Di balik judulnya yang sederhana, Kinship Through Rice sebenarnya membawa gagasan yang cukup dalam. Bukan sekadar tentang beras, proyek ini adalah tentang relasi.
Dikembangkan melalui kolaborasi antara Navetta Studio dan Design Ecologies, proyek ini mencoba melihat bagaimana manusia, tanah, dan sistem pengetahuan saling terhubung. Beras di sini bukan dilihat sebagai komoditas, tapi sebagai pintu masuk untuk memahami ulang cara kita berinteraksi dengan ekologi, budaya, dan desain.
Yang menarik, proyek ini tidak hadir sebagai hasil akhir yang tetap. Ia lebih seperti arsip hidup yang terus berkembang, berubah mengikuti konteks, kolaborator, dan proses yang berjalan.
Ketika realita jadi bagian dari proses
Sejak awal, prosesnya memang tidak berjalan lurus. Ada berbagai tantangan yang muncul, mulai dari kendala teknis, kondisi personal, sampai situasi eksternal seperti lockdown dan krisis lingkungan. Salah satu yang paling terasa adalah banjir besar di Bali, yang sebagian dipicu oleh pembangunan berlebih hingga mengganggu sistem irigasi tradisional seperti subak.
Alih-alih menghentikan proses, kondisi ini justru jadi bagian dari proyek. Ini memperkuat satu hal penting: krisis lingkungan tidak bisa diselesaikan dengan cara berpikir lama yang cenderung eksploitatif. Yang dibutuhkan adalah cara pandang baru yang lebih menekankan hubungan, kepedulian, dan keseimbangan jangka panjang.
Belajar lewat beras
Salah satu pendekatan utama proyek ini adalah lewat karya audio-visual.
Alih-alih menjelaskan secara langsung, proyek ini mengajak kita untuk merasakan. Mereka membuat semacam puisi audio-visual yang menggabungkan berbagai suara, dari manusia, lingkungan, hingga teknologi.
Di sini, pengetahuan tidak “diajarkan”, tapi dialami. Proses kolaborasinya juga terasa berbeda. Bukan hanya antar manusia, tapi juga antara tubuh, alat, dan lanskap. Pendekatan ini mengajak kita untuk berhenti melihat alam sebagai sesuatu yang bisa diambil manfaatnya saja, tapi sebagai sesuatu yang memiliki hubungan dengan kita.
Dari kolaborasi ke regenerasi
Seiring berjalannya waktu, proyek ini juga membuka kesempatan baru.
Salah satunya adalah eksplorasi material dari limbah beras. Ide dasarnya sederhana: bagaimana sisa hasil pertanian bisa diolah jadi material yang punya nilai lebih sekaligus tetap ramah lingkungan.
Pendekatan ini bukan cuma soal inovasi, melainkan juga soal keberlanjutan. Bagaimana praktik kreatif bisa tetap berpihak pada lingkungan sekaligus memberi manfaat bagi komunitas lokal.
Proyek ini juga mendapat dukungan lebih lanjut melalui program Innovate UK Breakthrough Founders, yang membuka peluang untuk pengembangan di masa depan.