By Azhar Farizdaffa Risqullah, Editor dan Penerjemah

01 Oktober 2026 - 17:00

Relational Knowledge Cards mengajak kita memahami desain, ekologi, dan pengetahuan budaya melalui perspektif padi dan keterhubungan antar kehidupan. © 2025 Dr. Britta Boyer / British Council

Di balik judulnya yang sederhana, Kinship Through Rice sebenarnya membawa gagasan yang cukup dalam. Bukan sekadar tentang beras, proyek ini adalah tentang relasi.

Dikembangkan melalui kolaborasi antara Navetta Studio dan Design Ecologies, proyek ini mencoba melihat bagaimana manusia, tanah, dan sistem pengetahuan saling terhubung. Beras di sini bukan dilihat sebagai komoditas, tapi sebagai pintu masuk untuk memahami ulang cara kita berinteraksi dengan ekologi, budaya, dan desain.

Yang menarik, proyek ini tidak hadir sebagai hasil akhir yang tetap. Ia lebih seperti arsip hidup yang terus berkembang, berubah mengikuti konteks, kolaborator, dan proses yang berjalan.

Ketika realita jadi bagian dari proses

Sejak awal, prosesnya memang tidak berjalan lurus. Ada berbagai tantangan yang muncul, mulai dari kendala teknis, kondisi personal, sampai situasi eksternal seperti lockdown dan krisis lingkungan. Salah satu yang paling terasa adalah banjir besar di Bali, yang sebagian dipicu oleh pembangunan berlebih hingga mengganggu sistem irigasi tradisional seperti subak.

Alih-alih menghentikan proses, kondisi ini justru jadi bagian dari proyek. Ini memperkuat satu hal penting: krisis lingkungan tidak bisa diselesaikan dengan cara berpikir lama yang cenderung eksploitatif. Yang dibutuhkan adalah cara pandang baru yang lebih menekankan hubungan, kepedulian, dan keseimbangan jangka panjang.

Belajar lewat beras

Salah satu pendekatan utama proyek ini adalah lewat karya audio-visual.

Alih-alih menjelaskan secara langsung, proyek ini mengajak kita untuk merasakan. Mereka membuat semacam puisi audio-visual yang menggabungkan berbagai suara, dari manusia, lingkungan, hingga teknologi.

Di sini, pengetahuan tidak “diajarkan”, tapi dialami. Proses kolaborasinya juga terasa berbeda. Bukan hanya antar manusia, tapi juga antara tubuh, alat, dan lanskap. Pendekatan ini mengajak kita untuk berhenti melihat alam sebagai sesuatu yang bisa diambil manfaatnya saja, tapi sebagai sesuatu yang memiliki hubungan dengan kita.

Dari kolaborasi ke regenerasi

Seiring berjalannya waktu, proyek ini juga membuka kesempatan baru.

Salah satunya adalah eksplorasi material dari limbah beras. Ide dasarnya sederhana: bagaimana sisa hasil pertanian bisa diolah jadi material yang punya nilai lebih sekaligus tetap ramah lingkungan.

Pendekatan ini bukan cuma soal inovasi, melainkan juga soal keberlanjutan. Bagaimana praktik kreatif bisa tetap berpihak pada lingkungan sekaligus memberi manfaat bagi komunitas lokal.

Proyek ini juga mendapat dukungan lebih lanjut melalui program Innovate UK Breakthrough Founders, yang membuka peluang untuk pengembangan di masa depan. 

Proyek ini melihat lanskap sawah bukan hanya sebagai ruang pertanian, tetapi sebagai ekosistem hidup yang dibentuk oleh budaya, memori, dan kepedulian bersama. © 2025 Dr. Britta Boyer / British Council
Dr. Britta Boyer mengikuti kunjungan lapangan dan diskusi bersama komunitas lokal untuk mengeksplorasi bagaimana sistem pengetahuan tradisional terus membentuk relasi manusia dengan tanah dan alam. © 2025 Dr. Britta Boyer / British Council
Relational Knowledge Cards yang dikembangkan dalam proyek ini, mengajak kita melihat desain bukan sekadar soal objek, tapi sebagai bagian dari hubungan yang lebih luas antara manusia, alam, dan pengetahuan. © 2025 Dr. Britta Boyer / British Council

Memikirkan ulang cara kita mendesain

Output penting lainnya dari proyek ini adalah Relational Knowledge Cards.

Tools ini dirancang untuk menantang cara berpikir desain yang selama ini umum digunakan. Alih-alih langsung mencari solusi, kartu ini mendorong kita untuk memahami konteks terlebih dulu, terutama sistem pengetahuan lokal seperti kosmologi Indonesia.

Gagasannya sederhana tapi kuat. Menggeser desain dari sesuatu yang “mengambil” menjadi sesuatu yang “berhubungan”.

Lewat kartu ini, kita diajak melihat material bukan sekadar objek, tapi bagian dari sistem yang lebih besar. Budaya juga tidak lagi dilihat sebagai referensi, tapi sebagai pengetahuan hidup yang terus berkembang. Dan yang paling penting, pengetahuan tidak dimiliki oleh satu orang saja, tapi dibentuk bersama.

Lebih dari sekadar proyek

Pada akhirnya, Kinship Through Rice bukan cuma soal beras. Ini tentang bagaimana kita memilih untuk bekerja, berkolaborasi, dan menciptakan sesuatu.

Proyek ini mengangkat pertanyaan yang sebenarnya sederhana, tetapi sangat penting. Apa yang terjadi kalau pengetahuan tradisional diabaikan atau bahkan digantikan?

Banjir yang terjadi di Bali selama proyek ini berlangsung jadi pengingat yang nyata. Ketika keseimbangan alam terganggu, dampaknya bukan sesuatu yang jauh atau abstrak. Dampaknya langsung terasa, bisa dilihat, dan benar-benar memengaruhi kehidupan.

Alih-alih menawarkan jawaban pasti, proyek ini justru menunjukkan arah baru. Cara berpikir yang lebih menekankan hubungan antara manusia, alam, dan pengetahuan, sambil menghubungkan praktik masa lalu dengan kemungkinan di masa depan.

Proyek ini juga mengingatkan kita bahwa inovasi tidak selalu datang dari hal-hal yang benar-benar baru. Kadang, inovasi justru muncul dari kembali memahami cara-cara yang sudah ada sejak lama, lalu belajar bagaimana cara bekerja bersama dengan itu, bukan melawannya.

Karena pada akhirnya, nilai dari proyek ini bukan cuma dari apa yang dihasilkan, tapi dari bagaimana ia mengubah cara kita melihat dunia.