Pada tahun 2025, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) di Yogyakarta berkolaborasi dengan seniman asal Wales, Jo Fong dan George Orange, untuk mengembangkan proyek Extending The Rest Of Our Lives.
Proyek ini mempertemukan seniman dan anggota komunitas dari berbagai generasi melalui rangkaian lokakarya, kegiatan residensi, hingga presentasi pertunjukan publik. Terinspirasi dari karya Jo dan George berjudul The Rest Of Our Lives (TROOL), proyek ini mencoba melihat bagaimana praktik seni bisa menjadi ruang untuk berdialog, berbagi pengalaman, dan membangun hubungan yang lebih bermakna antara orang-orang dari generasi yang berbeda.
British Council berbincang dengan PSBK, Jo Fong, dan George Orange tentang perkembangan kolaborasi ini, tantangan yang dihadapi sepanjang berjalannya proyek, dan bagaimana proyek ini membuka kemungkinan baru untuk praktik artistik antargenerasi.
British Council (BC): Bagaimana proyek ini berjalan dan bagaimana kolaborasinya berkembang?
PSBK: Secara keseluruhan, proyek ini berjalan sangat baik, bahkan melampaui harapan awal kami. Lewat lokakarya yang terinspirasi dari The Rest Of Our Lives, kami menciptakan ruang bagi peserta dari berbagai usia dan latar belakang untuk bertemu, berbagi pengalaman, dan bereksplorasi secara kreatif.
Dalam prosesnya, para peserta yang lebih senior membawa pengalaman hidup dan perspektif mereka, sementara peserta yang lebih muda menghadirkan energi serta cara pandang baru.
Seperti yang disampaikan Jo Fong:
“Lokakarya ini mendorong orang untuk bekerja bersama bukan hanya sebagai individu, tapi sebagai teman baik yang muda maupun yang lebih tua.”
Proses lokakarya ini juga memberi kesempatan bagi Jo dan George untuk memahami lebih dekat dinamika hubungan antar generasi di Yogyakarta. Hal tersebut kemudian terasa dalam presentasi publik The Rest Of Our Lives, yang mendapat respons sangat hangat dari penonton.
George Orange juga menambahkan:
“Setiap kali kami tiba di tempat baru, pengalaman di tempat itu akan memengaruhi pertunjukannya.”
BC: Apa pesan utama atau pemahaman baru yang didapat dari proyek ini?
PSBK: Sejak hari pertama workshop, Jo Fong menekankan satu pesan sederhana:
“Kita tidak harus saling mengenal dengan cepat, tapi kita perlu saling mengenal dengan baik.”
Awalnya banyak peserta yang hanya saling mengenal nama. Namun melalui berbagai aktivitas—mulai dari percakapan, gerakan tubuh, hingga latihan bersama—mereka mulai benar-benar mengenal satu sama lain.
Karena lokakarya dirancang sebagai pengalaman bersama, rasa percaya pun tumbuh secara alami. Dari situ, kolaborasi yang lebih jujur dan terbuka mulai terbentuk.
“Ini cukup menantang, tetapi dengan ini kami meningkatkan standar… kami bekerja dan berkolaborasi—itulah eksperimennya.” - Jo Fong
GO: Proses ini memang membutuhkan komitmen waktu yang besar, tetapi di situlah persahabatan terbentuk. Bersama kelompok ini, kami mulai melihat, mendengar, dan mencari inspirasi dengan cara yang berbeda.
BC: Apakah ada perubahan atau tantangan selama proyek berlangsung?
PSBK: Salah satu tantangan utama muncul ketika pengajuan pendanaan tambahan untuk mendukung residensi selama tiga minggu tidak berhasil. Meski begitu, mitra kami dari Inggris tetap berkomitmen untuk menjalankan rencana awal dan mereka percaya proses ini penting untuk membangun keterlibatan yang lebih mendalam.
Agar proyek tetap berjalan, kami menyesuaikan anggaran dan menyederhanakan beberapa fasilitas produksi. Meski ada keterbatasan, proses pertukaran ini tetap terasa hidup dan memberi banyak inspirasi bagi semua yang terlibat.
BC: Momen apa yang paling berkesan selama perjalanan proyek ini?
PSBK: Salah satu hal paling berkesan adalah melihat bagaimana orang-orang dengan latar belakang yang sangat berbeda bisa saling mendukung dalam proses kreatif.
Kami juga sangat tersentuh dengan pengalaman Vale, seorang peserta lokakarya dengan Down Syndrome. Suatu hari ia berkata dengan penuh percaya diri, “Saya sedang membuat pertunjukan terbaik.”
Melihat kepercayaan dirinya tumbuh selama lokakarya berlangsung menjadi momen yang sangat berarti bagi kami.
Di pertunjukan publik, bahkan ada momen spontan ketika anak-anak dari lingkungan sekitar ikut masuk ke panggung dan bermain bersama para penampil. Jo dan George merespons dengan hangat dan tetap menari di tengah keramaian anak-anak—yang justru menjadi salah satu momen paling indah dalam pertunjukan tersebut.