By Azhar Farizdaffa Risqullah, Editor dan Penerjemah

04 September 2026 - 16:28

Pertunjukan encore setelah Breaking Bach, dengan koreografi oleh Kim Brandstrup dan menampilkan Orchestra of the Age of Enlightenment. Usher Hall, Edinburgh. 20 Agustus 2025. © 2025 Linda Mayasari / British Council

Bagi Linda Mayasari dari Indonesian Dance Festival (IDF), mengikuti International Performing Arts Delegation (IPAD) 2025 di Edinburgh ternyata bukan sekadar menonton pertunjukan. Rasanya lebih seperti masuk ke sebuah kota yang berubah jadi ekosistem seni yang hidup. Teater, jalanan, dan obrolan antarmanusiaterasa saling terhubung satu sama lain, seperti aliran yang terus bergerak.

Selama seminggu, Edinburgh menyajikan cara baru untuk melihat dunia seni. Kita jadi bisa melihat bagaimana sebuah karya tidak hanya ditampilkan, tapi juga didukung, disebarkan, dan dijaga lewat jaringan komunitas, institusi, dan individu dalam sebuah festival seni pertunjukan.

Linda merasa bahwa mengikuti festival ini rasanya seperti terbawa arus. Ada banyak pertunjukan yang berlangsung bersamaan, jadi harus terus memilih, bergerak cepat, dan terkadang harus rela tertinggal satu hal demi hal lain. Tapi di tengah itu semua, justru momen-momen kecil yang terasa paling berkesan, seperti obrolan setelah pertunjukan, diskusi santai antar peserta, atau refleksi yang tiba-tiba muncul saat pulang dari venue.

Festival yang bukan sekadar acara

Salah satu hal yang paling dirasakan dari IPAD, menurut Linda, adalah bagaimana festival itu sebenarnya lebih dari sekadar tempat menampilkan karya. Festival terasa seperti ekosistem, di mana semua orang dapat terhubung satu dengan yang lainnya. Seniman, kurator, produser, sampai penonton, semuanya ikut membentuk pengalaman bersama. Yang kelihatan di depan memang hanya pertunjukan, tapi di belakangnya ada kerja sama yang sudah terjalin lama, kepercayaan, dan visi yang dibangun bersama-sama.

Ini jadi refleksi menarik juga untuk Indonesia. Mungkin pertanyaannya bukan lagi soal membuat pertunjukan sebanyak mungkin, tapi bagaimana menciptakan lingkungan yang menjadikan karya-karya itu bisa tumbuh dan benar-benar hidup.

Antara cepat dan kepedulian

Di banyak karya yang ditampilkan, Linda merasa ada tarik menarik antara kebutuhan untuk produksi dan kebutuhan untuk peduli.

Setelah pandemi, banyak proses produksi menjadi lebih cepat. Waktu semakin sempit dan tekanan makin besar. Tapi menariknya, beberapa karya di Edinburgh justru seperti melawan itu. Mereka dapat diproduksi secara pelan.

Ada yang fokus ke hubungan antargenerasi, menghadirkan orang-orang yang lebih tua sebagai pusat cerita. Ada juga yang mencoba mendekatkan penampil dan penonton, membuat jarak terasa hilang, dan membuka ruang yang lebih personal.

Pada saat itu, pertunjukan menjadi terasa berbeda bagi Linda. Bukan soal besar atau megah, melainkan soal hadir, kondisi di mana para penonton benar-benar mendengarkan dan memberi waktu untuk terjalinnya hubungan.

Cara baru untuk menonton

Hal lain yang menarik adalah bagaimana penonton diajak untuk terlibat.

Bukan hanya duduk dan menonton, tapi juga ikut merasakan, bergerak, bahkan jadi bagian dari pengalaman itu sendiri. Linda menerangkan bahwa batas antara panggung dan penonton menjadi semakin tipis.

Ini sebenarnya cukup dekat dengan praktik di Indonesia. Banyak pertunjukan tradisional kita yang memang bersifat komunal dan partisipatif. Persoalannya adalah bagaimana pendekatan ini dapat diolah ulang dalam konteks yang lebih kontemporer tanpa kehilangan esensinya.

Diskusi pasca-pertunjukan “Cutting the Tightrope”, disutradarai oleh Cressida Brown dan Kirsty Housley. Church Hill Theatre, 15 Agustus 2025. © 2025 Linda Mayasari / British Council
Sesi Diskusi Edinburgh IPAD 2025. Dance Base, 20 Agustus 2025.  © 2025 Linda Mayasari / British Council
“Sorotan pada Tari dari Skotlandia.” Dance Base, 16 Agustus 2025. © 2025 Linda Mayasari / British Council

Apa yang bisa dibawa pulang

Dari pengalaman ini, muncul satu pertanyaan penting. Apa yang sebenarnya bisa dibawa pulang dari festival seperti ini?

Tidak semua hal bisa ditiru. Skala, fasilitas, dan sistem di Eropa jelas berbeda dengan Indonesia. Tapi yang bisa dibawa adalah cara berpikirnya: tentang pentingnya kepedulian, tentang inklusivitas, dan tentang memberi ruang untuk dialog, bukan sekadar menampilkan karya. Hal-hal ini tidak bergantung pada besar kecilnya festival, namun pada niat dan cara kita membangun ekosistem. 

Salah satu yang paling terasa relevan menurut Linda secara pribadi adalah soal hubungan antargenerasi. Di Indonesia sebenarnya sudah ada tradisi kuat soal ini, tapi dalam praktik sekarang sering kalah dengan kebutuhan untuk produksi serba cepat. Mungkin sudah saatnya kita mulai memberi ruang lagi untuk proses yang lebih pelan dan lebih dalam.

Setelah festival selesai

Dampak terbesar dari IPAD bukan hanya dari pertunjukannya, melainkan dari hubungan yang terbangun.

Obrolan yang dimulai di Edinburgh tidak hanya berhenti di sana, justru membuka kemungkinan kolaborasi baru, ide-ide baru, dan cara kerja yang bisa berkembang ke depannya. Di titik ini, festival tidak lagi terasa seperti tujuan akhir. Tapi justru menjadi titik awal.

Pulang dengan pertanyaan baru

Akhirnya, IPAD 2025 bukan cuma soal melihat karya internasional. Tapi soal pulang dengan cara berpikir yang berbeda.

  • Bagaimana kita bisa mendukung seniman dari berbagai generasi?
  • Bagaimana penonton bisa lebih terlibat, bukan sekadar jadi penonton?
  • Dan bagaimana kolaborasi bisa lebih bermakna, bukan hanya produktif?

Linda menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan ini mungkin belum memiliki jawaban sekarang. Tapi setidaknya, sudah menghadirkan kemungkinan arah-arah yang dapat dilakukan ke depannya. Karena pada akhirnya, nilai sebuah festival bukan hanya dari apa yang ditampilkan, tapi dari apa yang terus tumbuh setelahnya.