Perjalanan perdana saya ke Inggris dimulai dengan cuaca yang terasa lebih seperti musim gugur daripada musim panas. Sesampainya di Manchester, udara yang sejuk membuat saya langsung meraih sweater—sesuatu yang tidak saya bayangkan akan saya lakukan di musim panas. Saya menunggu Kakizi Jemima, delegasi lain dari Rwanda yang tiba hampir bersamaan, sebelum kami melanjutkan perjalanan bersama menuju Liverpool Lime Street Station dengan kereta.
Berpartisipasi dalam program Liverpool Biennial x British Council Biennial Connect Curators Week menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung ekosistem seni dan budaya di Inggris. Program ini berlangsung selama enam hari, ditambah dua hari perjalanan untuk mengunjungi berbagai organisasi seni, museum, serta Kota Bradford yang menjadi UK City of Culture 2025. Setelah program selesai, saya memperpanjang perjalanan dengan singgah di Manchester dan London sebelum kembali ke Indonesia.
Tiba di Liverpool
Sesampainya di Liverpool, kelompok kami disambut hangat oleh tim Liverpool Biennial dan British Council. Dengan hanya delapan kurator dalam satu kelompok, proses saling mengenal terasa lebih mudah. Bertemu dengan Nala, James, Hajra, Joel, Parsa, Lillian, dan Kakizi terasa sangat berarti bahwa tanpa program ini, kemungkinan besar kami tidak akan pernah bertemu.
Kunjungan pertama kami adalah ke The Bluecoat, sebuah bangunan bersejarah yang juga berfungsi sebagai pusat studio, inisiatif kreatif, dan berbagai program seni. Dalam rangka Liverpool Biennial, ruang ini menampilkan karya dari sejumlah seniman, termasuk ChihChung Chang, Amber Akaunu, Alice Rekab, Amy Claire Mills, Odur Ronald, dan Petros Moris.
Kami kemudian melanjutkan kunjungan ke Tate Liverpool/RIBA dan Open Eye Gallery. Di Tate Liverpool/RIBA, karya Hadassa Ngamba ‘Cerveau 2 (2019)’ meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Karya tersebut merefleksikan dampak kolonialisme dan pembagian ruang, serta keterkaitannya dengan ekstraktivisme dan hak-hak masyarakat adat.
Di Open Eye Gallery, tiga seniman menghadirkan pendekatan yang berbeda dalam hal praktik berbasis fotografi. Nandan Ghiya mengubah foto arsip dan bingkai kayu menjadi instalasi berskala ruang. Wildline Cadet menafsirkan ulang sejarah keluarga melalui cetakan fotografi dengan berbagai ukuran. Sementara itu, Katarzyna Perlak menampilkan proyeksi video satu kanal yang puitis dalam ruang bercat merah redup dengan sofa merah, yang direkam di hotel bersejarah, Hotel Adelphi.
Di Pine Court, perhatian saya tertuju pada sebuah kotak kayu di dekat pintu masuk. Sekilas tampak seperti berisi mainan, namun sebenarnya berisi berbagai alat yang disediakan untuk membantu pengunjung dengan kebutuhan yang beragam agar dapat menikmati pameran dengan lebih nyaman.
Di lokasi yang sama, instalasi spesifik lokasi Karen Tam berjudul ‘Scent of Thunderbolt 雷霆之息’ menafsirkan ulang panggung opera Kanton untuk mengeksplorasi memori diaspora Tionghoa dan warisan budaya. Sementara itu di Black-E, karya film Elizabeth Price ‘HERE WE ARE’ menyoroti gereja Katolik di Inggris—khususnya di Liverpool—sebagai ruang bagi komunitas.
Selain venue utama biennial, tim Liverpool Biennial juga memperkenalkan kami pada sejumlah organisasi seni lainnya seperti FACT, METAL, International Slavery Museum, dan The Royal Standard.
Program ini juga mencakup Sector’s Day di The Bluecoat, di mana setiap kurator memimpin sesi selama 45 menit mengenai praktik dan minat kuratorial mereka. Saya mempresentasikan sesi berjudul '70 Years In: The (in)Significance of Political Stages in Cultural Climates', dengan Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955 sebagai titik awal refleksi. Apa yang awalnya dimaksudkan sebagai sesi berbagi santai justru berkembang menjadi diskusi mendalam tentang solidaritas, peran seni dan budaya dalam masyarakat, serta bagaimana para profesional seni dapat meninjau kembali posisi dan agensi mereka.
Bradford dan pertanyaan tentang warisan budaya
Sebagai UK City of Culture 2025, Bradford menerima pendanaan sebesar £50 juta untuk mendukung program seni, komisi karya publik, revitalisasi bangunan, serta pembentukan tim budaya baru.
Dalam presentasi yang kami ikuti, tim Bradford menjelaskan bagaimana dana tersebut digunakan selama setahun terakhir. Namun mereka juga mengangkat pertanyaan penting: bagaimana memastikan dampak dan warisan dari investasi budaya ini dapat berkelanjutan?
Kami menghadiri acara makan siang bersama yang diselenggarakan oleh Bradford Producing Hub, yang mempertemukan kami dengan para pekerja seni lokal. Setelah itu, kami mengunjungi Impressions Gallery dan Loading Bay, sebuah ruang multifungsi yang baru direnovasi sebagai tempat untuk eksperimen artistik dan kegiatan komunitas.
Sebelum kembali ke Liverpool, kami singgah di Salts Mill untuk melihat instalasi Ann Hamilton 'We Will Sing', yang juga menjadi bagian dari Bradford 2025. Karya ini merespons sejarah bangunan tersebut sebagai pabrik tekstil yang berdiri sejak tahun 1850-an. Melalui instalasi tekstil, speaker kinetik, pemutar piringan hitam, dan koran, Hamilton berhasil menciptakan ruang yang kontemplatif.
Pengunjung juga diajak berpartisipasi dengan menulis Letters to the Future, yang kemudian dibacakan dalam sebuah bilik kecil menyerupai kotak pengumuman. Mengalami instalasi ini terasa menenangkan sekaligus nostalgik, seolah membawa pengunjung kembali ke masa ketika pabrik tersebut masih beroperasi.