Udara dingin di Inggris menghadirkan suasana yang khas. Tenang, sedikit sunyi, dan memberi ruang untuk refleksi. Dalam kondisi seperti itu, pikiran terasa lebih peka terhadap hal-hal kecil yang biasanya terlewat. Rasanya menjadi alasan yang tepat untuk mengikuti hcmf//.
Perjalanan sejauh kurang lebih 14.000 kilometer tentu membawa ekspektasi tersendiri. Festival dengan sejarah panjang seperti hcmf// yang sudah berlangsung sejak 1978 membuat kita membayangkan akan bertemu dengan gagasan musik yang progresif dan praktik artistik yang terus bergerak ke depan.
Dengan rangkaian pertunjukan yang berlangsung selama beberapa hari, persiapan mental juga menjadi penting. Ketika terus disuguhi dengan intensitas artistik, rasa kewalahan kemungkinan muncul tanpa disadari.
Di titik ini, menjaga keseimbangan antara ingin tahu dan tidak terlalu tahu menjadi penting. Terlalu banyak ekspektasi bisa mengurangi rasa penasaran, sementara terlalu banyak ketidakpastian justru bisa melelahkan.
Perubahan atmosfer
Tiba di Yorkshire setelah terbiasa dengan panas dan lembabnya Jakarta langsung terasa kontras. Jakarta adalah kota dengan ritme yang cepat dan penuh tekanan, sementara Huddersfield terasa lebih tenang dan terkonsentrasi.
Bagi yang terbiasa dengan tempo Jakarta, mengikuti festival seperti hcmf// membutuhkan penyesuaian, baik secara fisik maupun cara mendengarkan. Musik kontemporer menuntut perhatian yang lebih fokus dan sering kali lebih sabar.
Namun justru perpindahan cepat antara dua dunia yang berbeda ini yang membuat pengalaman terasa bermakna. Hal ini mencerminkan bagaimana kita hari ini sering bergerak di antara berbagai realitas dalam waktu yang singkat.
Mendengarkan di ambang ekspektasi
Di hcmf//, kemampuan beradaptasi benar-benar diuji. Festival ini menghadirkan spektrum pertunjukan yang luas, mulai dari ansambel besar, solo instrumental, hingga kelompok musik elektronik.
Berpindah dari satu konser ke konser lain berarti juga berpindah cara mendengarkan. Ragam pendekatan artistik yang ditawarkan bisa terasa padat, bahkan melelahkan, tetapi di situlah letak energi festival ini.
Terlepas dari perbedaan format, kualitas setiap pertunjukan terasa sangat terjaga. Perhatian terhadap detail suara, presisi teknis, hingga kehadiran di atas panggung terlihat konsisten di hampir semua penampilan.
Tentu saja, preferensi pribadi tetap berperan. Ketika sebuah karya terasa dekat dengan kecenderungan kita dalam mendengar, ia akan meninggalkan kesan yang lebih kuat.
Momen yang membekas
Beberapa pertunjukan terasa sangat membekas. Violinis Olivia de Prato, Mivos Quartet yang juga ia bagian di dalamnya, serta trio improvisasi The Contest of Pleasures menghadirkan pengalaman yang terasa teknis sekaligus imersif.
Trio ini yang terdiri dari John Butcher pada saksofon, Axel Dörner pada terompet, dan Xavier Charles pada klarinet membawakan improvisasi berdurasi sekitar satu jam. Pertunjukan ini dirancang khusus mengikuti akustik Huddersfield Town Hall, sebuah bangunan bergaya Victoria yang menjadi salah satu venue utama festival.
Mereka mengolah nafas, resonansi, dan ruang menjadi lanskap suara yang hampir menghipnotis. Mendengarkannya terasa bukan seperti menonton konser, melainkan seperti masuk ke dalam ruang bunyi yang terus bergerak.
Sementara itu, Mivos Quartet melalui karya Chikako Morishita dan George Lewis mengeksplorasi kemungkinan baru dan memperluas definisi format kuartet. Presisi teknik dan intensitas ekspresinya menciptakan pengalaman yang sangat kuat bagi penonton.
Momen-momen ini memperlihatkan keseimbangan antara yang familiar dan yang eksperimental. Ada pertemuan antara bahasa musik yang sudah dikenal dengan eksplorasi artistik yang lebih berani.