By Azhar Farizdaffa Risqullah, Editor dan Penerjemah

01 Oktober 2026 - 17:13

Peserta mengikuti workshop batik selama residensi di Isle of Portland, mengeksplorasi tradisi lilin melalui pertukaran kreatif dan refleksi bersama. © 2025 Ria Ekasari / British Council 

Residensi yang semula dijadwalkan pada April 2025 akhirnya berlangsung pada September 2025 karena keterlambatan pencairan dana. Penjadwalan ulang ini justru menghadirkan peluang baru, karena memungkinkan proyek ini terlibat dalam B-Side Festival 2025, festival seni tahunan di Isle of Portland, Inggris Raya.

Sebagai bagian dari festival tersebut, dua lokakarya publik bertajuk Batik Wax Imprints: A Reflection on Our Changing World diselenggarakan. Lokakarya ini mengajak peserta merefleksikan perubahan di sekitar mereka baik yang terlihat maupun yang tidak. Topik yang muncul beragam: dari hilangnya jenis tanaman yang dulunya mudah ditemui, munculnya bangunan-bangunan baru, hingga perubahan dalam kehidupan komunitas lokal.

Setiap peserta membuat dua karya: Across the Sea Postcard menjadi ruang untuk menyampaikan pesan atau kenangan yang seolah dikirimkan melintasi laut, sementara A Memory to Keep merupakan karya batik personal yang disimpan sebagai pengingat. Melalui proses tersebut, lokakarya berkembang menjadi ruang percakapan terbuka tentang perubahan lingkungan, memori kolektif, dan peran seni dalam menjaga pengalaman tersebut.

Dialog antara dua tradisi seni berbasis lilin

Selama residensi, kolaborasi dilakukan setiap hari bersama dengan seniman enkaustik asal Inggris, Lyn Kirkland, yang berperan sebagai mentor sekaligus kolaborator. Pertukaran ini mempertemukan dua tradisi seni berbasis lilin yang memiliki sejarah panjang: batik dan lukisan enkaustik.

Tujuan utama dari kolaborasi ini adalah mempelajari teknik enkaustik secara lebih mendalam. Di sisi lain, Lyn tertarik mengeksplorasi bagaimana teknik canting dalam batik dapat diterapkan dalam praktik enkaustiknya.

Seiring berjalannya waktu, kolaborasi kedua seniman ini meluas ke isu yang lebih besar: kerentanan lingkungan. Berbagai pengalaman hidup di Jakarta, termasuk banjir pada malam Tahun Baru 2020 yang untuk pertama kalinya sampai merendam rumah, serta masalah kesehatan berupa rinitis akut akibat paparan polusi udara selama perjalanan harian di kota tersebut.

Lyn kemudian menceritakan tantangan lingkungan di Isle of Portland mulai dari erosi pantai, aktivitas penambangan batu kapur, hingga perdebatan publik mengenai pembangunan insinerator limbah.

Meskipun berasal dari dua pulau yang terpisah ribuan kilometer, kedua daerah memiliki pengalaman yang serupa: ketidakstabilan lingkungan yang semakin terasa. Kesadaran ini kemudian membentuk arah percakapan dan proses kreatif yang menegaskan bahwa persoalan ekologi bersifat saling terhubung secara global.

Pengetahuan material dan praktik berkelanjutan

Residensi ini juga membuka kesempatan untuk mempelajari teknik enkaustik secara lebih mendalam. Salah satu temuan penting adalah bahwa bahan utama enkaustik, lilin lebah dan damar, sebenarnya dapat diperoleh secara lokal dan berkelanjutan di Indonesia.

Temuan ini memperkuat inisiatif Encaustic Indonesia yang berfokus pada praktik seni berbasis lilin alami serta pendidikan mengenai penggunaan material lokal yang berkelanjutan.

Di sisi lain, eksplorasi Lyn terhadap teknik canting memperluas pendekatannya terhadap lukisan enkaustik. Bersama-sama, kami mengeksplorasi kemungkinan garis lilin sebagai bahasa visual permanen, bukan sekadar lapisan sementara seperti dalam batik tradisional.

Pertemuan dua pendekatan ini menjadi bentuk dialog nyata antara dua tradisi seni melalui satu medium yang sama.

