Agustinus Wibowo Membaca di Ubud Writers and Readers Festival ©

Dok. oleh British Council

Kami bertemu dengan Agustinus Wibowo di acara Ubud Writers and Readers Festival dan berbincang dengan beliau tentang Sastra Indonesia, proses menulis, dan buku terbaik yang pernah ia baca.

Bagaimana Perasaan Anda ketika terpilih untuk London Book Fair?

Saya sangat bersemangat; cukup kaget karena hanya 12 penulis saja yang terpilih dari sekian banyak penulis Indonesia. Mereka memilih saya, sepertinya karena mereka merasa saya dapat mewakilkan genre travel writing atau sastra perjalanan, genre yang cukup baru di Indonesia. Di abad ke-21 sudah semakin banyak kesempatan bagi orang Indonesia untuk berpergian ke luar negeri maupun keliling Indonesia, sehingga semakin banyak generasi muda yang bepergian dan membentuk sudut pandang mereka akan dunia di luar diri mereka, dan belajar memahami diri mereka. Menurut saya, ini merupakan sebuah kesempatan yang sangat baik.

Hal Apa Saja yang Menarik dari Sastra Indonesia saat ini?

Sastra Indonesia berkembang sangat cepat, dan sangat besar – ini adalah sebuah negera yang populasinya mencapai 250 juta – dan kita telah mengalami perubahan kehidupan sosial sangat drastis berkat reformasi pada tahun 1998. Sebelumnya, pada rezim Suharto, segalanya dikontrol, dari informasi, sampai apa yang ada di pikiran kita, tidak luput dari pengawasan pemerintah. Lalu setelah rezim tersebut berubah, dan kita memasuki era demokrasi dan kebebasan berpendapat, serentak muncul ekspresi baru, penulis baru, pembaca baru, yang bermunculan di seluruh negeri. Bahkan di area pedalaman Indonesia yang terisolasi, bisa kita menemukan penulis dengan sudut pandang sangat luar biasa dan unik.  

Ceritakan Sedikit kepada Kami tentang Sastra Perjalanan Anda.

Saya selalu ingin menjadi seorang jurnalis, tetapi sebagai mahasiswa komputer, saya sama sekali tidak punya pengetahuan jurnalistik atau ilmu sosial, jadi saya pikir, guru terbaik di dunia adalah kehidupan nyata.

Saya memutuskan untuk mengumpulkan uang dan berencana keliling dunia dengan uang ini selama kira-kira 5 tahun. Saya mulai dengan jalan darat dari Cina ke Tibet, Nepal, India, Pakistan, Asia Tengah, dan seterusnya. Ketika saya di India, saya bertemu dangan jurnalis Malaysia yang kemudian mengajarkan saya pengetahuan dasar dan merekomendasikan beberapa narasi perjalanan. Buku pertama yang saya baca adalah karya V.S. Naipaul, di mana saya mempelajari berbagai teknik wawancara dan observasi; yang kemudian membentuk travel writing saya sendiri.

Saya pergi ke Pakistan setelah membaca buku Naipaul dan karyanya benar-benar membantu saya mengerti negeri tersebut lebih mendalam. Saya juga pergi ke Afghanistan dan menjadi seorang jurnalis; Saya keliling negeri tersebut sambil membaca buku-buku perjalanan dan sejarah yang kemudian membantu membentuk sudut pandang saya. Dan karena standar saya adalah Naipaul, saya menjadikannya “batu fondasi” tulisan saya. Saya ingat pada masa itu masih sulit menemukan buku-buku narasi perjalanan, sehingga ketika buku saya terbit, buku tersebut kerap didiskusikan. Pada festival ini saya bertemu beberapa pembaca saya – sebagian mendatangi saya lalu bilang “Oh saya dulu baca buku anda ketika SMA dan sekarang saya juga menjadi penulis, buku anda telah jadi standar saya”. Jadi saya rasa inilah keindahan menulis, karena kita terus berbagi dan terus belajar dari satu sama lain. Ketika kita terus menghasilkan sesuatu dan berbagi cerita, menurut saya ini hal yang sangat indah.

Agustinus Wibowo dan Will Buckingham as speakers bersama Referika Rahmi sebagai moderator dari Greenpeace, pada acara Diskusi Panel di Penutupan Wallacea Week 2018 ©

Dok. oleh British Council

Menurut Anda, Apa Saja yang Bisa dipelajari oleh Penulis Indonesia dari Inggris dan Sebaliknya?

Saya benar-benar tidak bisa berbicara untuk semua penulis Indonesia, tetapi jika melihat dari sisi non-fiksi dan travel writing, penulis Inggris sangat berani untuk berkunjung kemanapun di dunia, dan benar-benar berbaur dengan masyarakat, sambil tetap mempertahankan skeptisisme dan humor Inggris – yang sangat saya sukai. Skeptisisme menjadi sangat penting bagi penulis perjalanan dan jurnalis karena dapat selalu membuat anda mempertanyakan apa yang anda lihat, kemudian mencoba melihat akar dan sebab dibalik fenomena yang anda alami. Jadi saya rasa inilah hal-hal yang saya pelajari dari penulis Inggris. 

