By Karina Langit Rinesti, Editor dan Penerjemah, berdasarkan materi dari penerima hibah CTC Ke-7

06 May 2026 - 13:41

A Folk Tale From The Forest karya Vania Qanita Damayanti diputar di Tyneside Bar & Cafe di Newcastle. © 2025 Videocity UK / Forum Sudutpandang / Chiara Giardi / British Council

Cerita-cerita yang serupa dapat bergema melintasi jarak dan melampaui batas negara. Baik kisah warisan tambang batu bara di Newcastle, Inggris, maupun tambang mineral yang masih berlangsung di Palu, Indonesia, keduanya mengandung narasi eksploitasi lahan demi keuntungan manusia. Videocity UK (Newcastle), Forum Sudutpandang (Palu), dan kurator independen Chiara Giardi (Jakarta) merespons realitas ini melalui proyek kolaboratif Extraction Echoes.

Melalui video art, proyek ini berupaya mengeksplorasi "gema" (echo) dari ekstraksi: hubungan sosial, konsekuensi material, dan jejak digital yang tertinggal. Melalui Pertukaran digital dan pameran publik, para mitra menciptakan wadah bagi seniman dari Inggris dan Indonesia untuk merenungkan sebuah pertanyaan penting: bagaimana kita bisa membangun kembali kekerabatan yang rusak dengan alam?

Kolaborasi multidimensi lintas benua

Extraction Echoes bukan sekadar pertukaran seni sederhana. Proyek ini disusun dalam tiga fase: seleksi terbuka (open call) untuk seniman spesifik, pertukaran digital yang berkelanjutan, dan pameran publik di beberapa tempat. Tiap fase dirancang untuk menyoroti keragaman cerita sekaligus merepresentasikan konteks geografis yang berbeda.

Seleksi terbuka dikhususkan bagi seniman yang memiliki koneksi dengan Inggris utara dan Indonesia Timur, terutama bagi mereka yang tinggal di luar pulau Jawa dan Sumatra. Setelah melewati proses seleksi yang ketat, para mitra memilih karya dari Sarah Adilah, Vania Qanita Damayanti, dan Kristo Robot dari Indonesia, serta Sel MacLean, Jazmin Morris & Chris Tegho, dan Amanda Loomes dari Inggris. Video-video mereka dipilih tidak hanya karena keterkaitannya dengan tema, tetapi juga dari cara karya-karya tersebut saling bicara lintas budaya.

Membangun Komunitas di Balik Layar

Terlepas dari tujuan utama untuk memamerkan karya di ruang publik, penyelenggara juga ingin mendorong dialog antarpraktisi dari kedua negara. Program khusus Pertukaran Digital (Digital Exchange) dibentuk untuk memfasilitasi tujuan ini.

Selama sepuluh minggu, para peserta bertemu secara daring untuk mendiskusikan ‘ekstraksi’ dalam konteks lokal masing-masing, serta seputar tanggung jawab seniman yang bekerja dengan topik sensitif  sosial-lingkungan. Hambatan logistik, seperti ketidakstabilan koneksi internet, perbedaan zona waktu, dan kendala bahasa, tidak menyurutkan semangat para peserta untuk membentuk sebuah komunitas.

Percakapan-percakapan ini kemudian direkam dan dirangkum ke dalam sebuah Zine kolaboratif. Publikasi ini menjadi arsip nyata atas dialog lintas budaya yang berpusat pada pemikiran, kecemasan, dan harapan para seniman mengenai etika ekstraksi.

