By Azhar Farizdaffa Risqullah, Editor dan Penerjemah

13 August 2026 - 11:33

Fasad The Bluecoat, Liverpool. Salah satu pusat seni tertua di Inggris yang menjadi ruang studio, pameran, dan berbagai program budaya dalam rangka Liverpool Biennial. © 2025 Dian Arumningtyas / British Council

Perjalanan perdana saya ke Inggris dimulai dengan cuaca yang terasa lebih seperti musim gugur daripada musim panas. Sesampainya di Manchester, udara yang sejuk membuat saya langsung meraih sweater—sesuatu yang tidak saya bayangkan akan saya lakukan di musim panas. Saya menunggu Kakizi Jemima, delegasi lain dari Rwanda yang tiba hampir bersamaan, sebelum kami melanjutkan perjalanan bersama menuju Liverpool Lime Street Station dengan kereta.

Berpartisipasi dalam program Liverpool Biennial x British Council Biennial Connect Curators Week menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung ekosistem seni dan budaya di Inggris. Program ini berlangsung selama enam hari, ditambah dua hari perjalanan untuk mengunjungi berbagai organisasi seni, museum, serta Kota Bradford yang menjadi UK City of Culture 2025. Setelah program selesai, saya memperpanjang perjalanan dengan singgah di Manchester dan London sebelum kembali ke Indonesia.

Tiba di Liverpool

Sesampainya di Liverpool, kelompok kami disambut hangat oleh tim Liverpool Biennial dan British Council. Dengan hanya delapan kurator dalam satu kelompok, proses saling mengenal terasa lebih mudah. Bertemu dengan Nala, James, Hajra, Joel, Parsa, Lillian, dan Kakizi terasa sangat berarti bahwa tanpa program ini, kemungkinan besar kami tidak akan pernah bertemu.

Kunjungan pertama kami adalah ke The Bluecoat, sebuah bangunan bersejarah yang juga berfungsi sebagai pusat studio, inisiatif kreatif, dan berbagai program seni. Dalam rangka Liverpool Biennial, ruang ini menampilkan karya dari sejumlah seniman, termasuk ChihChung Chang, Amber Akaunu, Alice Rekab, Amy Claire Mills, Odur Ronald, dan Petros Moris.

Kami kemudian melanjutkan kunjungan ke Tate Liverpool/RIBA dan Open Eye Gallery. Di Tate Liverpool/RIBA, karya Hadassa Ngamba ‘Cerveau 2 (2019)’ meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Karya tersebut merefleksikan dampak kolonialisme dan pembagian ruang, serta keterkaitannya dengan ekstraktivisme dan hak-hak masyarakat adat.

Di Open Eye Gallery, tiga seniman menghadirkan pendekatan yang berbeda dalam hal praktik berbasis fotografi. Nandan Ghiya mengubah foto arsip dan bingkai kayu menjadi instalasi berskala ruang. Wildline Cadet menafsirkan ulang sejarah keluarga melalui cetakan fotografi dengan berbagai ukuran. Sementara itu, Katarzyna Perlak menampilkan proyeksi video satu kanal yang puitis dalam ruang bercat merah redup dengan sofa merah, yang direkam di hotel bersejarah, Hotel Adelphi.

Di Pine Court, perhatian saya tertuju pada sebuah kotak kayu di dekat pintu masuk. Sekilas tampak seperti berisi mainan, namun sebenarnya berisi berbagai alat yang disediakan untuk membantu pengunjung dengan kebutuhan yang beragam agar dapat menikmati pameran dengan lebih nyaman.

Di lokasi yang sama, instalasi spesifik lokasi Karen Tam berjudul ‘Scent of Thunderbolt 雷霆之息’ menafsirkan ulang panggung opera Kanton untuk mengeksplorasi memori diaspora Tionghoa dan warisan budaya. Sementara itu di Black-E, karya film Elizabeth Price ‘HERE WE ARE’ menyoroti gereja Katolik di Inggris—khususnya di Liverpool—sebagai ruang bagi komunitas.

Selain venue utama biennial, tim Liverpool Biennial juga memperkenalkan kami pada sejumlah organisasi seni lainnya seperti FACT, METAL, International Slavery Museum, dan The Royal Standard.

Program ini juga mencakup Sector’s Day di The Bluecoat, di mana setiap kurator memimpin sesi selama 45 menit mengenai praktik dan minat kuratorial mereka. Saya mempresentasikan sesi berjudul '70 Years In: The (in)Significance of Political Stages in Cultural Climates', dengan Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955 sebagai titik awal refleksi. Apa yang awalnya dimaksudkan sebagai sesi berbagi santai justru berkembang menjadi diskusi mendalam tentang solidaritas, peran seni dan budaya dalam masyarakat, serta bagaimana para profesional seni dapat meninjau kembali posisi dan agensi mereka.

Bradford dan pertanyaan tentang warisan budaya

Sebagai UK City of Culture 2025, Bradford menerima pendanaan sebesar £50 juta untuk mendukung program seni, komisi karya publik, revitalisasi bangunan, serta pembentukan tim budaya baru.

Dalam presentasi yang kami ikuti, tim Bradford menjelaskan bagaimana dana tersebut digunakan selama setahun terakhir. Namun mereka juga mengangkat pertanyaan penting: bagaimana memastikan dampak dan warisan dari investasi budaya ini dapat berkelanjutan?