Apa yang penulis UK dapat pelajari dari penulis Indonesia... saya tidak begitu tahu!

Apa yang Anda Bawa sebagai Penulis Indonesia, yang Berbeda dibandingkan Penulis Perjalanan Asal Inggris?

Saya pikir ini adalah hal yang sangat personal, karena tidak semua penulis itu sama… bisa saja kita memiliki sudut pandang berbeda, karena Indonesia adalah bekas negara jajahan, jadi ketika kita mengunjungi negara lain kita jarang menganggap diri kita lebih dari mereka. Saya rasa sangat penting untuk tidak menentukan bagaimana bentuk seharusnya sebuah negara. Menurut saya, sikap terbaik ketika berada di masyarakat berbeda adalah dengan berusaha sebanyak mungkin membaur, dan mencoba untuk menjadi bagian dari mereka, mencoba melihat dunia dari sudut pandang berbeda, karena kita tidak tahu sepenuhnya apa saja yang terjadi di suatu tempat, terutama travel writers, karena anda hanya akan berada di tempat itu sebentar, sehingga pengalaman kita tentang suatu tempat akan sangat terbatas. Hal ini tidak spesifik untuk penulis Inggris, secara umum… intinya adalah untuk berusaha menjadi setara.

Apa Buku Terbaik yang Pernah Anda Baca dan Mengapa?

Menurut saya buku terbaik yang pernah saya baca adalah “Sapiens: A Brief History of Humankind (Yuval Noah Harari, Harvill Secker), karena buku ini mendokumentasikan sejarah spesies manusia.

Buku Anda Sudah dibuat menjadi Film, Apa Boleh Ceritakan pada Kami?

Buku ketiga saya lebih mirip seperti riwayat perjalanan. Berisi sebuah cerita ketika saya menemani Ibu saya di hari-hari terakhir dalam hidupnya dengan membacakan kepadanya cerita-cerita dari tempat yang jauh, karena ia tidak pernah bepergian kemanapun. Ketika membacakan cerita-cerita itu, Ibu juga mulai membuka diri. Beliau mulai menceritakan tentang perjalanan hidupnya, sebagai perempuan, sebagai wanita keturunan Cina di Indonesia, kehidupan cintanya, kesedihannya, harapannya, serta keputusasaannya… sehingga pada saat itu juga, saya mulai belajar, untuk kembali mengenal ibu saya. 

Buku ini menjadi cukup populer di Indonesia karena buku ini tidak hanya berbicara tentang destinasi, tetapi juga berbicara tentang perasaan manusia. Banyak pembaca menanggapinya dengan berkata bahwa mereka dapat menemukan cerminan diri mereka sendiri di sana. Saya rasa ini merupakan inti dari narasi perjalanan, ketika pengalaman penulis dapat juga dirasa sebagai cerminan diri pembacanya. Perjalanan fisiknya bisa saja berbeda, tetapi sebagian besar perjalanan emosionalnya bisa sama. Kita menyetujui ini di tahun 2016 jadi sepertinya sekarang sudah memasuki proses penulisan naskah.

Tentang Dikenal sebagai Penulis Perjalanan...

Sebenarnya, saya tidak terlalu ingin disebut travel writer. Sebutan itu hanya untuk orang yang berkunjung ke berbagai destinasi dan menulis tentang pengalaman mereka, sedangkan karya saya tidak melulu mengenai tipe perjalanan seperti ini. Saat tiba di rumah dan menulis tentang perjalanan-perjalanan saya, saya menyadari bahwa isu terbesar yang melajukan perjalanan saya adalah isu tentang identitas. Saya tumbuh dari kalangan minoritas di Indonesia, sehingga pertanyaan tentang identitas, pertanyaan tentang rumah, selalu membuat saya mempertanyakan tentang siapa saya, di mana saya berada, dan di mana rumah saya. Pertanyaan ini membawa saya ke Cina, ke tanah leluhur saya, untuk mencari tahu apakah di sanalah tempat saya seharusnya berada. Tetapi ternyata saya tetap saja orang luar.

Di Indonesia, saya mengalami banyak diskriminasi sosial yang kemudian mengarahkan saya untuk mencari konsep rumah. Hal tersebut membawa saya ke India, Afghanistan, dan Pakistan, untuk melihat makna rumah dari berbagai sudut pandang berbeda. Sehingga tujuan utama perjalanan saya sebenarnya adalah untuk melihan cerminan diri saya sendiri. Saya merasa pertanyaan dari dalam diri saya mencerminkan orang-orang yang saya temui dan pengalaman yang saya dapat ketika berinteraksi dengan mereka. Bagi saya, bepergian itu seperti cermin ini, di mana saya bisa melihat ke dalam diri saya. Jadi, bepergian adalah melihat keluar, untuk dapat kembali melihat ke dalam.

 

Tautan luar