By Azhar Farizdaffa Risqullah, Editor dan Penerjemah

13 August 2026 - 12:17

Patanjala assembly. © 2025 Void Art Centre / British Council

Pada Agustus 2025, dua anggota tim void Art Centre bersama seniman Joey O'Gorman melakukan perjalanan dari kota Derry, Irlandia Utara ke Indonesia untuk mengunjungi Jatiwangi Art Factory (JAF). Selama dua minggu, mereka tinggal dan berinteraksi oleh para kolektif JAF di Majelengka.

Sebelumnya, pertemuan dengan Ghorie dan Pandu dari JAF telah dilakukan secara daring. Dalam percakapan tersebut, kedua organisasi saling berbagi ketertarikan dalam berbagai hal. Mulai dari praktik kolektif dalam berkarya, fenomena 'accidental business', hingga isu keadilan atas tanah dan kerajinan lokal. Dibalik diskusi-diskusi itu, satu hal yang selalu muncul adalah pentingnya persahabatan dalam membangun ekosistem kerja dan keterlibatan masyarakat sipil dalam komunitas masing-masing.

Menyusuri industri dan acara kolektif

Selama berada di Majalengka, tim Void melakukan perjalanan ke berbagai tempat untuk bertemu petani, pengolah hasil bumi dan produsen lokal. Kunjungan ini memiliki perspektif luas tentang wilayang yang berkembang di daerah tersebut.

Salah satu pengalaman adalah mengunjungi perkebunan cengkeh, di mana mereka mempelajari proses panen hingga pengolahan bunga cengkeh, termasuk pembuatan kopi dan minyak cengkeh. Mereka juga mengunjungi Kopi Liberikaku, sebuah kebun kopi kecil yang menanam dan memanggang kopi liberika, jenis kopi yang jarang ditemukan baik di Irlandia maupun Indonesia.

Selain itu, mereka bertemu dengan para petani gula aren yang masih memproduksinya dengan cara tradisional. Dari setiap kunjungan tersebut, tim Void membawa pulang produk lokal, sekaligus membawa ketertarikan baru terhadap praktik dan perdagangan.

Pertemuan dan acara kolektif

Selama kunjungan ke Indonesia, dua kegiatan telah diselenggarakan bersama JAF. Acara pertama adalah Roti Irlandia, yang berlangsung di Roti Wangi dan acara kedua adalah Farmusaji, sebuah pertemuan yang melibatkan JAF, Void Art Centre, dan Roem Institute.

Roti Irlandia merupakan acara berbagi pengetahuan yang menjadikan persahabatan sebagai dasar untuk menguji ide dan bekerja secara kolektif. Dalam kegiatan ini, peserta bersama-sama memasak berbagai resep lokal, seperti Irish Soda Bread, Scallion Pancakes, dan Sambal Indonesia. Proses memasak juga dilakukan secara kolektif sebagai cara untuk menempatkan pengetahuan dalam praktik bersama.

Sementara itu farmusaji menjadi kesempatan untuk bertemu langsung dengan petani dan produsen lokal yang telah bekerja sama di JaF. Di Void Art Center, terdapat pendekatan yang disebut dengan Mapping in Public, berbagi proses kerja secara terbuka dengan komunitas lokal.

Pertemuan ini terasa sejalan dengan pendekatan tersebut, karena melalui pendekatan JaF, tim Void dapat memahami lebih jauh ekosistem komunitas serta peran sipil yang dijalankan secara kolektif tersebut.

Praktik Tanah dan Keberlanjutan

Selain mempelajari industri lokal, tim Void juga tertarik memahami pendekatan JaF terhadap praktik pengelolaan lahan dan keberlanjutan lingkungan. Hal ini menjadi fokus utama bagi Joey O'Gorman, seniman yang turut serta dalam perjalanan ini.

Joey dipilih dari lima praktisi yang bekerja di bidang keberlanjutan, ekologi, dan praktik lingkungan. Ketertarikannya pada kolaborasi manusia dan non-manusia, serta praktik pertanian regeneratif, membuatnya sejalan dengan eksperimen lintas disiplin yang dijalankan oleh JaF.

