Pada tahun 2024, sebuah kolaborasi lintas negara mempertemukan dua ekosistem film yang berbeda. Glasgow Short Film Festival (GSFF) dari Skotlandia dan Yayasan Kino Media (Minikino) dari Indonesia terhubung melalui program Bali–Glasgow Filmmaker and Programme Exchange. Didukung oleh program Connections Through Culture dari British Council, inisiatif ini berangkat dari tujuan sederhana. Membuka ruang dialog, berbagi praktik kuratorial, dan mencari cara baru untuk membangun ekosistem film yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Melalui residensi, pemutaran film, serta partisipasi dalam festival di Bali dan Glasgow, program ini berkembang menjadi ruang belajar bersama. Tidak hanya untuk para peserta yang terlibat langsung, tetapi juga bagi komunitas yang lebih luas.
BC (British Council): Bagaimana proyek ini berjalan dan bagaimana kolaborasinya berkembang?
GSFF: Proyek ini berjalan sangat baik dan bahkan berkembang lebih luas dari yang kami bayangkan. Awalnya kami hanya ingin membuka ruang dialog dan berbagi pengalaman, baik secara langsung maupun melalui film.
Namun seiring berjalannya waktu, kolaborasi ini justru memicu banyak percakapan baru dan menginspirasi cara pandang yang berbeda tentang praktik sinema, ketahanan organisasi, serta pengembangan ekosistem seni yang berkelanjutan.
BC: Apa pesan utama atau pemahaman baru yang Anda dapatkan dari proyek ini?
GSFF: Salah satu hal paling penting yang kami pelajari adalah bagaimana inklusi bisa benar-benar diterapkan secara nyata, bukan hanya sebagai konsep.
Contohnya terlihat dalam kolaborasi dengan komunitas tunanetra untuk mengembangkan deskripsi audio bagi film-film yang diputar. Pendekatan ini tidak hanya membuka akses, tetapi juga memberi ruang bagi keterlibatan kreatif yang lebih dalam. Dari situ kami melihat bahwa inklusi dapat menjadi proses yang partisipatif dan transformatif.
BC: Apakah ada perubahan atau tantangan selama proyek berlangsung?
GSFF: Kolaborasi ini menghadapi sejumlah tantangan, baik yang telah diantisipasi maupun tidak. Perbedaan waktu serta kesenjangan biaya antara Inggris Raya dan Indonesia konsisten menjadi pertimbangan. Selain itu, penutupan dadakan lokasi acara di Glasgow mengharuskan GSFF mengecilkan skala program, terutama terkait sesi industri. Akibatnya, kami tidak dapat menyelenggarakan diskusi formal terkait pertukaran ini, maupun melibatkan sineas asal Indonesia, Haris Yuliyanto, dalam lokakarya atau kegiatan edukasi lainnya.
Keterbatasan anggaran juga berdampak pada akomodasi, sehingga perwakilan Minikino, Fransiska Prihadi, hanya dapat tinggal di Glasgow selama enam malam. Namun, kekurangan ini kemudian dibalas dengan rangkaian kegiatan di Bali, di mana perwakilan GSFF, Matt Lloyd, dapat mengikuti seluruh rangkaian festival selama sepuluh hari dan berpartisipasi aktif dalam diskusi serta lokakarya.
BC: Apa momen yang paling berkesan selama perjalanan proyek ini?
GSFF: Salah satu momen yang paling berkesan adalah melihat energi dan antusiasme komunitas film Indonesia, khususnya saat Minikino Film Week berlangsung.
Keterbukaan, rasa ingin tahu, serta dorongan untuk terus bereksperimen terasa sangat kuat. Hal ini tidak hanya meninggalkan kesan mendalam bagi kami, tetapi juga menegaskan pentingnya ruang pertukaran seperti ini untuk terus dikembangkan ke depannya.