By Azhar Farizdaffa Risqullah, Editor dan Penerjemah

16 July 2026 - 14:51

Para sineas dan penyelenggara program berkumpul di atas panggung saat pembukaan Minikino Film Week di Bali, menandai dimulainya pertukaran lintas budaya antara Indonesia dan Skotlandia. © 2025 GSFF dan Minikino / British Council

Pada tahun 2024, sebuah kolaborasi lintas negara mempertemukan dua ekosistem film yang berbeda. Glasgow Short Film Festival (GSFF) dari Skotlandia dan Yayasan Kino Media (Minikino) dari Indonesia terhubung melalui program Bali–Glasgow Filmmaker and Programme Exchange. Didukung oleh program Connections Through Culture dari British Council, inisiatif ini berangkat dari tujuan sederhana. Membuka ruang dialog, berbagi praktik kuratorial, dan mencari cara baru untuk membangun ekosistem film yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Melalui residensi, pemutaran film, serta partisipasi dalam festival di Bali dan Glasgow, program ini berkembang menjadi ruang belajar bersama. Tidak hanya untuk para peserta yang terlibat langsung, tetapi juga bagi komunitas yang lebih luas.

BC (British Council): Bagaimana proyek ini berjalan dan bagaimana kolaborasinya berkembang?

GSFF: Proyek ini berjalan sangat baik dan bahkan berkembang lebih luas dari yang kami bayangkan. Awalnya kami hanya ingin membuka ruang dialog dan berbagi pengalaman, baik secara langsung maupun melalui film.

Namun seiring berjalannya waktu, kolaborasi ini justru memicu banyak percakapan baru dan menginspirasi cara pandang yang berbeda tentang praktik sinema, ketahanan organisasi, serta pengembangan ekosistem seni yang berkelanjutan.

BC: Apa pesan utama atau pemahaman baru yang Anda dapatkan dari proyek ini?

GSFF: Salah satu hal paling penting yang kami pelajari adalah bagaimana inklusi bisa benar-benar diterapkan secara nyata, bukan hanya sebagai konsep.

Contohnya terlihat dalam kolaborasi dengan komunitas tunanetra untuk mengembangkan deskripsi audio bagi film-film yang diputar. Pendekatan ini tidak hanya membuka akses, tetapi juga memberi ruang bagi keterlibatan kreatif yang lebih dalam. Dari situ kami melihat bahwa inklusi dapat menjadi proses yang partisipatif dan transformatif.

BC: Apakah ada perubahan atau tantangan selama proyek berlangsung?

GSFF: Kolaborasi ini menghadapi sejumlah tantangan, baik yang telah diantisipasi maupun tidak. Perbedaan waktu serta kesenjangan biaya antara Inggris Raya dan Indonesia konsisten menjadi pertimbangan. Selain itu, penutupan dadakan lokasi acara di Glasgow mengharuskan GSFF mengecilkan skala program, terutama terkait sesi industri. Akibatnya, kami tidak dapat menyelenggarakan diskusi formal terkait pertukaran ini, maupun melibatkan sineas asal Indonesia, Haris Yuliyanto, dalam lokakarya atau kegiatan edukasi lainnya.

Keterbatasan anggaran juga berdampak pada akomodasi, sehingga perwakilan Minikino, Fransiska Prihadi, hanya dapat tinggal di Glasgow selama enam malam. Namun, kekurangan ini kemudian dibalas dengan rangkaian kegiatan di Bali, di mana perwakilan GSFF, Matt Lloyd, dapat mengikuti seluruh rangkaian festival selama sepuluh hari dan berpartisipasi aktif dalam diskusi serta lokakarya.

BC: Apa momen yang paling berkesan selama perjalanan proyek ini?

GSFF: Salah satu momen yang paling berkesan adalah melihat energi dan antusiasme komunitas film Indonesia, khususnya saat Minikino Film Week berlangsung.

Keterbukaan, rasa ingin tahu, serta dorongan untuk terus bereksperimen terasa sangat kuat. Hal ini tidak hanya meninggalkan kesan mendalam bagi kami, tetapi juga menegaskan pentingnya ruang pertukaran seperti ini untuk terus dikembangkan ke depannya.

