By Azhar Farizdaffa Risqullah, Editor dan Penerjemah

08 July 2026 - 19:08

Buku program Huddersfield Contemporary Music Festival (hcmf//). © 2025 Halida Bunga Fisandra / British Council

Bunyi tembakan membuka pertunjukan malam itu. 

Komposer dan musisi Norwegia Håkon Thelin menggotong double bass di pundak kanan, memetik senarnya sekeras mungkin sambil mengenakan headphone untuk melindungi pendengarannya. Scroll double bass diarahkan ke Andreas Borregaard, akordionis yang telah melapis fragmen-fragmen keseharian sepanjang karya tersebut. Mereka menjawab pertanyaan mendasar yang diajukan dalam catatan karya: what does it mean to be human?

Komposer asal Irlandia Jennifer Walshe, yang menjadi composer in residence di Huddersfield Contemporary Music Festival (hcmf//), mengelaborasi pertanyaan tersebut melalui karya PERSONHOOD (2021) berdurasi 50 menit. Karya ini dimainkan oleh Oslo Sinfonietta dalam formasi flute, oboe, clarinet, bassoon, horn, trumpet, perkusi, piano, biola, cello, dan double bass.

Sejak duduk di kursi penonton di Teater Lawrence Batley, Huddersfield, saya menyimak pengalaman musikal yang dibangun Walshe melalui teks, narasi, tubuh, dan instrumen. Bunyi tidak hanya hadir dari instrumen musik, tetapi juga dari potongan-potongan speech yang menarasikan bagaimana tubuh manusia dan kesadarannya kerap terjebak dalam sistem kehidupan modern yang diawasi teknologi.

Bagaimana manusia dapat tetap menjadi dirinya sendiri ketika kesehariannya dipantau oleh perangkat digital? Bagaimana relasi manusia dengan objek berubah dalam lanskap teknologi hari ini? Pertanyaan-pertanyaan tentang identitas, kehadiran, dan keberhargaan diri menjadi latar bagi eksplorasi Walshe.

Borregaard berdiri di tengah panggung, dikelilingi para instrumentalis Oslo Sinfonietta. Ia melantunkan teks, sementara instrumen lain membangun bunyi masing-masing hingga intensitas suara dan kata semakin padat. Meski memiliki jalur bunyi yang berbeda, semuanya seolah bertemu dalam waktu-waktu tertentu yang telah dirancang oleh Walshe.

Huddersfield dan lanskap festival bunyi

PERSONHOOD membuka hcmf// dengan kuat. Pertunjukan tersebut menjadi pengalaman pertama saya setelah tiba di Huddersfield pada 17 November 2023. Kota ini terasa sibuk namun tetap tenang, bergerak lambat, tetapi tetap bergegas. Cuacanya dingin dan sedikit mendung menjelang musim akhir tahun. Huddersfield tampak seperti kota yang dibentuk oleh waktu untuk menjadi ruang belajar.

Huddersfield Contemporary Music Festival tumbuh dari universitas di kota ini dan hadir dalam atmosfer yang tenang tersebut. Selama sepuluh hari, berbagai pertunjukan musik kontemporer berlangsung di gedung konser, ruang seni, hingga bangunan publik yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki.

Festival ini menjadi ruang yang nyaman untuk menyimak, bertemu, berjejaring, dan mengalami bunyi secara dekat. Hal ini mempertemukan musisi dan komposer dari seluruh dunia sekaligus mendorong terciptanya ruang untuk percakapan dan kolaborasi.

Melalui karya Walshe pada malam pembukaan, saya merasa seperti sedang diperkenalkan pada cakrawala artistik baru sebelum menghadapi puluhan karya lain selama festival berlangsung.

Jaringan festival dan pertemuan praktisi

Opening weekend menjadi pengalaman yang berkesan karena resepsi yang diselenggarakan festival membuka peluang bagi para peserta untuk saling berkenalan.

Graham McKenzie, Direktur Artistik hcmf//, menyambut para tamu dan praktisi musik yang hadir. Ia juga mengingatkan bahwa festival ini telah membangun jaringan internasional selama lebih dari empat dekade sejak pertama kali digagas oleh Richard Steinitz pada tahun 1978.

Dalam sebuah percakapan singkat di atrium universitas, Steinitz menceritakan masa awal festival yang pernah menampilkan tokoh-tokoh besar seperti John Cage, Pierre Boulez, dan Olivier Messiaen. Nama-nama yang sebelumnya hanya saya kenal dari buku sejarah musik, kini terasa lebih dekat melalui cerita tersebut.

Saya hadir di opening weekend sebagai delegasi dari Indonesia melalui British Council, sekaligus mewakili kolektif yang saya bangun bersama rekan-rekan perempuan komponis di Indonesia, Perempuan Komponis: Forum & Lab.

Selama resepsi, saya berkesempatan bertemu praktisi dari berbagai negara seperti Irlandia, Lithuania, Ukraina, Inggris, dan Thailand. Dalam percakapan dengan Graham, ia menegaskan bahwa kekuatan festival ini terletak pada kolaborasi yang dibangun selama bertahun-tahun.

