By Azhar Farizdaffa Risqullah, Editor dan Penerjemah

08 July 2026 - 20:20

Terowongan Standedge, Kanal Sempit Huddersfield. © 54north 

Udara dingin di Inggris menghadirkan suasana yang khas. Tenang, sedikit sunyi, dan memberi ruang untuk refleksi. Dalam kondisi seperti itu, pikiran terasa lebih peka terhadap hal-hal kecil yang biasanya terlewat. Rasanya menjadi alasan yang tepat untuk mengikuti hcmf//.

Perjalanan sejauh kurang lebih 14.000 kilometer tentu membawa ekspektasi tersendiri. Festival dengan sejarah panjang seperti hcmf// yang sudah berlangsung sejak 1978 membuat kita membayangkan akan bertemu dengan gagasan musik yang progresif dan praktik artistik yang terus bergerak ke depan.

Dengan rangkaian pertunjukan yang berlangsung selama beberapa hari, persiapan mental juga menjadi penting. Ketika terus disuguhi dengan intensitas artistik, rasa kewalahan kemungkinan muncul tanpa disadari.

Di titik ini, menjaga keseimbangan antara ingin tahu dan tidak terlalu tahu menjadi penting. Terlalu banyak ekspektasi bisa mengurangi rasa penasaran, sementara terlalu banyak ketidakpastian justru bisa melelahkan.

Perubahan atmosfer

Tiba di Yorkshire setelah terbiasa dengan panas dan lembabnya Jakarta langsung terasa kontras. Jakarta adalah kota dengan ritme yang cepat dan penuh tekanan, sementara Huddersfield terasa lebih tenang dan terkonsentrasi.

Bagi yang terbiasa dengan tempo Jakarta, mengikuti festival seperti hcmf// membutuhkan penyesuaian, baik secara fisik maupun cara mendengarkan. Musik kontemporer menuntut perhatian yang lebih fokus dan sering kali lebih sabar.

Namun justru perpindahan cepat antara dua dunia yang berbeda ini yang membuat pengalaman terasa bermakna. Hal ini mencerminkan bagaimana kita hari ini sering bergerak di antara berbagai realitas dalam waktu yang singkat.

Mendengarkan di ambang ekspektasi

Di hcmf//, kemampuan beradaptasi benar-benar diuji. Festival ini menghadirkan spektrum pertunjukan yang luas, mulai dari ansambel besar, solo instrumental, hingga kelompok musik elektronik.

Berpindah dari satu konser ke konser lain berarti juga berpindah cara mendengarkan. Ragam pendekatan artistik yang ditawarkan bisa terasa padat, bahkan melelahkan, tetapi di situlah letak energi festival ini.

Terlepas dari perbedaan format, kualitas setiap pertunjukan terasa sangat terjaga. Perhatian terhadap detail suara, presisi teknis, hingga kehadiran di atas panggung terlihat konsisten di hampir semua penampilan.

Tentu saja, preferensi pribadi tetap berperan. Ketika sebuah karya terasa dekat dengan kecenderungan kita dalam mendengar, ia akan meninggalkan kesan yang lebih kuat.

Momen yang membekas

Beberapa pertunjukan terasa sangat membekas. Violinis Olivia de Prato, Mivos Quartet yang juga ia bagian di dalamnya, serta trio improvisasi The Contest of Pleasures menghadirkan pengalaman yang terasa teknis sekaligus imersif.

Trio ini yang terdiri dari John Butcher pada saksofon, Axel Dörner pada terompet, dan Xavier Charles pada klarinet membawakan improvisasi berdurasi sekitar satu jam. Pertunjukan ini dirancang khusus mengikuti akustik Huddersfield Town Hall, sebuah bangunan bergaya Victoria yang menjadi salah satu venue utama festival.

Mereka mengolah nafas, resonansi, dan ruang menjadi lanskap suara yang hampir menghipnotis. Mendengarkannya terasa bukan seperti menonton konser, melainkan seperti masuk ke dalam ruang bunyi yang terus bergerak.