Tantangan dan proses berbagi pengetahuan

Seperti banyak proses kolaboratif lainnya, residensi ini juga menghadirkan sejumlah tantangan. Biaya yang tinggi serta keterbatasan ketersediaan bahan enkaustik menjadi kendala utama, baik selama residensi maupun setelahnya.

Untuk mengatasinya, lokakarya kecil diselenggarakan di Indonesia dengan jumlah peserta terbatas, maksimal lima orang per sesi. Pendekatan ini memungkinkan proses belajar yang lebih mendalam sekaligus membantu menekan biaya material.

Lokakarya tersebut juga menjadi pengenalan pertama teknik enkaustik bagi banyak peserta di Indonesia, membuka kemungkinan baru bagi penggunaan medium ini dalam konteks seni lokal.

Ria Ekasari (kiri) and Lyn Kirkland (kanan) berkolaborasi selama residensi, mempertemukan praktik batik Indonesia dan encaustic Inggris melalui eksperimen dan dialog. © 2025 Ria Ekasari / British Council
Peserta mempelajari teknik encaustic dalam workshop berskala kecil di Indonesia, memperkenalkan praktik seni berbasis lilin yang berkelanjutan kepada komunitas lokal. © 2025  Ria Ekasari / British Council
Workshop batik menjadi ruang pertukaran artistik, percakapan, dan refleksi mengenai perubahan lingkungan dan sosial. © 2025 Ria Ekasari / British Council
Ria Ekasari (kanan) mendampingi peserta dalam proses encaustic. © 2025 Ria Ekasari / British Council

Lingkungan kreatif di Isle of Portland

Salah satu pengalaman paling berkesan selama residensi adalah perbedaan lingkungan antara Jakarta dan Portland. Udara yang bersih dan sejuk di Isle of Portland memberikan kelegaan sekaligus kejernihan mental, mengingat bahwa kualitas lingkungan sangat memengaruhi kesehatan dan fokus artistik.

Pulau ini juga memiliki ekosistem kreatif yang kuat. Berbagai praktisi berkarya di sana, mulai dari pembuat kapal, seniman keramik, pembuat cetak grafis, hingga desainer busana. Semangat kolaborasi di antara mereka membentuk ruang lingkup seni yang dinamis.

Selama B-Side Festival, seluruh komunitas berubah menjadi galeri terbuka. Pengalaman ini menunjukkan bagaimana seni dapat menjadi ruang pertemuan bagi masyarakat sekaligus memperkuat hubungan antara praktik kreatif dan kehidupan sehari-hari.

Kolaborasi dengan Lyn sendiri bermula dari penelitian independen. Setelah menemukan bahwa praktik enkaustiknya sejalan dengan tujuan pembelajaran proyek ini secara specific, Lyn dihubungkan melalui surel. Melalui komunikasi selama beberapa bulan, kami mengembangkan konsep proyek bersama dan mengajukan proposal ke program Connections Through Culture dari British Council.

Selama residensi, kami menjaga komunikasi yang terstruktur dengan mendokumentasikan perkembangan dan refleksi setelah setiap sesi kerja. Proses ini menunjukkan bahwa dialog yang konsisten dan rasa saling menghargai dapat membangun kepercayaan—terlepas dari perbedaan usia maupun latar budaya.

Melanjutkan dialog lilin ke depannya

Ke depan, rencananya akan mengembangkan Encaustic Indonesia melalui lokakarya, materi edukasi, serta kemitraan dengan berbagai institusi seni. Rencana bergabung dengan jaringan International Encaustic Artists (IEA) juga untuk mempromosikan sumber daya alam Indonesia seperti lilin lebah dan damar sebagai bahan seni yang berkelanjutan.

Dalam jangka panjang, harapannya dapat mengembangkan program residensi enkaustik di Indonesia yang terbuka bagi seniman lokal maupun internasional, termasuk Lyn, untuk berbagi pengetahuan dan bereksperimen dengan material lokal.

Program residensi ini menunjukkan bahwa kolaborasi lintas budaya tidak hanya berkaitan dengan teknik artistik, namun juga membuka ruang bagi empati, tanggung jawab bersama, dan kesadaran terhadap lingkungan.

Melalui medium lilin, dua tradisi seni bertemu menciptakan jembatan yang menghubungkan dua pulau yang sama-sama menghadapi dunia yang semakin rapuh.