Residensi yang semula dijadwalkan pada April 2025 akhirnya berlangsung pada September 2025 karena keterlambatan pencairan dana. Penjadwalan ulang ini justru menghadirkan peluang baru, karena memungkinkan proyek ini terlibat dalam B-Side Festival 2025, festival seni tahunan di Isle of Portland, Inggris Raya.
Sebagai bagian dari festival tersebut, dua lokakarya publik bertajuk Batik Wax Imprints: A Reflection on Our Changing World diselenggarakan. Lokakarya ini mengajak peserta merefleksikan perubahan di sekitar mereka baik yang terlihat maupun yang tidak. Topik yang muncul beragam: dari hilangnya jenis tanaman yang dulunya mudah ditemui, munculnya bangunan-bangunan baru, hingga perubahan dalam kehidupan komunitas lokal.
Setiap peserta membuat dua karya: Across the Sea Postcard menjadi ruang untuk menyampaikan pesan atau kenangan yang seolah dikirimkan melintasi laut, sementara A Memory to Keep merupakan karya batik personal yang disimpan sebagai pengingat. Melalui proses tersebut, lokakarya berkembang menjadi ruang percakapan terbuka tentang perubahan lingkungan, memori kolektif, dan peran seni dalam menjaga pengalaman tersebut.
Dialog antara dua tradisi seni berbasis lilin
Selama residensi, kolaborasi dilakukan setiap hari bersama dengan seniman enkaustik asal Inggris, Lyn Kirkland, yang berperan sebagai mentor sekaligus kolaborator. Pertukaran ini mempertemukan dua tradisi seni berbasis lilin yang memiliki sejarah panjang: batik dan lukisan enkaustik.
Tujuan utama dari kolaborasi ini adalah mempelajari teknik enkaustik secara lebih mendalam. Di sisi lain, Lyn tertarik mengeksplorasi bagaimana teknik canting dalam batik dapat diterapkan dalam praktik enkaustiknya.
Seiring berjalannya waktu, kolaborasi kedua seniman ini meluas ke isu yang lebih besar: kerentanan lingkungan. Berbagai pengalaman hidup di Jakarta, termasuk banjir pada malam Tahun Baru 2020 yang untuk pertama kalinya sampai merendam rumah, serta masalah kesehatan berupa rinitis akut akibat paparan polusi udara selama perjalanan harian di kota tersebut.
Lyn kemudian menceritakan tantangan lingkungan di Isle of Portland mulai dari erosi pantai, aktivitas penambangan batu kapur, hingga perdebatan publik mengenai pembangunan insinerator limbah.
Meskipun berasal dari dua pulau yang terpisah ribuan kilometer, kedua daerah memiliki pengalaman yang serupa: ketidakstabilan lingkungan yang semakin terasa. Kesadaran ini kemudian membentuk arah percakapan dan proses kreatif yang menegaskan bahwa persoalan ekologi bersifat saling terhubung secara global.
Pengetahuan material dan praktik berkelanjutan
Residensi ini juga membuka kesempatan untuk mempelajari teknik enkaustik secara lebih mendalam. Salah satu temuan penting adalah bahwa bahan utama enkaustik, lilin lebah dan damar, sebenarnya dapat diperoleh secara lokal dan berkelanjutan di Indonesia.
Temuan ini memperkuat inisiatif Encaustic Indonesia yang berfokus pada praktik seni berbasis lilin alami serta pendidikan mengenai penggunaan material lokal yang berkelanjutan.
Di sisi lain, eksplorasi Lyn terhadap teknik canting memperluas pendekatannya terhadap lukisan enkaustik. Bersama-sama, kami mengeksplorasi kemungkinan garis lilin sebagai bahasa visual permanen, bukan sekadar lapisan sementara seperti dalam batik tradisional.
Pertemuan dua pendekatan ini menjadi bentuk dialog nyata antara dua tradisi seni melalui satu medium yang sama.
Tantangan dan proses berbagi pengetahuan
Seperti banyak proses kolaboratif lainnya, residensi ini juga menghadirkan sejumlah tantangan. Biaya yang tinggi serta keterbatasan ketersediaan bahan enkaustik menjadi kendala utama, baik selama residensi maupun setelahnya.
Untuk mengatasinya, lokakarya kecil diselenggarakan di Indonesia dengan jumlah peserta terbatas, maksimal lima orang per sesi. Pendekatan ini memungkinkan proses belajar yang lebih mendalam sekaligus membantu menekan biaya material.
Lokakarya tersebut juga menjadi pengenalan pertama teknik enkaustik bagi banyak peserta di Indonesia, membuka kemungkinan baru bagi penggunaan medium ini dalam konteks seni lokal.