Sarah Adilah mempresentasikan praktik videonya di Kongsi 8, Jakarta. © 2025 Videocity UK / Forum Sudutpandang / Chiara Giardi / British Council
Extraction Echoes di Marlah! Hub di Palu. © 2025 Videocity UK / Forum Sudutpandang / Chiara Giardi / British Council
Sesi tanya jawab di Tyneside Coffee Rooms dan penayangan ruang publik di Palu. © 2025 Videocity UK / Forum Sudutpandang / Chiara Giardi / British Council
Tangkapan layar dari pertemuan Pertukaran Digital terakhir proyek. © 2025 Videocity UK / Forum Sudutpandang / Chiara Giardi / British Council
Trailer pameran Extraction Echoes dengan cuplikan karya-karya. © 2025 Videocity UK / Forum Sudutpandang / Chiara Giardi / British Council

Dari Kafe Bioskop sampai Pemutaran Jalanan

Extraction Echoes dikurasi khusus untuk ruang publik, sehingga dapat tercipta interaksi di lingkungan yang familiar bagi audiens. Dengan menyisipkan video art ke dalam kehidupan sehari-hari, proyek ini memungkinkan lingkungan sekitar menjadi bagian dalam pengalaman.

Proyek ini diluncurkan di Newcastle lewat pemutaran perdana di Tyneside Cafe & Bar, diikuti sesi tanya jawab seru bersama para seniman di balik video Coal. Video diputar sembari penikmat film menikmati kopi, komunitas mengikuti lokakarya, dan pekerja kantoran mampir untuk makan siang.

Tak lama berselang, proyek ini melanjutkan perjalanan ke Indonesia. Di Palu, Forum Sudutpandang bergerilya membawa video ke berbagai ruang publik di penjuru kota. Rangkaian pemutaran film ini mencapai puncaknya dalam pameran video art di ruang komunitas Marlah! Hub; suatu perhelatan yang masih jarang terjadi di Sulawesi.

Jakarta menjadi pemberhentian terakhir, lewat pemutaran video di kafetaria, studio, dan toko di ruang komunitas Kongsi 8 yang berlokasi dekat pasar loak Jatinegara. Kurator Chiara Giardi memberikan pengantar untuk membuka acara, diikuti dengan talk show seniman bersama Sarah Adilah, Vania Qanita Damayanti dan Kristo Robot.

Di minggu berikutnya, ruang pameran bertransformasi menjadi wahana respons kreatif. Acara dimeriahkan oleh lokakarya aktivasi yang dipimpin Ika Vantiani, pembacaan puisi oleh Berpuisi dengan Gembira, dan pertunjukan musik live oleh Jejak Aksara.

Pada akhirnya, konteks sosial-budaya dan geografis setempat memainkan peran kunci dalam penerimaan masyarakat. Baik melalui lensa jejak industrial di Inggris Utara, jarangnya medium video art di Sulawesi, maupun dampak dari perluasan kota yang tidak terkendali di Jakarta, para penonton difasilitasi untuk membangun relasi personal dengan isu-isu bersama seperti polusi, perubahan iklim, dan ketimpangan ekonomi.

“Memanen” Kekerabatan Baru

Extraction Echoes menunjukkan bahwa meskipun terpisah jarak sangat jauh, tantangan yang dihadapi oleh masyarakat di Inggris Utara dan Indonesia sangatlah mirip. Ada tema berulang tentang bagaimana praktik berorientasi profit yang dijalankan oleh perusahaan memutus hubungan kita dengan lingkungan dan warisan lokal.

Program ini ditutup dengan refleksi seputar hubungan kita dengan sumber daya alam, budaya, maupun digital yang kita ekstraksi. Mengambil konsep asal Sulawesi tentang gambiri— praktik komunal dalam menyimpan dan berbagi makanan—penyelenggara mengangkat konsep "memanen" (harvesting) sebagai alternatif atas ‘ekstraksi’ yang relatif lebih kapitalistik.

Sebagaimana yang dirangkum oleh seniman Kristo Robot: "Segala sesuatu di dunia ini saling terjalin... manusia, dengan segala tindakannya, berperan dalam menenun atau mengurai keseimbangan alam. Setiap helai benang yang terurai mewakili ekosistem yang hancur".