By Azhar Farizdaffa Risqullah, Editor dan Penerjemah

29 September 2026 - 15:01

David Birchall (kiri) dan Ikbal Lubys (kanan) memperkenalkan gitar modifikasi mereka kepada komunitas setempat. © 2025 Curious Ear x Ethnictro / British Council

Pada 2025, musisi sekaligus peneliti David Birchall bekerja sama dengan seniman asal Indonesia, Ikbal Lubys, mengembangkan proyek Circle of Power. Proyek ini mencoba menjawab satu pertanyaan sederhana namun menarik: apakah sebuah pertunjukan musik dapat sekaligus menghasilkan energi?

Bekerja bersama di Manchester, keduanya bereksperimen mengubah gerakan mekanis seperti sentuhan, getaran, atau putaran menjadi energi listrik dalam jumlah kecil yang dapat digunakan dalam konteks pertunjukan langsung.

Selama dua minggu di studio, mereka menggabungkan berbagai pendekatan teknis. Ikbal memperkenalkan ide menggunakan dinamo sepeda untuk menghasilkan energi saat gitar dimainkan. Sementara itu, David bereksperimen dengan piezo transducer, perangkat yang dapat menghasilkan tegangan listrik dari getaran dan sentuhan.

Mereka juga menemukan bahwa motor kecil yang dipasang pada gitar dapat menghasilkan listrik ketika diputar secara manual.

Melalui serangkaian eksperimen elektronik, berbagai sumber energi ini kemudian diuji untuk melihat apakah dapat digunakan untuk mengisi baterai dan menyalakan elemen-elemen dalam sebuah pertunjukan. Hasil eksplorasi tersebut kemudian dirangkai menjadi sebuah pertunjukan yang menggabungkan suara, elektronik, dan eksperimen pencahayaan yang dipresentasikan kepada publik di akhir proyek.

British Council berbincang dengan David dan Ikbal tentang kolaborasi mereka, tantangan yang dihadapi, dan prospek ke depan dari proyek ini.

BC (British Council) :Bagaimana proyek ini berjalan dan bagaimana kolaborasinya berkembang?

David Birchall (DB): Proyek ini berjalan sangat baik. Awalnya kami mengembangkan ide masing-masing di negara kami sebelum bertemu langsung. Ide-ide tersebut kemudian menjadi titik awal ketika kami mulai bekerja bersama di studio.

Minggu pertama diisi dengan banyak eksperimen elektronik, seperti membangun perangkat, menguji berbagai konsep, dan mencari cara agar ide-ide tersebut bisa benar-benar berfungsi.

Kami menemukan bahwa penggunaan dinamo sepeda sebagai sumber energi saat bermain musik dapat bekerja cukup stabil. Begitu juga dengan eksperimen menggunakan piezo transducer yang menghasilkan tegangan kecil melalui sentuhan.

Kami bahkan menemukan bahwa motor kecil yang dipasang pada gitar bisa menghasilkan listrik ketika diputar terbalik. Dari situ kami mencoba berbagai cara untuk menyimpan energi tersebut ke dalam baterai.

Pada minggu kedua, fokus kami beralih pada bagaimana ide-ide ini bisa diterjemahkan menjadi sebuah pertunjukan. Kami menggabungkan eksperimen suara, elektronik, dan cahaya menjadi sebuah karya yang akhirnya dipresentasikan kepada penonton pada hari terakhir proyek. Respons yang kami terima sangat positif.

BC: Apa pesan utama atau pemahaman baru yang Anda dapatkan dari proyek ini?

DB: Salah satu pengalaman paling berkesan bagi saya adalah menyambut kolaborator yang datang ke kota saya, Manchester. Kehadiran Ikbal justru membuat saya melihat kota, komunitas, dan rekan-rekan saya dari sudut pandang yang berbeda.

Kami menemukan banyak kesamaan dalam cara berpikir dan minat baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari. Di saat yang sama, perbedaan latar belakang budaya kami juga membuat proses kolaborasi ini terasa semakin menarik.

Saya rasa Ikbal juga merasakan hal yang sama: bertemu orang-orang baru dan membangun koneksi baru selama proyek ini berlangsung.

BC: Apakah ada perubahan atau tantangan selama proyek berlangsung?

DB: Tantangan utama kami adalah keterbatasan waktu. Beberapa ide yang kami kembangkan sebenarnya membutuhkan waktu yang jauh lebih lama.

Salah satu fokus kami adalah merancang rangkaian elektronik yang bisa menyimpan energi yang dihasilkan saat gitar dimainkan. Dinamo, motor kecil, dan perangkat piezo memang dapat menghasilkan energi, tetapi kami ingin memastikan energi tersebut bisa digunakan secara efektif untuk mengisi baterai.

Menjelang akhir minggu kedua, kami sadar bahwa eksperimen ini masih bisa dikembangkan lebih jauh. Namun kami harus menghentikannya sementara agar masih ada waktu menyiapkan pertunjukan.

Ada juga momen yang cukup menegangkan sebelum proyek dimulai. Saat tiba di Bandara Manchester, Ikbal menemukan bahwa tanggal pada visanya salah. Setelah beberapa jam yang cukup menegangkan, masalah tersebut akhirnya bisa diselesaikan dan ia diizinkan masuk ke Inggris.

BC: Ceritakan satu momen atau pengalaman yang paling berkesan selama perjalanan proyek ini.