Salah satu pertunjukan karya Golnaz Shariatzadeh yang memadukan visual dan suara dalam eksplorasi musik kontemporer. © 2025 Halida Bunga Fisandra / British Council
Graham McKenzie, Direktur Artistik hcmf//, menyampaikan sambutan pada pembukaan festival di Huddersfield. © 2025 Halida Bunga Fisandra / British Council
Salah satu pertunjukan karya Golnaz Shariatzadeh yang memadukan visual dan suara dalam eksplorasi musik kontemporer. © 2025  Halida Bunga Fisandra / British Council
Penampilan Hadal Zone menghadirkan eksplorasi suara dan atmosfer dalam ruang pertunjukan festival. © 2025 Halida Bunga Fisandra / British Council
Diskusi panel Why Make Art About Anything Else? © 2025  Halida Bunga Fisandra / British Council

Eksplorasi bunyi dan imajinasi komposer

Selama festival, berbagai karya menghadirkan pendekatan yang berbeda terhadap bunyi.

Jennifer Walshe, Rebecca Saunders, Øyvind Torvund, Laura Bowler, Golnaz Shariatzadeh, Žibuoklė Martinaitytė, Rosie Middleton, hingga trio improvisasi The Contest of Pleasures menampilkan eksplorasi yang kuat dan beragam.

Komposisi-komposisi tersebut tidak hanya mengandalkan instrumen musik, tetapi juga dramaturgi, penampilan, teks, elektronik, dan berbagai medium lain. Tubuh seniman menjadi bagian dari komposisi, dan energinya saat tampi lturut menjalar kepada para penonton.

Bagi saya, yang menarik bukan hanya bunyi yang dihasilkan, tetapi juga gagasan di baliknya. Setiap komposer tampaknya mencoba menjawab pertanyaan yang berbeda terkait persepsi, narasi, dan pengalaman dalam mendengarkan penampilan tersebut.

Improvisasi dan bedikasi

Salah satu pengalaman musikal paling mengesankan bagi saya terjadi pada hari kelima festival di Huddersfield Town Hall melalui pertunjukan The Contest of Pleasures.

Trio ini terdiri dari John Butcher (saksofon), Xavier Charles (klarinet), dan Axel Dorner (trompet). Selama dua puluh tahun mereka bermain bersama, dan kedekatan itu terasa dalam cara mereka berinteraksi dengan bunyi.

Mendengarkan mereka rasanya seperti menyimak musik elektronik yang dimainkan dengan instrumen tiup. Mereka memanfaatkan ruang akustik, menggunakan udara sebagai medium utama, dan memanipulasi napas untuk menghasilkan suara-suara yang tidak terduga.

Improvisasi mereka terasa alami, seolah bunyi tumbuh langsung dari interaksi dengan ruang. Bahkan keheningan yang mereka pilih terasa sama pentingnya dengan suara yang mereka hasilkan.

Pertunjukan tersebut mengungkapkan dedikasi yang mendalam terhadap bunyi—sesuatu yang hanya dapat terwujud melalui ketekunan, kesabaran, dan komitmen yang sudah berlangsung lama terhadap eksplorasi musikal.

Bunyi dan kesadaran iklim

Selain konser, festival juga menghadirkan seri diskusi bertajuk ‘The Current Climate’ yang membahas relasi antara musik dan krisis iklim.

Salah satu slogan yang muncul dalam diskusi tersebut adalah: “No music on a dead planet.”

Melalui panel seperti ‘Is Europe Greener?’ dan ‘Why Make Art About Anything Else?’, para musisi dan praktisi seni membahas bagaimana praktik berkesenian dapat menjadi lebih berkelanjutan.

Beberapa pendekatan yang dibahas termasuk perjalanan lambat (slow travel) untuk mengurangi jejak karbon, penggunaan pengetahuan lokal, hingga cara-cara kreatif membangun kesadaran publik melalui musik.

Membawa pulang bunyi

Saya hampir mengikuti seluruh festival yang berlangsung selama 10 hari ini. Graham bahkan sempat bercanda bahwa saya hampir menjadi peserta 'hardcore' hcmf//.

Meski tidak sepenuhnya mengikuti semua rangkaian acara, pengalaman ini telah membentuk cara pandang baru bagi saya. Festival ini membuka kemungkinan eksplorasi bunyi yang tak terbatas, sekaligus memperlihatkan dedikasi para komponis dan musisi dalam menyampaikan gagasan melalui musik.

Saya sangat bersyukur dapat menyaksikan langsung pertemuan para komponis, musisi, peneliti, dan aktivis musik dari berbagai negara yang dengan kesabaran dan ketekunan menyebarkan ide-ide mereka melalui bunyi.

Terima kasih kepada British Council Indonesia yang telah membuka kesempatan bagi saya untuk mewakili Indonesia dan Perempuan Komponis: Forum & Lab dalam perayaan bunyi berskala internasional ini.

Harapannya, pengalaman yang singkat ini dapat menjadi semangat untuk terus membangun ekosistem musik yang lebih progresif, inklusif, dan terbuka di Indonesia.