Salah satu proyek yang menyita perhatian adalah Perhutana, sebuah inisiatif kehutanan sosial yang bertujuan merebut kembali lahan seluas delapan hektar dari potensi pembangunan industri dan mengubahnya menjadi hutan yang dimiliki dan dikelola secara kolektif.

Dalam diskusi tentang keadilan lingkungan, tim Void juga diperkenalkan pada konsep Patanjala, sebuah metode perencanaan wilayah yang diwariskan dari leluhur masyarakat Sunda dan berbasis pada sistem daerah aliran sungai.

Tim Void sempat menghadiri forum Patanjala Town Hall dan mengaitkan gagasan tersebut dengan isu lingkungan Irlandia, seperti ancaman penambangan emas di kawasan pegunungan Sperrin.

Menolak Ekstraksi Industri Berskala Besar

Percakapan selama kunjungan juga sering mengarah pada pertanyaan tentang bagaimana membuat praktik kerja yang lebih berkelanjutan dan transparan bagi komunitas yang terlibat.

Sejak hari pertama di JaF, tim Void telah diperkenalkan pada isu besar yang dihadapi wilayah tersebut, yaitu rencana pembangunan pabrik oleh perusahaan multinasional berskala besar.

Kehadiran industri semacam ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada keberlangsungan kerajinan dan industri lokal.

Salah satu contohnya adalah industri genteng tanah liat. Jatiwangi dikenal sebagai salah satu daerah penghasil genteng terbesar di Asia Tenggara. Namun, generasi muda kini lebih tertarik bekerja di pabrik besar seperti Nike daripada melanjutkan tradisi membuat genteng secara manual.

Sebagai respons terhadap situasi ini, JaF setiap tahun menyelenggarakan Jatiwangi Cup, sebuah kompetisi binaraga yang diikuti para pekerja pabrik genteng. Tim Void bahkan berkesempatan tidak hanya menyaksikan acara ini, tetapi juga diundang menjadi juri.

Pengalaman tersebut terasa dekat dengan kondisi di kota Derry, yang juga mengalami fenomena brain drain, yaitu banyak anak muda yang meninggalkan kota untuk bekerja di kota besar. Derry sendiri dahulu memiliki industri pembuatan kemeja yang sangat penting, namun kini telah menghilang akibat dominasi produksi massal.

Roem Institute. © 2025 Void Art Centre / British Council
Parhutana. © 2025 Void Art Centre / British Council

Belajar dari Model Residensi

Di Void Art Centre, tim telah lama bereksperimen dengan program residensi seniman untuk memahami praktik terbaik dalam mendukung seniman yang tinggal sementara di Derry.

Pengalaman bersama JaF memberikan perspektif baru tentang pendekatan residensi. Salah satu hal yang sering dibicarakan di Void adalah pekerja yang dilibatkan dalam residensi, yang mana menjadi tuan rumah yang baik dan komitmen yang dibutuhkan bagi seniman residensi.

Di banyak tempat kerja di dunia Barat, jam kerja cenderung kaku, biasanya dimulai pukul 10 pagi dan berakhir pukul 5 sore. Model ini seringkali berbenturan dengan ritme kerja residensi yang lebih fleksibel.

Karena itu, pengalaman bersama JaF terasa menyegarkan. Alih-alih mengikuti jadwal yang kaku, tim JaF mengajak tamu residensi menghadiri berbagai pertemuan, acara, hingga makan malam di rumah teman.

Melalui cara ini, tim Void merasa tidak hanya bertemu dengan sebuah organisasi, tetapi juga dengan jejaring luas orang-orang yang membentuk ekosistem JaF.

Melanjutkan Kolaborasi

Waktu yang dihabiskan bersama JaF membuka ruang untuk saling berbagi pendekatan mengenai tata kelola organisasi, hubungan dengan audiens lokal, serta praktik keberlanjutan dalam lingkungan kerja.

Pertukaran ini juga memperkaya cara kedua organisasi memandang kerja kolektif dan keterlibatan komunitas.

Void Art Centre berharap dapat melanjutkan kolaborasi ini di masa depan, membangun percakapan yang telah dimulai, sekaligus menerapkan berbagai pembelajaran tersebut dalam praktik kerja tim mereka di Derry.