Para peserta dan kolaborator berfoto bersama di atas panggung, menandai terjalinnya koneksi melalui program pertukaran film internasional ini. © 2025 GSFF dan Minikino / British Council
Holly Márie Parnell (tengah) berbagi perspektif di atas panggung, menyoroti pertukaran pengetahuan lintas konteks budaya. © 2025 GSFF dan Minikino / British Council
Haris Yuliyanto terlibat dalam diskusi santai saat jeda acara, bertukar ide dan pengalaman dalam suasana yang mencerminkan semangat kolaboratif program ini. © 2025 GSFF dan Minikino / British Council
Sebuah pemutaran film di Glasgow dilanjutkan dengan diskusi antara pembicara dan penonton, membuka ruang dialog tentang praktik kuratorial dan ekosistem perfilman. © 2025 GSFF dan Minikino / British Council
Matt Lloyd (kanan) membagikan pandangannya dalam sesi diskusi publik, sementara peserta terlibat dalam dialog yang mencerminkan semangat pertukaran dalam Bali–Glasgow Filmmaker and Programme Exchange. © 2025 GSFF dan Minikino / British Council

BC: Apa langkah selanjutnya? Apakah ada rencana kolaborasi lanjutan?

GSFF: Proyek ini telah menciptakan beberapa kolaborasi baru. Haris Yuliyanto diundang untuk bicara di kota asalnya, Semarang, tentang pengalaman residensinya di Glasgow. Bersama para pembicara lainnya, ia merefleksikan bagaimana ekosistem artistik Glasgow dapat memberikan wawasan keberlanjutan dan dukungan timbal balik bagi komunitas kreatif di Semarang.

Sementara itu, program film pendek Skotlandia yang ditampilkan di Minikino berhasil diundang ke festival film mahasiswa di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Program ini juga digunakan sebagai sumber pembelajaran di lab film Minikino, Shorts Up, di mana para mentor mendorong peserta untuk mempelajarinya sebagai model penceritaan format pendek.

Selain itu, Holly Márie Parnell telah terhubung dengan para sineas dan seniman suara Bali, sehingga membuka peluang bagi kolaborasi di masa depan. Ia juga akan menampilkan iterasi baru dari pertunjukannya, Desktop Compositions, yang menggabungkan materi audio dan visual yang dikumpulkan di Bali pada ajang GSFF pada bulan Maret 2026.

BC: Bagaimana Anda pertama kali terhubung dengan kolaborator Anda?

GSFF: Kolaborasi ini sebenarnya berangkat dari hubungan yang sudah terjalin sebelumnya. GSFF dan Minikino telah berinteraksi secara daring sejak masa pandemi COVID-19, sehingga perlahan membangun pemahaman bersama terkait praktik dan nilai yang mereka jalankan.

Pertemuan langsung pertama terjadi di Clermont-Ferrand Short Film Market pada Februari 2024. Di sana, ide untuk melakukan programme exchange mulai dirumuskan. Program Connections Through Culture dari British Council kemudian hadir di waktu yang tepat untuk mendukung sekaligus mewujudkan rencana tersebut.

BC: Bagaimana Anda membangun kepercayaan selama proyek berlangsung?

GSFF: Kedua organisasi merupakan bagian dari jaringan internasional Short Film Conference dan mengikuti kode etik yang sama. Hal ini menjadi dasar pemahaman bersama sejak awal.

Selain itu, kesamaan visi, nilai, serta pengalaman dalam diskusi industri membuat kami yakin bahwa kami bergerak ke arah yang sama. Dari situ, kepercayaan tumbuh secara alami.

BC: Bagaimana proses Anda dalam mengembangkan proyek dan menyiapkan proposal hibah?

GSFF: Proses pengajuan proposal cukup menantang, terutama karena bertepatan dengan persiapan edisi ke-10 Minikino Film Week.

Awalnya, kami sempat tergoda untuk merencanakan kolaborasi yang lebih kompleks. Namun setelah mempertimbangkan kapasitas dan sumber daya yang ada, kami memilih pendekatan yang lebih sederhana dan realistis.

Keputusan ini justru membuat program berjalan lebih efektif. Dengan pendekatan yang terbuka tanpa hasil yang ditentukan sejak awal, berbagai kemungkinan baru dapat muncul secara organik, bahkan melampaui ekspektasi kami.