihan daring yang penuh eksperimen dan trial and error. Seiring kami saling memahami latar belakang musik masing-masing, diskusi pun jadi sangat terfokus.

Pertemuan daring dan obrolan via WhatsApp yang cukup intens memungkinkan kami berbagi ide-ide spontan dan langsung mencobanya bersama. Lama-kelamaan, komunikasi ini membentuk ikatan emosi yang mempererat persahabatan. Ikatan inilah yang membentuk komunikasi musik kami ketika akhirnya bertemu dan berlatih bersama di Birmingham, membuka ruang improvisasi yang responsif meskipun gaya dan pendekatan musik kami berbeda.

BC : Apa pesan atau pemahaman baru yang didapat dari proyek ini?

RG: Sebagai seniman elektronik yang biasanya tampil solo, proyek ini memberikan  perspektif baru tentang bagaimana bekerja dalam ruang kreatif yang kolaboratif. Saya jadi belajar menggunakan software baru, menyesuaikan struktur komposisi agar bisa mengakomodasi berbagai elemen sekaligus, serta memberi ruang bagi ekspresi individual di dalam sebuah pertunjukan spatial audio.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya secara pribadi adalah ketika untuk pertama kalinya menghadiri festival musik electroacoustic di Inggris. Pengalaman konsernya terasa sangat berbeda dari yang pernah saya punya  sebelumnya.

Dalam konser electroacoustic, komposer biasanya mengontrol mixer secara langsung dari tengah ruangan. Ruang pertunjukan juga sering dibuat gelap untuk memperkuat pengalaman mendengar, sehingga suara bisa terasa datang dari berbagai arah.

Selama tiga hari festival berlangsung, keberagaman instrumen dan teknologi yang digunakan membuat setiap pengalaman terasa berbeda. Saya juga merasa tersentuh melihat komposer Indonesia ikut tampil di BEASTFEaST, dengan karya-karya yang banyak menghadirkan perspektif budaya tradisional serta kesadaran ekologis sebagai tema penting dalam komposisi mereka.

BC : Apakah ada perubahan atau tantangan selama proyek berlangsung?

RG: Alih-alih mengalami perubahan, proyek ini justru berkembang secara organik seiring proses eksplorasi yang kami jalani. Kami bereksperimen menggunakan sensor kamera Kinect yang terhubung dengan TouchDesigner dan Ableton, untuk menerjemahkan gerakan Silek menjadi sinyal audio. Kami juga mengeksplorasi frekuensi tradisional talempong batu, lalu mengolahnya menjadi melodi baru melalui sistem coding.

Salah satu tantangan teknis utama adalah soal akses peralatan. Adaptor kamera Kinect yang kami butuhkan cukup sulit ditemukan di Indonesia pada awal 2025, sehingga akhirnya kami harus memesannya dari Malaysia.

Latihan daring juga membawa tantangan tersendiri, terutama karena koneksi internet yang tidak selalu stabil sehingga interaksi visual secara real-time jadi cukup sulit. Meski begitu, kami tetap terus mengumpulkan data, ide, dan catatan selama proses berlangsung. Saat akhirnya bertemu langsung di Birmingham, komunikasi yang sudah terbangun sebelumnya membuat kami bisa lebih fokus menyempurnakan aspek teknis maupun musik dari pertunjukan ini.

BC: Ceritakan satu momen atau pengalaman yang paling berkesan selama perjalanan proyek ini.

RG: Salah satu momen yang paling berkesan adalah melihat bagaimana Silek, dengan pengetahuan dan filosofi yang begitu dalam, bisa bertransformasi menjadi sebuah pertunjukan yang berinteraksi dengan teknologi kontemporer. Ini bukan sekadar soal menggabungkan gerakan tubuh dengan perangkat elektronik, tetapi tentang bagaimana bahasa tubuh yang filosofis dalam Silek bisa sungguh-sungguh berdialog dengan teknologi, suara, dan sistem audio spasial.

Hal lain yang tak kalah berkesan adalah atmosfer BEASTFEaST itu sendiri. Festival ini bukan hanya menjadi panggung bagi para seniman, tetapi juga titik temu bagi para praktisi yang terhubung dengan institusi akademik. Acara seperti ini ikut mendorong perkembangan riset musik, menunjukkan bagaimana eksperimen artistik bisa menjadi bagian dari diskursus akademik yang terus berkembang, sekaligus bergerak seiring dengan kemajuan teknologi global.

Prof. Scott Wilson (kiri), Hario Efenur (tengah), dan Rani Jambak (kanan) dalam kolaborasi proyek PANJAGO. © 2025 Rumah Gagas / British Council
Hario Efenur saat sesi latihan untuk pertunjukan PANJAGO di Birmingham. © 2025 Rumah Gagas / British Council
Publikasi BEASTFEaST 2025. © 2025 Rumah Gagas / British Council

BC: Apa langkah selanjutnya? Apakah ada rencana kolaborasi baru?

RG: Selama kunjungan di Birmingham pada bulan Mei, kami sempat merencanakan dua pertunjukan tambahan di London dan Oxford. Meski rencana tersebut belum sempat terwujud, diskusinya masih terus berjalan hingga sekarang.

Rencana terdekat kami adalah menampilkan pertunjukan ini di Bangkok pada bulan Agustus, tentu dengan catatan pendanaannya akan dikonfirmasi. Di luar itu, kami juga sedang menjajaki kemungkinan untuk menghadirkan proyek ini di Sumatera maupun di berbagai wilayah lain di Indonesia.

BC: Bagaimana Anda pertama kali terhubung dengan kolaborator Anda?

RG: Kami pertama kali terhubung dengan kolaborator kami, Scott Wilson, melalui seorang rekan etnomusikolog dari Warsawa pada tahun 2023. Saat itu kami sedang merencanakan perjalanan ke London, lalu diperkenalkan kepada Scott, yang kemudian mengundang kami untuk ikut dalam sebuah sesi diskusi di University of Birmingham.

Pada tahun 2024, saya juga sempat mempresentasikan karya saya di BEAST Unfestival, yang semakin mempererat hubungan kami. Sejak pertemuan pertama, sebenarnya sudah ada ketertarikan kuat untuk berkolaborasi, hingga akhirnya kami mengembangkan idenya lebih lanjut melalui proposal Connection Through Culture.

BC: Bagaimana Anda dan kolaborator membangun kepercayaan selama proyek berlangsung?

RG: Keterbukaan dan saling menghargai ide-ide menjadi hal yang sangat penting dalam proses ini. Sejak awal, kami menjalani kolaborasi dengan sikap saling mendengarkan dan terbuka terhadap perspektif baru. Latihan yang intens dan disiplin juga punya peran besar.

Menjaga sikap profesional membantu kami berkomunikasi dengan jelas dan tetap fokus mengembangkan karya bersama. Lewat proses itu, rasa percaya tumbuh dengan sendirinya, seiring kami belajar merespons ide satu sama lain baik secara artistik maupun secara personal.

BC: Bagaimana proses Anda dalam mengembangkan proyek dan menyiapkan proposal?

RG: Di awal, kami hanya menanyakan apakah kolaborator kami bersedia terlibat dalam proyek ini. Respon yang kami terima sangat positif, sehingga mendorong kami untuk mulai berdiskusi tentang tema serta arah karya yang ingin dikembangkan.

Dari situ, konsep proyek kami bangun bersama lewat serangkaian percakapan. Begitu arah artistiknya disepakati, kami menyusun draf proposal dan rencana pendanaan secara kolaboratif, sehingga perspektif setiap pihak dapat terwakili dalam rancangan akhir proyek.