Bagi Linda Mayasari dari Indonesian Dance Festival (IDF), mengikuti International Performing Arts Delegation (IPAD) 2025 di Edinburgh ternyata bukan sekadar menonton pertunjukan. Rasanya lebih seperti masuk ke sebuah kota yang berubah jadi ekosistem seni yang hidup. Teater, jalanan, dan obrolan antarmanusiaterasa saling terhubung satu sama lain, seperti aliran yang terus bergerak.
Selama seminggu, Edinburgh menyajikan cara baru untuk melihat dunia seni. Kita jadi bisa melihat bagaimana sebuah karya tidak hanya ditampilkan, tapi juga didukung, disebarkan, dan dijaga lewat jaringan komunitas, institusi, dan individu dalam sebuah festival seni pertunjukan.
Linda merasa bahwa mengikuti festival ini rasanya seperti terbawa arus. Ada banyak pertunjukan yang berlangsung bersamaan, jadi harus terus memilih, bergerak cepat, dan terkadang harus rela tertinggal satu hal demi hal lain. Tapi di tengah itu semua, justru momen-momen kecil yang terasa paling berkesan, seperti obrolan setelah pertunjukan, diskusi santai antar peserta, atau refleksi yang tiba-tiba muncul saat pulang dari venue.
Festival yang bukan sekadar acara
Salah satu hal yang paling dirasakan dari IPAD, menurut Linda, adalah bagaimana festival itu sebenarnya lebih dari sekadar tempat menampilkan karya. Festival terasa seperti ekosistem, di mana semua orang dapat terhubung satu dengan yang lainnya. Seniman, kurator, produser, sampai penonton, semuanya ikut membentuk pengalaman bersama. Yang kelihatan di depan memang hanya pertunjukan, tapi di belakangnya ada kerja sama yang sudah terjalin lama, kepercayaan, dan visi yang dibangun bersama-sama.
Ini jadi refleksi menarik juga untuk Indonesia. Mungkin pertanyaannya bukan lagi soal membuat pertunjukan sebanyak mungkin, tapi bagaimana menciptakan lingkungan yang menjadikan karya-karya itu bisa tumbuh dan benar-benar hidup.
Antara cepat dan kepedulian
Di banyak karya yang ditampilkan, Linda merasa ada tarik menarik antara kebutuhan untuk produksi dan kebutuhan untuk peduli.
Setelah pandemi, banyak proses produksi menjadi lebih cepat. Waktu semakin sempit dan tekanan makin besar. Tapi menariknya, beberapa karya di Edinburgh justru seperti melawan itu. Mereka dapat diproduksi secara pelan.
Ada yang fokus ke hubungan antargenerasi, menghadirkan orang-orang yang lebih tua sebagai pusat cerita. Ada juga yang mencoba mendekatkan penampil dan penonton, membuat jarak terasa hilang, dan membuka ruang yang lebih personal.
Pada saat itu, pertunjukan menjadi terasa berbeda bagi Linda. Bukan soal besar atau megah, melainkan soal hadir, kondisi di mana para penonton benar-benar mendengarkan dan memberi waktu untuk terjalinnya hubungan.
Cara baru untuk menonton
Hal lain yang menarik adalah bagaimana penonton diajak untuk terlibat.
Bukan hanya duduk dan menonton, tapi juga ikut merasakan, bergerak, bahkan jadi bagian dari pengalaman itu sendiri. Linda menerangkan bahwa batas antara panggung dan penonton menjadi semakin tipis.
Ini sebenarnya cukup dekat dengan praktik di Indonesia. Banyak pertunjukan tradisional kita yang memang bersifat komunal dan partisipatif. Persoalannya adalah bagaimana pendekatan ini dapat diolah ulang dalam konteks yang lebih kontemporer tanpa kehilangan esensinya.