Sementara itu, Mivos Quartet melalui karya Chikako Morishita dan George Lewis mengeksplorasi kemungkinan baru dan memperluas definisi format kuartet. Presisi teknik dan intensitas ekspresinya menciptakan pengalaman yang sangat kuat bagi penonton.

Momen-momen ini memperlihatkan keseimbangan antara yang familiar dan yang eksperimental. Ada pertemuan antara bahasa musik yang sudah dikenal dengan eksplorasi artistik yang lebih berani.

Bukit Kastil © Richard Harvey
Seth Parker Woods menampilkan Iced Bodies di hcmf// 2019. © Graham Hardy
Kelly Jayne Jones di hcmf// 2019. © Graham Hardy

Tentang audiens

Di balik kualitas pertunjukan yang tinggi, ada satu hal lain yang memunculkan pertanyaan.

Selama festival berlangsung, komposisi audiens terlihat cukup homogen, dengan dominasi penonton dari kelompok usia yang lebih senior. Ini merupakan pola yang sering ditemukan dalam konteks musik eksperimental dan kontemporer.

Di satu sisi, hal ini menunjukkan kuatnya dukungan infrastruktur budaya di banyak negara Barat. Akses terhadap pendanaan publik, transportasi yang memadai, serta budaya menikmati waktu luang memungkinkan kelompok usia ini tetap aktif dalam kehidupan budaya.

Namun di sisi lain, muncul pertanyaan penting. Bagaimana festival seperti hcmf// dapat menjangkau audiens yang lebih muda dan beragam?

Musik eksperimental sering kali terasa jauh bagi mereka yang belum terbiasa dengan bahasanya. Membuka ruang dialog antara seniman dan penonton, atau menghadirkan format yang lebih partisipatif, bisa menjadi salah satu pendekatan.

Festival dan ekosistemnya

Menurut direktur festival, Graham McKenzie, upaya untuk menjangkau audiens muda sebenarnya sudah dilakukan, termasuk melalui kerja sama dengan sekolah dan institusi pendidikan.

Di luar festival, Huddersfield memiliki latar sejarah yang menarik. Kota ini pernah menjadi pusat industri tekstil di Inggris sejak abad ke-19. Perkembangan industri ini kemudian menarik berbagai komunitas migran yang turut membentuk lanskap budaya di wilayah tersebut.

Di pusat kota, arsitektur bergaya Victoria berdampingan dengan bangunan modern. Keduanya menjadi penanda perubahan dan perkembangan kota dari waktu ke waktu. Dalam konteks ini, kehadiran festival musik eksperimental berskala internasional di kota dengan ukuran relatif kecil ini menjadi hal yang menarik untuk dipikirkan.

Pelajaran dari perjalanan

Mengamati hcmf// dari sudut pandang seorang praktisi budaya memunculkan sejumlah pertanyaan yang lebih luas. Sejauh mana festival ini terhubung dengan komunitas di sekitarnya? Bagaimana relasinya dengan institusi pendidikan lokal? Strategi apa yang dapat memperkuat keterlibatannya dengan audiens yang lebih muda?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya relevan bagi Huddersfield. Hal serupa juga dapat ditemukan di berbagai konteks budaya di seluruh dunia. Ketika kembali ke Indonesia, refleksi ini menjadi semakin penting. Festival seperti hcmf// tidak hanya memberikan gambaran tentang kualitas artistik, tetapi juga tentang hubungan antara budaya, pendidikan, dan komunitas.

Pada akhirnya, menjaga keberlanjutan ekosistem seni membutuhkan dialog yang terus berjalan antara institusi, seniman, dan audiens. Di tengah perubahan sosial yang berlangsung pesat, tantangannya tetap sama. Bagaimana menjaga kedalaman artistik sekaligus tetap terhubung dengan masyarakat di sekitarnya.

Bagi seniman dan praktisi budaya, ketegangan ini justru menjadi ruang untuk terus belajar dan berkembang.