DB: Ikbal sangat ingin mengunjungi pasar loak di Inggris. Jadi pada hari Minggu pertama, kami pergi ke sebuah car boot sale besar di Smithfield Market di Manchester.

Sudah lama sekali saya tidak mengunjungi tempat seperti itu di kota saya sendiri, jadi pengalaman ini terasa cukup menyenangkan. Pasarnya sangat beragam, di mana orang-orang dari berbagai negara menjual berbagai macam barang.

Hal yang paling menarik adalah kita bisa menawar harga, sesuatu yang tidak terlalu umum di Inggris. Kami menemukan sebuah kios yang menjual lampu kilat kamera. Awalnya harganya cukup mahal, jadi kami pergi dulu. Ketika kembali lagi, penjualnya menawarkan tiga lampu kilat seharga sepuluh pound.

Lampu-lampu itulah yang akhirnya kami gunakan dalam pertunjukan. Menarik juga melihat Kota Manchester dari sudut pandang Ikbal.

 

Ikbal (kiri) dan David (kanan) berkolaborasi dalam sebuah workshop untuk mengembangkan gitar yang menggunakan energi terbarukan. © 2025 Curious Ear x Ethnictro / British Council
Ikbal merakit instrumen bertenaga energi terbarukan dari material daur ulang. © 2025 Curious Ear x Ethnictro / British Council
David (kiri) dan Ikbal (kanan) mempresentasikan hasil eksperimen mereka kepada komunitas lokal. © 2025 Curious Ear x Ethnictro / British Council
Ikbal (kiri) dan David (kanan) mempresentasikan hasil eksperimen mereka kepada komunitas lokal. © 2025 Curious Ear x Ethnictro / British Council
David (kiri) dan Ikbal (kanan) berkolaborasi dalam lokakarya pengembangan gitar bertenaga energi terbarukan. © 2025 Curious Ear x Ethnictro / British Council

BC: Apa langkah selanjutnya? Apakah ada rencana kolaborasi baru? 

DB: Kami melihat tahap awal Circle of Power ini sebagai permulaan dari kolaborasi jangka panjang.

Selama dua minggu bekerja bersama, banyak kemungkinan baru yang muncul—baik untuk riset maupun pengembangan karya di masa depan. Salah satu ide yang kami diskusikan adalah mengembangkan proyek ini menjadi pertunjukan berdurasi panjang. Kami juga tertarik melanjutkan pengembangan proyek ini baik di Yogyakarta maupun di Inggris.

Menariknya, kami juga memiliki ketertarikan yang sama pada situs megalitik yang ada di Inggris dan Indonesia. Pada hari terakhir sebelum pulang, kami melakukan perjalanan riset ke dua pemakaman kuno di Wales Utara yang berusia sekitar 5.000 tahun. Pengalaman ini membuka kemungkinan ide baru untuk kolaborasi di masa depan.

BC: Bagaimana Anda pertama kali terhubung dengan kolaborator Anda?

DB: Kami sebenarnya sudah pernah terhubung sebelumnya secara daring saat bekerja bersama selama masa pandemi.

Ikbal merupakan bagian dari tim global yang membantu proyek saya, Noise Orchestra, untuk menguji sebuah perangkat keras yang memungkinkan musisi bermain bersama secara daring dengan kualitas audio yang sangat tinggi.

Beberapa tahun sebelumnya, teman-teman Ikbal juga pernah menghubungi organisasi saya, Curious Ear, untuk membicarakan kemungkinan mengadakan konser, meskipun rencana tersebut pada akhirnya tidak terlaksana. Ketika proyek pandemi dimulai, kami membutuhkan orang-orang dari berbagai belahan dunia untuk menguji perangkat tersebut pada jarak yang sangat jauh. Saya kemudian menghubungi sejumlah kolega di Indonesia, China, Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa termasuk Ikbal. Dari situlah kami mulai bekerja bersama, yang kemudian berkembang menjadi kolaborasi yang lebih mendalam melalui proyek ini.

BC: Bagaimana Anda membangun kepercayaan selama proyek berlangsung?

DB: Kami sebenarnya sudah cukup saling mengenal sebelumnya. Melalui pertemuan rutin selama proses persiapan proyek, kami semakin mengenal satu sama lain dan perlahan membangun kepercayaan.

Kami juga sama-sama terhubung dengan jaringan musisi internasional yang bergerak di bidang musik eksperimental dan improvisasi. Karena itu, meskipun sebelumnya kami belum pernah bekerja bersama secara langsung, sudah ada rasa saling percaya yang muncul dari komunitas yang sama.

BC: Bagaimana proses Anda dalam mengembangkan proyek dan menyiapkan proposal hibah?

DB: Kami memulai dengan serangkaian pertemuan daring untuk mendiskusikan ide proyek dan bagaimana cara mengembangkannya secara kolaboratif, sambil saling memahami perspektif masing-masing.

Pertemuan tersebut berlangsung selama sekitar satu hingga dua bulan, memberi kami waktu untuk memikirkan dan mengembangkan gagasan yang muncul. Secara keseluruhan, proses ini terasa cukup menyenangkan dan relatif lancar.

Tantangan terbesar adalah menyesuaikan waktu pertemuan karena perbedaan zona waktu, apalagi kami berdua juga memiliki anak. Proposal hibah dan anggaran proyek kemudian saya susun dengan bantuan Aii dari Ethnictro, yang turut memberikan masukan dan ide selama proses tersebut.