By Shakia Stewart, Manajer Konten Digital, British Council

26 November 2016 - 00:06

Raja (kanan) berpose dengan salah satu drone berbentuk pesawatnya yang dibuat menggunakan polystyrene.
Raja (kanan) berpose dengan salah satu drone berbentuk pesawatnya yang dibuat menggunakan polystyrene. 

Tahukah Anda? Di Indonesia, 140 hektar lahan menghilang hampir setiap menit karena perkebunan kelapa sawit dan pertambangan. Tingkat penggundulan hutan di Indonesia adalah yang tertinggi di dunia menurut riset dari ahli ekologi politik, Raja. 

Di Digital Design Weekend, Raja mendemonstrasikan dan membicarakan mengenai penggunaan drones kepada sekelompok remaja-remaja penasaran. Raja sendiri menyatakan dia tidak mau menyalahkan siapapun mengenai masalah ekologi ini. “Saya berusaha memahami apa yang menyebabkan perubahan lingkungan ini. Dan seperti yang mungkin orang-orang bisa prediksi, kelompok yang paling mungkin terkena kerugian dari hal ini adalah penduduk lokal – teman sebangsa kita sendiri.”

Raja melakukan penelitian terhadap sungai yang terletak di Kalimantan Barat di mana ada kebutuhan mengenai peta. 

“Sudah lama sekali peta resmi selalu dibuat oleh pemerintah atau perusahaan swasta, jadi pembangunan di Indonesia itu dilakukan dengan pendekatan hulu ke hilir. Ada banyak konflik yang menyebabkan banyak nyawa hilang begitu saja karena perebutan tanah dan lahan di Indonesia.” 

Proyek drone dari Raja berangkat dari ide yang sangat sederhana – kalau Raja bisa membekali masyarakat lokal dengan pengetahuan dan kemampuan untuk mengambil dan mengolah data mengenai lahan di sekitar mereka, ia percaya bahwa pembangunan dapat mengarah ke arah yang lebih baik dan berkemanusiaan. Tidak hanya di Indonesia tapi juga di belahan dunia lainnya. Jadi menurut Raja, peta adalah kuncinya. 

Membuat peta menggunakan drones

Ada banyak gambar-gambar satelit yang sudah kadaluarsa dan banyak detail baru yang tidak terlihat kecuali sungai itu sendiri. Batas lahan dari kebanyakan masyarakat lokal tidak cuma didasari oleh sungai-sungai tapi juga pohon dan fitur-fitur lain yang tidak dapat dilihat secara mudah kalau gambar tidak diperbesar. 

Raja pertama kali mendengar bahwa drones digunakan oleh tentara-tentara di Afghanistan dan Pakistan.

“Saya waktu itu berpikir, kalau orang lain bisa membuat sesuatu terbang – kenapa saya tidak bisa? Jadi saya coba belajar dari sekolah terbaik yang ada di dunia, YouTube! Berhari-hari saya riset sendiri di YouTube sebelum akhirnya membuat drone pertama saya. 

Lalu kemudian saya utak-atik drone tersebut, saya tambahkan kamera dan beberapa fitur supaya drone ini bisa mengambil foto dalam interval-interval tertentu secara terus menerus.”

Raja sudah berhasil membuat drone berbentuk helikopter dan pesawat. Kedua drone ini terbang mengikuti jalur yang sudah diatur melalui piranti lunak yang terhubung melalui laptop atau tablet. Dalam kurun waktu 15 menit sudah bisa dilihat foto-foto yang diambil oleh drone ini yang memberikan foto dengan tingkat akurasi tinggi untuk peta. Satu penerbangan drone bisa mengambil foto sampai dengan jangkauan 50 – 100 hektar. Itu sama seperti 100 lapangan sepak bola dalam satu kali terbang! Kalau Raja berhasil membuat drone pesawat-nya untuk terbang selama 2 – 3 jam, ia bisa mendapatkan data yang cukup untuk 3000 hektar lahan. 

Anak-anak melihat detil mekanik dari drone berbentuk helikopter.
Melihat detil mekanik dari drone berbentuk helikopter. 
Raja menunjukkan video bagaimana teknologi drone digunakan di Kalimanta ke pada remaja-remaja yang mengelilingnya.
Raja menunjukkan video bagaimana teknologi drone digunakan di Kalimanta ke pada remaja-remaja yang mengelilingnya.

Teknologi sebagai katalis perubahan sosial

“Bayangkan kalau teknologi ini digunakan oleh komunitas-komunitas di banyak tempat, ini memberikan kekuatan bagi mereka untuk melawan apabila lahan mereka akan direbut, tapi melawan dengan baik, melawan dengan data yang valid – data yang jauh lebih baik dari yang dimiliki oleh pemerintah!"

Teknologi dan drone sendiri cuma sekedar alat untuk Raja. Hal yang lebih penting buat Raja adalah dampak sosial dari alat ini. Drone ini semacam pembantu saja untuk kemanusiaan. Keputusan kemana dan kapan drones ini harus diterbangkan bukan jadi keputusan satu orang saja, tapi keputusan dari komunitas secara kolektif. Komunitas harus setuju area mana saja yang ingin didata lalu teknologi yang memfasilitasi. 

Memberikan anak-anak muda kesempatan untuk mengeksplorasi teknologi sebagai katalis perubahan sosial.

“Saya senang sekali memantik diskusi dengan pikiran-pikiran anak muda yang masih segar dan inovatif. Di Digital Design Weekend di Jakarta, saya memberitahu anak-anak ini bagaimana cara menggunakan drones, cara membuatnya, dan akan digunakan untuk apa drones ini. Membuat ini sebenarnya mudah, sangat mudah malah, tapi saya coba memancing mereka untuk coba melihat permasalahan di sekitar mereka, apa yang dibutuhkan oleh kota mereka, dan menggunakan kekuatan dari teknologi untuk membawa perubahan sosial yang positif. Itulah kenapa mereka sangat bersemangat dan tertarik, jadi semuanya mendaftar untuk akademi drone saya, mereka senang dengan apa yang mereka pelajari hari ini.”

Cerita lain dari Digital Design Weekend