Kami menghadiri acara makan siang bersama yang diselenggarakan oleh Bradford Producing Hub, yang mempertemukan kami dengan para pekerja seni lokal. Setelah itu, kami mengunjungi Impressions Gallery dan Loading Bay, sebuah ruang multifungsi yang baru direnovasi sebagai tempat untuk eksperimen artistik dan kegiatan komunitas.

Sebelum kembali ke Liverpool, kami singgah di Salts Mill untuk melihat instalasi Ann Hamilton 'We Will Sing', yang juga menjadi bagian dari Bradford 2025. Karya ini merespons sejarah bangunan tersebut sebagai pabrik tekstil yang berdiri sejak tahun 1850-an. Melalui instalasi tekstil, speaker kinetik, pemutar piringan hitam, dan koran, Hamilton berhasil menciptakan ruang yang kontemplatif.

Pengunjung juga diajak berpartisipasi dengan menulis Letters to the Future, yang kemudian dibacakan dalam sebuah bilik kecil menyerupai kotak pengumuman. Mengalami instalasi ini terasa menenangkan sekaligus nostalgik, seolah membawa pengunjung kembali ke masa ketika pabrik tersebut masih beroperasi.

Instalasi karya Nandan Ghiya di Open Eye Gallery. © 2025 Dian Arumningtyas / British Council
Perangkat pendukung aksesibilitas bagi pengunjung di Pine Court. © 2025 Dian Arumningtyas / British Council
Tampilan pameran We Will Sing karya Ann Hamilton di Salts Mill, Saltaire. © 2025 Dian Arumningtyas / British Council
Materi aksesibilitas di The Whitworth Art Gallery. © 2025 Dian Arumningtyas / British Council
Interior di V&A East Storehouse, London. © 2025 Dian Arumningtyas / British Council

Perjumpaan di luar Biennale

Poppy Bowers dan Vaishna Surjid mengajak saya mengunjungi The Whitworth Art Gallery. Pameran karya Santiago Yahuarcani dan Małgorzata Mirga-Tas mengingatkan saya betapa kuatnya proses belajar yang dapat terjadi melalui pengalaman melihat pameran. Saya juga terkesan dengan cara museum ini memfasilitasi pengunjung, terutama melalui program seperti The Everyday Art School.

Di esea contemporary, Jolene Ong, Si-ieng Fung, Julia Jiang, dan Bengü Gün memperkenalkan saya pada pameran ‘Slavs and Tatars: The Contest of the Fruits’, sekaligus menunjukkan fasilitas residensi dan ruang multifungsi mereka.

Di London, Erin Li dari Delfina Foundation mengajak saya melihat program residensi mereka serta pameran yang menampilkan karya salah satu alumni residensi. Sebelum kembali ke Jakarta, saya mengunjungi V&A East Storehouse yang baru dibuka bersama seniman Indonesia, Evi Pangestu. Berlokasi di dekat London Stadium, kawasan sekitarnya terasa lebih baru dikembangkan dibanding V&A Museum yang bersejarah di kawasan Kensington.

Berbeda dengan tampilan banyaknya koleksi  di V&A Museum utama, V&A East Storehouse memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk melihat proses di balik pengelolaan koleksi museum, menjadikan pekerjaan konservasi dan penyimpanan yang biasanya ‘tak terlihat’ menjadi lebih terbuka dan dapat dipahami.

Independen dan masa depan bersama

Mengalami langsung ekosistem seni di Inggris memberikan pemahaman yang jauh lebih luas dibanding sekadar membaca atau mendengarnya dari orang lain. Sebelum datang, saya mengira sebagian besar organisasi seni di Inggris bekerja melalui pendekatan top-down. Namun saya juga menemukan inisiatif independen seperti Indy Bienniale, yang berjalan di luar kerangka resmi Liverpool Bienniale.

Kunjungan ke The Royal Standard terasa cukup nostalgik bagi saya karena mengingatkan pada ruang seniman seperti Spasial di Bandung. Percakapan dengan tim di sana menekankan pentingnya transfer pengetahuan antargenerasi, terutama ketika platform pengarsipan masih terbatas.

Hal lain yang saya perhatikan adalah bahwa seluruh informasi pameran yang kami kunjungi hanya tersedia dalam bahasa Inggris. Meskipun komunitas di kota-kota tersebut sangat beragam, tidak ada bahasa lain yang digunakan. Datang dari Indonesia—di mana bahasa Inggris sering digunakan berdampingan dengan bahasa nasional dalam pameran—hal ini terasa menjadi perbedaan yang menarik.

Saya meninggalkan Inggris dengan perasaan terinspirasi sekaligus penuh pertanyaan. Dalam berbagai percakapan dengan para seniman profesional, saya menyadari bahwa peluang di sektor seni bisa sama terbatasnya seperti di Indonesia. Praktisi yang berada di tahap pertengahan karier seringkali kesulitan menemukan kesempatan baru untuk berkembang, sementara institusi seni independen menghadapi tantangan besar dalam pendanaan.

Mungkin saya tidak pulang dengan jawaban yang jelas. Namun saya membawa pulang sebuah kesadaran bahwa di berbagai belahan dunia, banyak dari kita yang masih berusaha mencari cara agar seni tetap dapat diekspresikan.