Bunyi tembakan membuka pertunjukan malam itu.
Komposer dan musisi Norwegia Håkon Thelin menggotong double bass di pundak kanan, memetik senarnya sekeras mungkin sambil mengenakan headphone untuk melindungi pendengarannya. Scroll double bass diarahkan ke Andreas Borregaard, akordionis yang telah melapis fragmen-fragmen keseharian sepanjang karya tersebut. Mereka menjawab pertanyaan mendasar yang diajukan dalam catatan karya: what does it mean to be human?
Komposer asal Irlandia Jennifer Walshe, yang menjadi composer in residence di Huddersfield Contemporary Music Festival (hcmf//), mengelaborasi pertanyaan tersebut melalui karya PERSONHOOD (2021) berdurasi 50 menit. Karya ini dimainkan oleh Oslo Sinfonietta dalam formasi flute, oboe, clarinet, bassoon, horn, trumpet, perkusi, piano, biola, cello, dan double bass.
Sejak duduk di kursi penonton di Teater Lawrence Batley, Huddersfield, saya menyimak pengalaman musikal yang dibangun Walshe melalui teks, narasi, tubuh, dan instrumen. Bunyi tidak hanya hadir dari instrumen musik, tetapi juga dari potongan-potongan speech yang menarasikan bagaimana tubuh manusia dan kesadarannya kerap terjebak dalam sistem kehidupan modern yang diawasi teknologi.
Bagaimana manusia dapat tetap menjadi dirinya sendiri ketika kesehariannya dipantau oleh perangkat digital? Bagaimana relasi manusia dengan objek berubah dalam lanskap teknologi hari ini? Pertanyaan-pertanyaan tentang identitas, kehadiran, dan keberhargaan diri menjadi latar bagi eksplorasi Walshe.
Borregaard berdiri di tengah panggung, dikelilingi para instrumentalis Oslo Sinfonietta. Ia melantunkan teks, sementara instrumen lain membangun bunyi masing-masing hingga intensitas suara dan kata semakin padat. Meski memiliki jalur bunyi yang berbeda, semuanya seolah bertemu dalam waktu-waktu tertentu yang telah dirancang oleh Walshe.
Huddersfield dan lanskap festival bunyi
PERSONHOOD membuka hcmf// dengan kuat. Pertunjukan tersebut menjadi pengalaman pertama saya setelah tiba di Huddersfield pada 17 November 2023. Kota ini terasa sibuk namun tetap tenang, bergerak lambat, tetapi tetap bergegas. Cuacanya dingin dan sedikit mendung menjelang musim akhir tahun. Huddersfield tampak seperti kota yang dibentuk oleh waktu untuk menjadi ruang belajar.
Huddersfield Contemporary Music Festival tumbuh dari universitas di kota ini dan hadir dalam atmosfer yang tenang tersebut. Selama sepuluh hari, berbagai pertunjukan musik kontemporer berlangsung di gedung konser, ruang seni, hingga bangunan publik yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki.
Festival ini menjadi ruang yang nyaman untuk menyimak, bertemu, berjejaring, dan mengalami bunyi secara dekat. Hal ini mempertemukan musisi dan komposer dari seluruh dunia sekaligus mendorong terciptanya ruang untuk percakapan dan kolaborasi.
Melalui karya Walshe pada malam pembukaan, saya merasa seperti sedang diperkenalkan pada cakrawala artistik baru sebelum menghadapi puluhan karya lain selama festival berlangsung.
Jaringan festival dan pertemuan praktisi
Opening weekend menjadi pengalaman yang berkesan karena resepsi yang diselenggarakan festival membuka peluang bagi para peserta untuk saling berkenalan.
Graham McKenzie, Direktur Artistik hcmf//, menyambut para tamu dan praktisi musik yang hadir. Ia juga mengingatkan bahwa festival ini telah membangun jaringan internasional selama lebih dari empat dekade sejak pertama kali digagas oleh Richard Steinitz pada tahun 1978.
Dalam sebuah percakapan singkat di atrium universitas, Steinitz menceritakan masa awal festival yang pernah menampilkan tokoh-tokoh besar seperti John Cage, Pierre Boulez, dan Olivier Messiaen. Nama-nama yang sebelumnya hanya saya kenal dari buku sejarah musik, kini terasa lebih dekat melalui cerita tersebut.
Saya hadir di opening weekend sebagai delegasi dari Indonesia melalui British Council, sekaligus mewakili kolektif yang saya bangun bersama rekan-rekan perempuan komponis di Indonesia, Perempuan Komponis: Forum & Lab.
Selama resepsi, saya berkesempatan bertemu praktisi dari berbagai negara seperti Irlandia, Lithuania, Ukraina, Inggris, dan Thailand. Dalam percakapan dengan Graham, ia menegaskan bahwa kekuatan festival ini terletak pada kolaborasi yang dibangun selama bertahun-tahun.