By Shakia Stewart, Manajer Konten Digital, British Council

28 November 2016 - 20:42

Pengunjung Digital Design Weekend dengan rompi 'Sentiment'
"Seperti realitas virtual tapi dengan suara, bukan visual." – Diane Wiltshire.

Diane Wiltshire adalah seniman yang sedang melakukan residensi di Nottingham dan juga anggota dari Birmingham Open Media (BOM), sebuah organisasi sains, teknologi, dan seni. Sebagai bagian dari Digital Design Weekend, Diane mempertunjukkan eksperimen karya interaktif-nya, Sentiment, yang berbentuk rompi namun dirancang khusus untuk digunakan bersamaan dengan headphone kedap suara. Pengunjung akan diajak mengelilingi area Kafe Aroma Nusantara di Kota Tua dan suara-suara berbeda dengan beragam cerita yang berbeda dari orang-orang di sekitar akan menjadi pemantik dari  karya ini. Tidak hanya mendengarkan cerita tersebut kata per kata, karya ini memungkinkan penggunanya untuk merasakan emosi dari orang-orang yang bercerita melalui getaran yang menyentuh tubuh pengunjung melalui rompi. 

Proyek ini pertama kali dimulai di tahun 2013, setelah Diane mengumpulkan berbagai cerita dari beberapa individu yang dipilihnya. “Saya memilih peserta saya dengan sangat hati-hati. Saya berbincang dengan orang yang pernah bertugas di Afghanistan, yang pernah terkena bom dan kemudian pulih kembali. Saya juga berbincang dengan biksu Buddha, tinggal dan mengikuti pelancong-pelancong New Age, para transgender, filsuf, akademisis, dan seniman.” 

“Selamat saya mewancara orang orang ini, saya juga mengambil data Electro Dermal Activity (EDA) mereka – butiran keringat kecil yang menunjukkan keadaanmu. Saya punya data, saya punya wawancara dengan orang-orang ini, dan digabungkan hal tersebut memantik sebuah ‘sentimen’, sebuah emosi. Lalu saya berpikir, bagaimana cara saya bisa menggunakan data ini dengan lebih baik?”

Saat pewawancara mulai menanyakan tentang diri saya – contohnya, Bagaimana saya melihat diri saya? Bagaimana orang lain menilai saya? – itu sangat menyentuh sisi emosional saya. Saya sedikit berpikir, 'Saya tidak pernah benar-benar tahu diri saya sendiri'. Saya merasa diajak mengenal diri sendiri dan bagaimana kehidupan saya sejauh ini. Saya rasa mengkomunikasikan hal hal seperti ini ke orang lain benar-benar membantu saya untuk introspeksi mengenai siapa saya sebagai manusia dan apa yang ingin saya raih."  – Pengunjung di Jakarta.

“Ketika kamu memikirkan bagaimana orang menggambarkan emosi mereka, bisasanya mereka akan bilang ‘Saya merasa seperti ada kupu-kupu di perut saya’ atau ‘bulu kuduk saya merinding’ – semuanya merupakan sensasi yang terjadi di tubuh. Jadi saya coba meriset tentang haptics (interaksi apapun yang melibatkan sentuhan), dan menerjemahkan data EDA yang saya ambil menjadi sebuah vibrasi, dan mencoba menaruh vibrasi itu di bagian-bagian tubuh yang berbeda. Saya kemudian muncul dengan ide rompi sebagai salah satu car terbaik, karena ada titik tekanan yang baik di area pundak dan juga di punggung bawah.”

Di Digital Design Weekend, pengunjung diajak untuk mencoba rompi dan berkeliling di area kafe. Tapi, Diane juga mengambil kesempatan untuk berbincang dengan pengunjung-pengunjung dari Indonesia untuk memonitor data EDA mereka. Jawaban dari pengunjung akan membantu proyek Diane yang selanjutnya yang berusaha mengeksplorasi bagaimana nada dan vibrasi dapat mempengaruhi emosi walaupun kita tidak mengerti bahasa tersebut. 

“Beberapa pertanyaan saya termasuk: Apakah menurutmu kehidupan ini memiliki arti? Apakah kamu merasa bagian dari masyarakat? Bagaimana seksualitasmu membentuk hidupmu? Jawaban-jawaban yang saya dapatkan kebanyakan sama – dan saya sangat senang dengan itu. Dari sisi sentimental, saya merasa ini adalah bukti bahwa manusia dimanapun memiliki nilai kemanusiaan yang sama. Saya tahu kalau saya berkesempatan ke Asia pasti saya akan menanyakan hal-hal ini, jadi saya sangat senang ketika diundang oleh British Council untuk datang ke Indonesia.”

“Banyak yang bilang ke saya bahwa kemungkinan besar orang-orang Indonesia akan malu menjawab hal ini, bahkan mungkin tidak mau menjawab. Tapi ternyata tidak – mereka sangat terbuka dan jujur dan saya sangat mengapresiasi itu. Saya tidak sabar memasukkan suara-suara jujur tersebut ke Sentiment.”

Alat untuk mengukur Electro Dermal Activity
Diane mengumpulkan data EDA (Electro Dermal Activity) menggunakan metode wawancara.
Perempuan-perempuan muda Indonesia menjawab pertanyaan dari kartu pos BOM
BOM - Kami berharap perempuan-perempuan di Indonesia dapat membuka diri terhadap kami dan berbagi cerita mengenai perempuan Indonesia. 

Perempuan di dunia teknologi kreatif

Sebagai bagian dari UK/Indonesia 2016 Festival, BOM juga bekerjasama dengan kolektif seni, sains, dan teknologi dari Yogyakarta – Lifepatch – untuk berusaha memahami tantangan dan kesempatan bagi perempuan – perempuan di Indonesia, dan bagaimana hal ini mempengaruhi kemampuan perempuan untuk mencari pekerjaan yang benar-benar menginspirasi mereka. 

Louise dari BOM juga menyuarakan pendapatnya,”Sebagai organisasi kami sangat tertarik untuk mengetahui tentang perempuan di Indonesia – apa yang mereka inginkan, apa yang mereka butuhkan, bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan di Indonesia. Kami bekerjasama dengan British Council untuk mencoba mendukung perempuan agar lebih banyak terjun ke dunia teknologi kreatif. Jadi, untuk melakukan itu secara baik dan benar, kami harus mengerti bagaimana rasanya menjadi perempuan di Indonesia. Kami berharap orang-orang dapat membuka diri kepada kami dan memberitahu kami pengalaman mereka sebagai perempuan Indonesia.”

Cerita lain dari Digital Design Weekend