Menghadiri The Great Escape Festival (TGE) 2025 adalah pengalaman yang membanggakan sekaligus membuka banyak pembelajaran. Kesempatan untuk mewakili Indonesia di acara musik internasional ini bukan hanya soal menikmati pertunjukan langsung, tetapi juga melihat dari dekat bagaimana sebuah kota, institusi, dan komunitas kreatifnya dapat bekerja bersama membangun ekosistem musik yang hidup.
Apa yang saya temui di Brighton bukan sekadar festival musik. Ia juga menjadi pelajaran tentang kemitraan, koordinasi, dan pertukaran budaya.
Brighton sebagai Panggung Festival Kota
Selama The Great Escape Festival, kota Brighton berubah menjadi panggung urban yang penuh energi. Pada tahun 2025, lebih dari 400 musisi dari berbagai genre mulai dari indie rock, elektronik, pop, hip-hop hingga jazz tampil di lebih dari 30 venue yang tersebar di seluruh kota.
Format multi-venue ini menciptakan pengalaman festival yang sangat khas. Pertunjukan berlangsung di berbagai tempat: teater bersejarah, klub musik, pub, gereja, hingga ruang pop-up sementara. Seluruh kota terasa seperti satu panggung besar yang mengundang orang untuk menjelajah dan menemukan musik baru.
Sebelum datang ke festival ini, beberapa nama seperti Graywave, Velvetine, Bruise Control, dan Gloin sudah lebih dulu masuk ke playlist saya. Namun Brighton juga memperkenalkan banyak talenta baru yang tak kalah menarik, seperti Priyaji, Mary Mathias, dan She Her Her Hers.
Sebagai delegasi, menavigasi jadwal pertunjukan menjadi tantangan tersendiri. Kami berpindah dari satu venue ke venue lain untuk mengejar penampilan yang sering kali berlangsung hampir bersamaan. Rekomendasi dari sesama delegasi atau notifikasi dari aplikasi festival sering menjadi penentu ke mana kami harus pergi berikutnya.
Terkadang ada juga momen yang tak terduga seperti ketika saya gagal menonton Graywave karena venue sudah penuh, lalu harus bergegas ke The Hope & Ruin untuk mengejar penampilan Astral Bakers. Situasi-situasi seperti ini justru menjadi bagian dari ritme festival: padat, dinamis, dan penuh kejutan.
Yang paling mengesankan dari terselenggaranya festival ini adalah bagaimana festival sebesar ini tetap berjalan dengan sangat rapi dan efisien. Kesuksesan The Great Escape jelas bukan sesuatu yang terjadi secara instan, melainkan hasil dari kolaborasi yang dibangun selama bertahun-tahun.
Simfoni koordinasi: Pelajaran dari Brighton
Salah satu hal paling menarik yang saya pelajari—terutama setelah berbincang dengan tim penyelenggara—adalah kuatnya kemitraan antara penyelenggara festival, Brighton & Hove City Council, dan jaringan venue lokal.
Di permukaan, festival ini terlihat berjalan dengan sangat alami. Namun di baliknya ada proses panjang membangun kerja sama, kepercayaan, dan visi bersama untuk masa depan budaya kota.
Para penyelenggara juga terbuka bahwa perjalanan festival ini tidak selalu mudah, bahkan pada awalnya belum tentu menguntungkan secara finansial. Namun semua pihak memiliki pemahaman yang sama bahwa nilai The Great Escape jauh melampaui keuntungan ekonomi.
Festival ini menunjukkan bagaimana sebuah kota dan komunitas musiknya dapat bekerja bersama menciptakan dampak budaya yang berkelanjutan. Brighton tidak hanya menjadi tuan rumah festival, tetapi benar-benar menjadi bagian dari ekosistemnya.
Bagi musisi Inggris yang sedang berkembang, festival ini menjadi panggung penting untuk memperkenalkan karya mereka ke audiens internasional. Banyak artis melihat The Great Escape sebagai kesempatan untuk menarik perhatian label, promotor, dan pendengar baru.
Pada saat yang sama, festival ini juga memperkuat reputasi Brighton sebagai kota budaya tempat di mana musik, kreativitas, dan komunitas saling bertemu.