Pada 2025, musisi sekaligus peneliti David Birchall bekerja sama dengan seniman asal Indonesia, Ikbal Lubys, mengembangkan proyek Circle of Power. Proyek ini mencoba menjawab satu pertanyaan sederhana namun menarik: apakah sebuah pertunjukan musik dapat sekaligus menghasilkan energi?
Bekerja bersama di Manchester, keduanya bereksperimen mengubah gerakan mekanis seperti sentuhan, getaran, atau putaran menjadi energi listrik dalam jumlah kecil yang dapat digunakan dalam konteks pertunjukan langsung.
Selama dua minggu di studio, mereka menggabungkan berbagai pendekatan teknis. Ikbal memperkenalkan ide menggunakan dinamo sepeda untuk menghasilkan energi saat gitar dimainkan. Sementara itu, David bereksperimen dengan piezo transducer, perangkat yang dapat menghasilkan tegangan listrik dari getaran dan sentuhan.
Mereka juga menemukan bahwa motor kecil yang dipasang pada gitar dapat menghasilkan listrik ketika diputar secara manual.
Melalui serangkaian eksperimen elektronik, berbagai sumber energi ini kemudian diuji untuk melihat apakah dapat digunakan untuk mengisi baterai dan menyalakan elemen-elemen dalam sebuah pertunjukan. Hasil eksplorasi tersebut kemudian dirangkai menjadi sebuah pertunjukan yang menggabungkan suara, elektronik, dan eksperimen pencahayaan yang dipresentasikan kepada publik di akhir proyek.
British Council berbincang dengan David dan Ikbal tentang kolaborasi mereka, tantangan yang dihadapi, dan prospek ke depan dari proyek ini.
BC (British Council) :Bagaimana proyek ini berjalan dan bagaimana kolaborasinya berkembang?
David Birchall (DB): Proyek ini berjalan sangat baik. Awalnya kami mengembangkan ide masing-masing di negara kami sebelum bertemu langsung. Ide-ide tersebut kemudian menjadi titik awal ketika kami mulai bekerja bersama di studio.
Minggu pertama diisi dengan banyak eksperimen elektronik, seperti membangun perangkat, menguji berbagai konsep, dan mencari cara agar ide-ide tersebut bisa benar-benar berfungsi.
Kami menemukan bahwa penggunaan dinamo sepeda sebagai sumber energi saat bermain musik dapat bekerja cukup stabil. Begitu juga dengan eksperimen menggunakan piezo transducer yang menghasilkan tegangan kecil melalui sentuhan.
Kami bahkan menemukan bahwa motor kecil yang dipasang pada gitar bisa menghasilkan listrik ketika diputar terbalik. Dari situ kami mencoba berbagai cara untuk menyimpan energi tersebut ke dalam baterai.
Pada minggu kedua, fokus kami beralih pada bagaimana ide-ide ini bisa diterjemahkan menjadi sebuah pertunjukan. Kami menggabungkan eksperimen suara, elektronik, dan cahaya menjadi sebuah karya yang akhirnya dipresentasikan kepada penonton pada hari terakhir proyek. Respons yang kami terima sangat positif.
BC: Apa pesan utama atau pemahaman baru yang Anda dapatkan dari proyek ini?
DB: Salah satu pengalaman paling berkesan bagi saya adalah menyambut kolaborator yang datang ke kota saya, Manchester. Kehadiran Ikbal justru membuat saya melihat kota, komunitas, dan rekan-rekan saya dari sudut pandang yang berbeda.
Kami menemukan banyak kesamaan dalam cara berpikir dan minat baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari. Di saat yang sama, perbedaan latar belakang budaya kami juga membuat proses kolaborasi ini terasa semakin menarik.
Saya rasa Ikbal juga merasakan hal yang sama: bertemu orang-orang baru dan membangun koneksi baru selama proyek ini berlangsung.
BC: Apakah ada perubahan atau tantangan selama proyek berlangsung?
DB: Tantangan utama kami adalah keterbatasan waktu. Beberapa ide yang kami kembangkan sebenarnya membutuhkan waktu yang jauh lebih lama.
Salah satu fokus kami adalah merancang rangkaian elektronik yang bisa menyimpan energi yang dihasilkan saat gitar dimainkan. Dinamo, motor kecil, dan perangkat piezo memang dapat menghasilkan energi, tetapi kami ingin memastikan energi tersebut bisa digunakan secara efektif untuk mengisi baterai.
Menjelang akhir minggu kedua, kami sadar bahwa eksperimen ini masih bisa dikembangkan lebih jauh. Namun kami harus menghentikannya sementara agar masih ada waktu menyiapkan pertunjukan.
Ada juga momen yang cukup menegangkan sebelum proyek dimulai. Saat tiba di Bandara Manchester, Ikbal menemukan bahwa tanggal pada visanya salah. Setelah beberapa jam yang cukup menegangkan, masalah tersebut akhirnya bisa diselesaikan dan ia diizinkan masuk ke Inggris.
BC: Ceritakan satu momen atau pengalaman yang paling berkesan selama perjalanan proyek ini.
DB: Ikbal sangat ingin mengunjungi pasar loak di Inggris. Jadi pada hari Minggu pertama, kami pergi ke sebuah car boot sale besar di Smithfield Market di Manchester.
Sudah lama sekali saya tidak mengunjungi tempat seperti itu di kota saya sendiri, jadi pengalaman ini terasa cukup menyenangkan. Pasarnya sangat beragam, di mana orang-orang dari berbagai negara menjual berbagai macam barang.
Hal yang paling menarik adalah kita bisa menawar harga, sesuatu yang tidak terlalu umum di Inggris. Kami menemukan sebuah kios yang menjual lampu kilat kamera. Awalnya harganya cukup mahal, jadi kami pergi dulu. Ketika kembali lagi, penjualnya menawarkan tiga lampu kilat seharga sepuluh pound.
Lampu-lampu itulah yang akhirnya kami gunakan dalam pertunjukan. Menarik juga melihat Kota Manchester dari sudut pandang Ikbal.